Bangkit untuk Cinta

Terakota.id–Tak ada di dunia ini sebuah negara yang bisa membuat klaim sebagai negara yang monokultur. Negara yang dihuni oleh sebuah ras tertentu dengan agama negara tertentu pula, misalnya, tak akan mampu mengatakan bahwa negerinya tanpa perbedaan. Sebuah negara bisa saja membatasi siapa yang boleh tinggal di wilayahnya. Negara juga bisa menetapkan suatu agama tertentu sebagai agama negara. Namun dalam praktiknya pasti akan mengalami kegagalan untuk memroteksi jalan pikiran warganya.

Upaya-upaya penyeragaman dan pemaksaan kehendak satu golongan terhadap golongan lainnya pasti akan menemui kebuntuan. Mereka akan bertabrakan dengan realitas. Perbedaan selamanya tetap akan ada, dan tak mungkin bisa dilawan dengan cara apa pun. Sejak zaman dulu kala, Indonesia dikenal sebagai negara yang mampu mengelola perbedaan. Perbedaan ras, bahasa, dan keyakinan tidak menghalangi kebersamaan dan mengaku sebagai sebuah bangsa, Indonesia. Jika orang berbicara tentang Indonesia, pasti bukan hanya representasi tentang Jawa, Bali, atau Sunda saja.

Indonesia adalah aneka etnis, bahasa, dan keyakinan yang jumlahnya tak pernah dibatasi oleh konstitusi. Tak ada etnis yang lebih unggul dari etnis lainnya, dan tak ada agama yang merupakan agama negara. Sekali pun demikian kita telah salah kaprah dengan adanya agama-agama resmi yang diakui oleh negara. Konsep semacam itu jelas bertentangan dengan Pancasila.

Banyak negera di dunia ini yang tidak se-majemuk Indonesia, namun sampai hari ini masih dilanda perang saudara. Selain faktor kesejarahan, etnis dan agama juga muncul sebagai pemicu tambahan yang makin mengobarkan perpecahan. Konflik yang semula tidak ada sangkut pautnya dengan agama, dalam perkembangannya dipoles dengan isu keagamaan. Perebutan teritorial dan sumber-sumber ekonomi acapkali menumpangkan agama untuk tujuan meraih dukungan publik.

Terusiknya perdamaian di muka bumi ini telah menggugah para sastrawan untuk turut serta mengekspresikan gejolak jiwanya yang resah. Mereka ada yang memotret peristiwa yang dialaminya di depan matanya. Sebagian di antaranya menuliskan kenangan-kenangan pahit atas konflik yang dialami oleh para korban. Ada pula yang menggali dokumen lama. Penggalan-penggalan kisah masa lalu sangat disayangkan bila tidak dibagi kepada publik yang lebih luas.

Paulo Coelho, sastrawan besar asal Brasil menggali dokumen lama untuk disajikan dalam masyarakat dengan jarak waktu ratusan tahun. Hasilnya, masih sangat relevan. Nubuatan dalam kitab suci tidak hanya terjadi dalam zaman teks yang menjadi inspirasi Paulo dalam novelnya, namun masih juga berlangsung hingga kini. Dalam novel yang berjudul Manuscrito Encontrado em Accra (2012), Paulo tidak hanya berbicara tentang cinta, perjuangan, dan kesetiaan saja, namun keragaman dalam kebersamaan menjadi fokus tulisannya.

Dalam salah satu paragrafnya Paulo Coelho menulis, “Keindahan ada pada perbedaan, bukan keseragaman. Siapa bisa membayangkan jerapah tanpa lehernya yang panjang, atau kaktus tanpa duri-durinya. Puncak-puncak gunung yang mengelilingi kita tampak begitu megah justru karena tinggi-rendahnya berbeda-beda. Kalau semua kita pukul sama rata, hilanglah kekaguman kita pada mereka.” Novel berbahasa Spanyol ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Tanti Lesmana dengan judul Manuskrip yang Ditemukan di Accra (Gramedia, 2014).

Penulisan novel ini didasarkan atas sebuah manuskrip. Sebagaimana dikemukakan penulisnya bahwa pada tahun 1974 seorang aekeolog Inggris, Sir Walter Wilkinson menemukan manuskrip kuno. Manuskrip itu berbahasa Arab, Ibrani, dan Latin. Kemungkinan besar dokumen tersebut berasal dari tahun 1307 M. Akhir tahun 2011, Paulo Coelho menerima salinan teks tersebut dari anak Sir Walter Scott.

Latar novel ini adalah kota Yerusalem. Paulo Coelho memang tidak sendirian sebagai orang yang memiliki minat menulis dengan latar Yerusalem. Banyak penulis, baik fiksi maupun non-fiksi dari pelbagai belahan bumi ini tertarik kepada kota ini. Jurnalis Kompas, Trias Kuncahyono, dalam Jerusalem: Kesucian, Konflik, dan Pengadilan Terakhir (Penerbit Buku Kompas, 2008) mencatat bahwa sejak tahun 1990 hingga tahun 2005, ada 635 artikel akademik dan 103 buku yang diterbitkan dengan judul Yerusalem. Ini jauh melebihi popularitas Tel Aviv, ibukota Israel.

Paulo Coelho mengangkat Yerusalem tak hanya memanfaatkan popularitas kota ini semata-mata sebagai ikon tiga agama Abrahamik saja. Paulo sadar bahwa di kota ini selama ribuan tahun tak pernah sepi dari konflik. Selama ribuan tahun pula peta politik di wilayah itu mengalami pergeseran berkali-kali.

Namun demikian, dalam Manuscrito Encontrado em Accra, Paulo Coelho tidak sedang berbicara tentang konflik di kota itu. Dibandingkan dengan novel-novelnya yang lain, novel ini lebih layak disebut sebagai buku etika. Tidak ada konflik tokoh yang ditonjolkan. Sekali pun menyebut tentang tentara salib pada bagian pertama, namun Paulo tidak hendak berkisah tentang perang salib. Dalam bagian pertama novel ini, Paulo hanya menyebut terusiknya perdamaian. Yerusalem yang dihuni oleh tiga agama besar, Yahudi, Kristen, dan Islam pada mulanya hidup berdampingan dengan damai.

Pada tahun 1099, saat Yerusalem dikepung, orang-orang dari tiga agama itu berkumpul mendengarkan wejangan seseorang yang disebutnya sebagai Sang Guru. Ia berasal dari Atena, Yunani. Sang Guru tidak menganut agama apa pun. Sebagaimana dituturkan oleh Paulo, Sang Guru hanya percaya pada saat ini, dan sesuatu yang disebutnya Moira – tuhan yang tidak dikenal, Energi Ilahi yang mengatur satu hukum tunggal. Apabila hukum itu dilanggar, maka dunia akan kiamat.

Setelah menuliskan persembahan tulisan ini untuk N.R.S.M. dan Monica Antunes, Paulo mengutip Lukas 23:28, “Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu!” Tentunya bukan tanpa alasan ia berbuat demikian. Dalam novel ini Sang Guru mengungkapkan tentang ramalan Yesus yang saat ini terjadi. “Mulai besok, keselarasan akan hancur. Sukacita digantikan oleh kesedihan. Perdamaian berubah menjadi perang yang akan berlangsung hingga ke masa depan yang jauh.” Tangisan perempuan dan anak-anak itu adalah tangisan Yerusalem.

Pertumpahan darah atas nama agama masih berlangsung hingga saat ini. Dalam skala kecil maupun besar, peristiwa itu terjadi dari waktu ke waktu. Dengan klaim-klaim kebenaran sepihak, sebuah kelompok bisa melakukan tindakan keberingasan terhadap kelompok lain. Sentimen kesukuan juga terjadi di mana-mana. Tidak hanya di belahan dunia timur saja, namun juga melanda belahan dunia barat.

Dalam salah satu nasihat yang diucapkan oleh Sang Guru, Paulo menulis bahwa mereka tidak paham bahwa agama diciptakan untuk saling berbagi misteri dan memuja. Bukan untuk menindas atau mengubah agama orang lain. Manifestasi terbesar dari keajaiban Tuhan adalah kehidupan. “Malam ini aku akan menagis untukmu, O Yerusalem, sebab pemahaman tentang Tuhan yang Esa akan lenyap hingga seribu tahun mendatang.”
Meskipun konteks novel ini adalah Yerusalem, namun Paulo ingin bicara kepada dunia bahwa agama apa pun saat ini telah terjebak dalam formalitasnya.

Esensi agama harus dikembalikan sebagai perwujudan Cinta. Paulo melalui Sang Guru menggambarkan Cinta yang maha luas dan tak terbatas: Sekuntum mawar memimpikan berada di tengah kawanan lebah, namun tak satu lebah pun mendatanginya. Matahari bertanya: “Tidakkah kau lelah menunggu?” “Ya,” sahut mawar itu, “tetapi apabila aku menutup kelopak-kelopakku, aku akan layu dan mati. Tetapi bahkan ketika Cinta tak kunjung datang, kita tetap membuka diri untuk kehadirannya. Kadang-kadang, saat kesepian seperti hendak meruntuhkan segalanya, satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan terus mencintai.

Masihkah kita akan mengkhianati Cinta? Marilah kita bangkit untuk Cinta!

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini