Bapak Kita Abraham, Pelopor Kehidupan Bersama yang Lebih Manusiawi

Oleh: Emanuel Gerrit Singgih*

Terakota.id–Dalam banyak buku tafsir konvensional dari pakar-pakar biblika Kristen, penaklukan bahkan pemusnahan bangsa-bangsa Kanaan oleh umat Israel di bawah pimpinan Yosua dalam kitab suci Perjanjian Lama diterima sebagai sesuatu yang niscaya. Baru akhir-akhir ini, oleh pembaca-pembaca Kristen Asia dan pribumi Amerika, konsekwensi etis dari teks-teks seperti ini mulai dibicarakan.

Demikian pula halnya dengan penghakiman terhadap mereka yang berorientasi homoseksual, lama dianggap sebagai sesuatu yang “Alkitabiah” dan tidak perlu dipersoalkan. Baru akhir-akhir ini juga, penghakiman ini mulai dipertanyakan, apakah memangnya “Alkitabiah” atau hanya prasangka saja. Dalam rangka memertimbangkan kembali kedua masalah ini, saya kembali membaca kisah Abram atau Abraham (nabi Ibrahim) di kitab Kejadian pasal 12-19, dan membagikan hasil pembacaan saya dalam dua bagian kepada semuanya saja, baik saudara-saudari Kristen maupun non-Kristen.

Mengapa Pohon Tarbantin di Mamre Sering Disebut?

Kisah panggilan Abram di pasal 12 pasti sudah diketahui, sehingga saya mengajak anda langsung melihat Kej. 12:6, “Abram berjalan melalui negeri itu sampai ke suatu tempat dekat Sikhem, yakni pohon tarbantin di More. Waktu itu orang Kanaan diam di negeri itu”. Mengapa perlu dikemukakan mengenai pohon tarbantin? Apakah itu sekadar untuk menandai tempat, sama seperti “Cemara Jajar” (jl. Monginsidi) di Yogya? Tuhan menampakkan diri kepadanya dan kemudian Abram mendirikan mezbah bagi Tuhan (Kej 12:7). Kalau orang mendirikan mezbah, maka itu berarti tempatnya bukan tempat sembarangan, melainkan tempat sakral atau keramat.

Kalau kita meloncat sedikit dan menengok ke Kejadian pasal 18, di situ dilaporkan bahwa Tuhan menampakkan diri lagi kepada Abram, dekat pohon tarbantin di Mamre (Kej. 18:1). Nama tempatnya memang berbeda: di Kej. 18 disebut Mamre, sedangkan di Kej. 12 disebut More. Apakah ada dua tempat yang memiliki pohon tarbantin? Mungkin hanya satu saja, yaitu di Mamre.

Ungkapan “pohon tarbantin di More” aslinya tidak menunjuk pada sebuah tempat yaitu More, melainkan berarti “pohon tarbantin yang menjadi tempat penampakan (Ibr: mor’eh) Yang Ilahi”, pohon tarbantin sakral, tetapi dalam sejarah pemaknaan teksnya, kata mor’eh sudah terlanjur dipahami sebagai menunjuk pada sebuah tempat, yaitu More. Untuk mudahnya, anggaplah bahwa Mamre dan More merupakan variasi dari nama tempat yang sama. Dalam pengisahan setelah pasal 12, tempat tinggal Abram satu saja, yaitu di pohon tarbantin di Mamre (lih. Kej. 13:18 dan Kej. 14:13. Di ayat terakhir ini Mamre malah nama orang yang memiliki pohon-pohon tarbantin tersebut. Di jaman dulu nama orang dan nama tempat bisa satu).

Dalam kisah mengenai Abram, penampakan Ilahi dihubungkan dengan pohon tarbantin. Pohon tarbantin itu apa sih? Dalam terjemahan-terjemahan Alkitab berbahasa Inggris disebut pohon “oak”, yaitu sejenis pohon besar yang batangnya besar kuat dan banyak cabang dengan dedaunan yang rimbun. Pohon oak dalam sejarah pra Kristen dari Eropa adalah pohon keramat yang sering menjadi tempat penampakan Yang Ilahi. Maka oleh penerjemah-penerjemah Eropa, nama pohon oak dirasa tepat. Dalam bahasa Ibrani pohon ini adalah Elyon. Nanti dalam pembahasan pasal 14 nama pohon ini akan dihubungkan dengan nama Yang Ilahi, tetapi dalam konteks ceritanya, Pohon Elyon ini adalah pohon sakral atau keramat yang menjadi andalan dari orang-orang Kanaan. Di Kej 12:6, dikatakan, “Waktu itu, orang Kanaan diam di negeri itu”. Nah, di sini sang pengisah (narator) menjelaskan pada pendengar atau pembacanya (pada jaman yang berbeda dari jaman Abram), bahwa di jaman Abram merantau ke Sikhem, orang Kanaan berdiam di situ. Tentu saja di jaman pengisah dan pendengar atau pembacanya, sudah tidak ada lagi orang Kanaan di situ.

Yang menarik dari tuturan sang pengisah adalah bahwa ketika Abram merantau dan sampai di Kanaan, dia tidak melecehkan budaya, adat-istiadat dan agama orang Kanaan. Dia berteman dengan Mamre, yang dikatakan memiliki pohon-pohon tarbantin. Saya menafsirkan Mamre itu bukan sebagai betul-betul pemilik dari pohon-pohon tarbantin, melainkan adalah penjaga atau pengawal tempat keramat, atau seperti istilah yang sering kita dengar di Yogya, “juru kunci”.

Abram tidak menebang pohon-pohon tarbantin yang dianggap keramat oleh orang Kanaan, malah tinggal di situ. Allah Abram juga tidak digambarkan murka terhadap tempat-tempat keramat ini, malah tempat-tempat itu “dimanfaatkan” untuk menjadi tempat penampakan Tuhan kepada Abram, seperti telah kita lihat di atas. Di Kej. 18:1, Tuhan menampakkan diri kepada Abraham dekat pohon-pohon keramat di Mamre. Abraham dikatakan sedang duduk ngantuk-ngantuk di pintu kemahnya pada waktu panas terik. Ketika dia mengangkat kepalanya, dia melihat tiga orang berdiri di depannya. Meski pun yang nampak itu orang biasa, Abraham tahu bahwa itu Tuhan dengan dua pengawalnya, karena itu dia sujud sampai ke tanah (ayat 2).

Di Kej. 14 kita membaca bahwa terjadi peperangan di antara raja-raja Kanaan. Kota Sodom dan Gomora dikuasai oleh musuh yang dipimpin oleh raja Kedorlaomer, sedangkan raja Sodom melarikan diri. Lot, kemenakan Abram yang tinggal di Sodom, ikut tertawan bersama penduduk Sodom lainnya. Abram yang tinggal dekat pohon-pohon tarbantin (Kej. 14:13) yang mendengar kekalahan Sodom dan kemenakannya ditawan musuh, mengorganisir pasukan untuk membebaskan Sodom dan Lot, dan dia berhasil. Meski pun pasukan Abram cuma berjumlah 318 orang, raja Kedorlaomer kalah dan meninggalkan Sodom. Ketika Abram kembali dari mengalahkan Kedorlaomer, raja Sodom menyongsong dia di Lembah Syawe, yaitu Lembah Raja (Kej 14:17). (Episode mengenai pertolongan kepada raja Sodom ini penting untuk mengetahui alasan, mengapa Tuhan berkonsultasi dengan Abraham akan halnya masa depan Sodom di Kej. 18:17-21).

Tetapi di ayat 18-20, seorang raja lain, yaitu raja Salem yang bernama Melkisedek juga datang, namun membawa roti dan anggur, tentunya sebagai refreshment tetapi juga simbolik sebagai tanda penerimaan dan sanjungan terhadap kemenangan Abram. Narator menyebut dia sebagai “seorang imam Allah yang Mahatinggi”. Berarti Melkisedek adalah sekaligus raja dan imam. Cuma masalahnya, jabatan imam baru diadakan oleh Gusti Allah melalui Musa di padang gurun, jauh sekali dari jaman Abram, dan hal itu dapat kita baca di kitab Keluaran pasal 28-29 dan kitab Imamat pasal 8. Berarti Melkisedek bukan imam melalui garis keturunan Harun. Dia imam tersendiri dari ibadah dan agama tersendiri di Kanaan. Kesenjangan inilah yang membuat penulis surat Ibrani di Perjanjian Baru menginterpretasikan kembali Melkisedek sebagai bayangan dari Kristus, yang adalah imam tetapi bukan melalui garis keturunan Harun melainkan menurut garis keturunan Melkisedek (Ibr. 7:1-3).

Tetapi biarlah kali ini kita tidak membaca kisah Abram dan Melkisedek melalui kaca mata surat Ibrani dari Perjanjian Baru, dan melihat konteksnya seperti yang digambarkan oleh narator atau sang pengisah, yaitu sikon ketika Abram baru saja masuk ke tanah Kanaan. Melkisedek adalah raja Salem. Bunyi nama kota ini memang mirip-mirip Yerusalem, jadi tidak mengherankan bahwa banyak orang yang menghubungkannya dengan nama kota Yerusalem. Artinya di kemudian hari, kota Salem berkembang menjadi kota Yerusalem. Semua orang tahu bahwa raja Daud di kemudian hari merebut Yerusalem dari tangan orang Yebusi. Orang Yebusi memiliki agama dan ibadah tersendiri dan punya imamat tersendiri juga, yang dapat diusut dari kisah Melkisedek di atas.

Nah, menurut para arkeolog, raja Daud tidak menghapus melainkan menggabungkan imamat Harun yang melayani Tuhan, Allah Israel dengan imamat orang Yebusi, yang melayani Yang Ilahi sesembahan mereka, yaitu Elyon. Di atas kita telah melihat bahwa nama pohon tarbantin dalam bahasa Ibrani adalah elyon. Ada hubungan langsung di antara tokoh Ilahi Kanaan, Elyon, dengan pohon elyon. Cuma saja pohon elyon huruf pertamanya menggunakan “alef(א)”, sedangkan huruf pertama dari Elyon menggunakan “ayin(ע)”. Sejak itu Allah Israel juga dikenal atau disapa sebagai El Elyon, “Allah yang Mahatinggi” (Contohnya di kitab Mazmur pasal 83:19; 87:5; 91:1; 92:2). Karena sekarang kita membaca teks sebagai “Allah yang Mahatinggi”, kita memahami “yang Mahatinggi” sebagai atribut atau sifat dari Allah, padahal sebenarnya frasa itu aslinya menunjuk pada salah satu dari tokoh-tokoh Ilahi di lingkungan Kanaan.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini