Bank Sampah untuk Menjaga Lingkungan

TPST-3R Basama Bandungrejosari bekerja sama dengan Yayasan Insan Lestari Indonesia meluncurkan Bank Sampah Indah Lestari. (Terakota/ Eko Widianto).
Iklan terakota

Terakota.ID-Mengendalikan timbulan sampah di Kelurahan Bandungrejosari, Sukun, Kota Malang Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu Reduce, Reuse, Recycle (TPST-3R) Basama meluncurkan Bank Sampah Indah Lestari (BSIL) pada Sabtu, 1 Juni 2024. TPS-3R dibangun sejak delapan tahun lalu, melayani sebanyak 1.200 keluarga dengan volume timbulan sampah mencapai 2 ton sampai 2,5 ton per hari.

Sedangkan potensinya cukup besar yang belum semua terlayani. Jumlah keluarga di Kelurahan Bandungrejosari mencapai 10 ribu keluarga. TPST-3R Basama mempekerjakan 13 orang, terbagi atas pekerja di bagian angkutan, pemilahan, gudang dan komposting. Para pekerja terdiri atas warga setempat. TPST dikelola dengan konsep swakelola.

“TPST-3R Basama bekerja sama dengan Yayasan Insan Lestari Indonesia, berikut pendampingan manajemennya,” kata Koordinator TPST-3R Basama, Rusman Efendi. Sampah di TPST-3R Basama terdiri atas 80 persen sampah organik dan 20 persen anorganik. Sampah organik diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik dipasok ke pabrik daur ulang limbah.

Setiap bulan rata-rata biaya operasional mencapai Rp 14 juta, ditopang dari iuran dan pengelolaan sampah. Tahap awal, diprioritaskan lingkungan di sekitar Kelurahan Bandungrejosari. Diinisiasi 11 Bank Sampah Unit (BSU) diprioritaskan untuk RW setempat. Mereka diberi fasilitas berupa alat timbang, daftar harga, dan buku tabungan.

Rusman menargetkan dalam tempo setengah tahun bisa melayani wilayah Kota Malang dan dikembangkan hingga wilayah Malang Raya, menjangkau Kabupaten Malang dan Kota Batu. Dengan konsep Bank Sampah, katanya, sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi sudah terpilah dari rumah. Sehingga sampah anorganik bersih, tak tercampur sampah organik.

Co-founder Yayasan Insan Lestari Indonesia Mayedha Adifirsta menuturkan gerakan dimulai dengan mengelola sampah di cafe. Mereka bergerak lantaran jumlah sampah cafe seperti kotak susu tidak dilirik pengepul. Lantas, mereka mengumpulkan dan mengirim kepada produsen kotak susu. Yayasan Insan Lestari Indonesia yang dikenal dengan nama iLitterless Indonesia Menjangkau sebanyak 70 kafe di Kota Malang.

TPST-3R Basama Bandungrejosari bekerja sama dengan Yayasan Insan Lestari Indonesia meluncurkan Bank Sampah Indah Lestari. (Terakota/ Eko Widianto).

“Tersebar sebanyak 3 ribuan cafe di Kota Malang,” kata Mayedha. Yayasan Insan Lestari Indonesia bertindak sebagai investor dan pendampingan manajemen, tahap awal dibantu mesin pemilah label, dan pikap pengangkut sampah.  Bank Sampah digerakkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, mengurangi sampah ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang.

Masyarakat dirorong mengubah perilaku dalam pengelolaan sampah, pemilahan sampah sejak dari rumah, dan menjaga lingkungan. BSIL menggandeng sekolah, pelapak, dan pengepul untuk sampah organik. BSIL menerima 27 jenis sampah anorganik diantaranya plastik PET, HDPE, PP, koran, kertas, banner, dan kaleng metal.

Kepala Seksi Penanganan Sampah Bidang Persampahan dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup (DLH)  Kota Malang Malang Budi Heriyanto menjelaskan jumlah penduduk kota Malang sebanyak 840 ribu dengan timbulan sampah mencapai 780 ton per hari. Sedangkan total setiap hari, sebanyak 520 ton sampah yang masuk ke dalam TPA Supit Urang.

“Sampah berhasil dikurangi dan diolah di TPS. Salah satunya kontribusi TPS-3R Basama,” katanya. Pemerintah secara nasional menargetkan 2025, timbulan sampah dikurangi hingga 30 persen dan  70 persen tertangani dengan baik. Timbulan sampah didominasi sampah organik, sebagian besar sampah makanan.

Budi mendorong perkembangan ekonomi sirkular dengan memanfaatkan sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomis. Untuk mendukung BSIL, pemerintah menjanjikan dana hibah untuk memenuhi kebutuhan lembaga. Mendorong ekonomi sirkular untuk menjaga lingkungan.