Batik Balitar Terus Memancar

Sejak 2015, dibentuk Asosiasi Batik Blitar Asli (Ababil). Asosiasi didirikan untuk mengembangkan batik khas Blitar. (Terakota/Balqis TC).

Reporter : Balqis T C

Terakota.id-Lembaran kain batik aneka warna, cerah dan menarik bergelantung di rak. Kain batik dipajang, dipamerkan sebagai etalase. Batik Balitar khas Blitar digagas Nanang Pramdi, sejak 2007. Usai mengikuti pelatihan membatik di Yogyakarta.

Rumah Nanang di Jalan Kopda Ramli RT 02 RW 03 Ngegong, Gedog-Sananwetan, Kota Blitar menjadi galeri sekaligus ruang pamer. Para pengunjung bisa membeli langsung atau memesan dengan motif sesuai selera. Juga tersedia penjualan secara daring.

Dalam membatik, Nanang menggunakan beberapa teknik. Meliputi teknik batik tulis yakni menorehkan lilin cair menggunakan canting. Serta teknik cap, yakni menggunakan cap dengan  motif tertentu dicelupkan ke dalam lilin cair lalu ditempelkan ke kain. Atau teknik campuran dengan memadukan teknik tulis dan cap dalam satu lembar kain.

Batik Balitar memiliki ciri khas warna yang cerah, perpaduan variasi warna. Mulai warna merah, biru, variasi hijau, variasi ungu, varisai kuning. Bahkan sebagian kain batik memadukan dua sampai lima warna dalam satu lembar kain. Proses pewarnaan ini lebih efektif menggunakan teknik colet atau remasol.

“Selain lebih murah juga efektif untuk produksi warna cerah yang beragam,” kata Nanang.

Kain batik Balitar memiliki kesan hombre, dengan gradiasi warna yang berbeda. Batik warna cerah, popular di daerah pesisir dan Madura. (Terakota/Balqis TC).

Teknik colet, berbeda dengan celup. Kain yang telah dilapisi malam diolesi atau dilukis dengan pewarna remasol dengan warna tertentu. Proses pewarnaan ini menggunakan kuas. Dalam pewarnaan, dibutuhkan beberapa kali pengolesan. Teknik colet lebih mudah, namun jarang diterapkan perajin batik skala rumahan.

Kain batik Balitar memiliki kesan hombre, dengan gradiasi warna yang berbeda. Batik warna cerah, popular di daerah pesisir dan Madura. Warna kain batik yang cerah menarik minat pembeli di Jawa Timur. Sedangkan warna sogan atau coklat khas kain batik Solo dan Yogyakarta tak terlalu diminati masyarakat Jawa Timur.

Sedangkan motif, batik Balitar menggunakan beberapa motif untuk merepresentasikan Blitar. Seperti motif ikan koi yang memiliki latar belakang dan filosofi tersendiri. “Bung Karno membawa bibit ikan koi langsung dari Jepang. Blitar menjadi tempat pemijahan ikan koi pertama di Indonesia,” katanya,

Sehingga ikan koi menjadi salah satu ikon Blitar. Sedangkan motif bintang Pancasila terinspirasi dari Grebek Pancasila. Sebuah acara tahunan di Blitar untuk merayakan hari kelahiran Pancasila. Serta motif bunga sepatu, belimbing Karangsari, yoyo, kendang dan motif flora lain.

Perajin Batik di Blitar Terus Berkembang

Kini, perajin batik terus tumbuh dan berkembang di Blitar. Sejak 2015, dibentuk Asosiasi Batik Blitar Asli (Ababil). Asosiasi didirikan untuk mengembangkan batik khas Blitar. Serta memberikan kesempatan masyarakat untuk berlatih membatik sejak dini.

Kini, bermunculan perajin  batik skala kecil. Asosisasi sekaligus menjadi wadah perajin untuk berbagi ilmu, mengurus hak cipta atau paten, dan menjaga harga batik agar tetap stabil. Perajin batik yang tergabung dalam Ababil antara lain batik Balitar, Baduta, Warna, Putri Ayu, De Java, Sawunggaling, dan Larasati.

Bersama Ababil, perajin bersinergi dan memudahkan perajin untuk mempromosikan dan memasarkan batik secara adil. “Ababil menetukan harga dasar penjualan kain batik Rp 150 ribu per lember,” katanya.

Harga dasar merupakan harga minimal penjualan di tingkat perajin. Harga kain batik ditentukan dengan jenis kain, pewarnaan, tingkat kesulitan dan motif. “Selembar kain batik bisa berharga jutaan rupiah untuk pesanan khusus. Motif terbatas,” kata Nanang.

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini