Bara di Cagar Biosfer Dunia, Tahura Raden Soerjo

bara-di-cagar-biosfer-dunia-tahura-raden-soerjo
Kepulan asap di kawasan Tahura Raden Soerjo akibat kebakaran hutan. (Foto :BPBD Kota Batu).

Terakota.id – Sebuah helikopter mondar-mandir di atas kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo terbakar. Helikopter membawa air untuk memadamkan api yang tengah membara membakar aneka jenis pepohonan di Tahura R Soerjo. Hampir sepekan hutan di R Soerjo terbakar.

Bara api sampai ahad ini belum berhasil dipadamkan sepenuhnya. Titik api terdapat di dalam area Gunung Arjuno serta Gunung Welirang. Kebakaran di Gunung Arjuno kali pertama diketahui pada Minggu, 28 Juli lalu.

Diperkirakan lebih dari 300 hektare hutan hangus terbakar. Sementara kobaran api di Gunung Welirang baru diketahui sehari kemudian dan ditaksir 200 hektare hutan dilahap api.

Kedua gunung itu merupakan bagian dari delapan gunung yang masuk dalam kawasan konservasi Tahura Raden Soerjo. Gunung Arjuno memiliki ketinggian 3.339 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sedangkan Gunung Welirang setinggi 3.156 mdpl. Secara administratif Tahura Raden Soerjo berada di empat Kabupaten/Kota meliputi Kota Batu, Kabupaten Malang, Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Mojokerto.

Enam gunung lainnya adalah, Gunung Anjasmoro 3.275 mdpl, Gunung Kembar II 3.256 mdpl, Gunung Kembar I 3.061 mdpl, Gunung Ringgit 2.474 mdpl, Gunung Argowayang 2.198 mdpl dan Gunung Gede 1.968 mdpl.

Luas kawasan Tahura Raden Soerjo sendiri mencapai 27.868,30 hektare. Memiliki keanekaragaman hayati. Karena itu pula, UNESCO pada 9 Juni 2015 di Paris, Perancis, menetapkan Tahura bersama Taman Nasional Bromo Tengger Semeru sebagai Cagar Biosfer Bromo Tengger Semeru Arjuno.

Berdasarkan buku profil terbitan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Tahura Raden Soerjo, kawasan ini memiliki berbagai potensi flora dan fauna. Untuk flora misalnya, ada tiga tipe vegetasi hutan yang kondisinya cukup baik.

Pertama, hutan alam cemara gunung (Casuarina junghuhniana Miq) di bagian atas Arjuno atau bisa disebut Lalijiwo. Tipe vegetasi kedua yaitu padang rumput seluas 200 hektare di bawah pondok Welirang. Area ini sekaligus jadi tempat breeding rusa. Ketiga, hutan hujan tengah atau hutan campuran.

Di kawasan Tahura Raden Soerjo terdapat kurang lebih 100 spesies tumbuhan kelompok pohon, 21 spesies kelompok paku – pakuan, 14 spesies kelompok anggrek serta 41 jenis kelompok herba atau tanaman bawah atau semak.

Satwa berstatus dilindungi maupun tidak dilindungi juga masih bisa dijumpai. Mulai dari 43 spesies kelompok mamalia, 9 spesies kelompok aves dan 1 spesies kelompok reptil. Jenis satw liar langka itu seperti elang jawa, rusa sampai macan tutul.

bara-di-cagar-biosfer-dunia-tahura-raden-soerjo
Sebuah helikopter tengah mengambil air untuk memadamkan api yang membakar hutan Tahura Raden Soerjo. (Foto : BPBD Kota Batu)

Karena kanekaragaman hayati itu pula, kebakaran di Gunung Arjuno dan Welirang berpotensi menimbulkan kerugian yang tidak ternilai. Habitat satwa yang rusak itu berpeluang menyebabkan dampak susulan. Misalnya satwa pindah ke lokasi aman di kawasan hutan produksi atau bahkan turun ke permukiman warga.

Satwa rentan jadi sasaran perburuan ilegal bila sampai berpindah ke kawasan hutan produksi. Sebab kawasan itu lebih mudah dijangkau para pemburu liar. Termasuk bentrok dengan penduduk jika sampai turun ke permukiman.

“Semua potensi ancaman harus turut diperhitungkan,” kata Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Batu, Achmad Coirur Rochim.

Kepala UPT Tahura Raden Soerjo, Ahmad Wahyudi mengatakan, sejauh ini tidak ada temuan satwa yang terdampak dengan kebakaran hutan di Gunung Arjuno. Apalagi area yang terbakar ada di wilayah ketinggian lebih dari 2.000 mdpl,

“Tidak teridentifikasi ada pergerakan satwa. Area yang terbakar bukan habitat satwa jenis mamalia. Tapi petugas kami tetap patroli rutin seperti biasa,” tutur Wahyudi.

Selama sepekan kemarin, kebakaran di Gunung Arjuno sulit dipadamkan total. Bara api terus menyala, kembali membara bila angin bertiup kencang. Ditambah lagi titik area kebakaran berada di medan terjal dengan tingkat kemiringan lebih dari 60 derajat.

Tim gabungan pemadam kebakaran pada Sabtu, 3 Agutus 2019 mulai melakukan operasi pemadaman dari udara berupa water bombing atau bom air menggunakan helikopter. Namun operasi ini tidak bisa bekerja dengan maksimal. Sebab kabut yang tiba lebih cepat mengganggu operasi udara ini.

bara-di-cagar-biosfer-dunia-tahura-raden-soerjo
Kawasan Tahura Raden Soerjo yang hangus terbakar. (Foto : BPBD Kota Batu).

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, Suban Wahyudiono mengatakan, dengan operasi udara ini diharapkan bisa cepat memadamkan kebakaran di Gunung Arjuno.

“Tahura itu kan untuk konservasi, makanya harus segera diselesaikan,” kata Suban.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini