Balai Bahasa Ajak Generasi Muda Berkomunikasi Aktif dengan Krama Inggil

balai-bahasa-ajak-generasi-muda-berkomunikasi-aktif-dengan-krama-inggil
Kepala Perpustakaan Universitas Negeri Malang profesor Djoko Saryono menjadi salah satu narasumber dalam revitalisasi bahasa Jawa berbasis komunitas. (Terakota/Eko Widianto).

Advertorial

Terakota.idBalai Bahasa Jawa Timur (BBJT) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan prihatin atas kepunahan sebuah bahasa. Kepala BBJT Mustakim memaparkan bahasa Jawa belum pada kondisi yang mengkhawatirkan,atau terancam punah. Namun ragam krama inggil perlu diwaspadai. Generasi muda sangat jarang memahami ragam krama inggil karena rata-rata anak muda sudah tak menggunakannya untuk berkomunikasi.

“Kami berharap bisa memupuk kecintaan generasi muda terhadap bahasa Jawa sehingga menambah jumlah pengguna bahasa Jawa,” katanya dalam kegiatan Revitalisasi Bahasa Jawa Berbasis Komunitas di Malang Raya yang diselenggarakan di perpustakaan Universitas Negeri Malang 4-6 Maret 2020. Sebanyak 50 orang dari beragam komunitas mengikuti pelatihan tersebut.

Degradasi penutur bahasa Jawa bakal berakibat pada kepunahan bahasa. Bahasa merupakan salah satu wahana kebudayaan yang bernilai. Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak bahasa daerah. “Beruntung Indonesia memiliki banyak bahasa daerah,” katanya.

Melalui bahasa, nilai budaya dikomunikasikan, dikembangkan, diwariskan, dan disimpan. Jika sebuah bahasa punah atau hilang, musnah pula sebuah kebudayaan yang “terkubur” bersama dengan semua nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

BBJT menyelenggarakan revitalisasi bahasa daerah dengan metode pemelajaran klasikal dan pemodelan. Peserta diharapkan mampu menaikkan status vitalitas bahasa Jawa, khususnya di Malang. Kini, kondisi bahasa Jawa di Malang sedang mengalami degradasi.

Direktur Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Universitas Negeri Malang, Dr. Gatut Susanto, Mpd menyampaikan bahwa bahasa Jawa memiliki keunikan tersendiri yang berbeda dari bahasa lain di dunia. Bahasa Jawa mencerminkan pola pikir serta budaya Jawa. Bahasa mengandung filosofi dan cara pikir penuturnya.

“Masing-masing bahasa memiliki keunikan tersendiri,” ujarnya. Gatut membahas teori dan praktik revitalisasi bahasa. Agar sebuah bahasa tetap bertahan dan digunakan penuturnya butuh beragam usaha. Salah satunya kita butuh kajian vitalitas untuk mengidentifikasi ketahanan bahasa dan langkah merevitalisasinya.

Usai pelatihan peserta didorong berkreasi di dunia maya dengan menggunakan bahasa Jawa dengan aktif. Dengan memanfaatkan teknologi digital di media sosial. Mereka juga turut memasarkan dan mengampanyekan penggunaan bahasa Jawa dengan aktif.

Gerakan Literasi di Era Digital

Kepala Perpustakaan Universitas Negeri Malang Profesor Djoko Saryono menuturkan bahwa dalam literasi percakapan penting. Ahli komunikasi mengkhawatirkan  hancurnya percakapan di era digital sekarang. Alasannya sebagian besar komunikasi dilakukan secara teks di media sosial.

Kini, sejumlah kafe dibangun dengan konsep tanpa wifi. Pengunjung dianjurkan bercengkrama, bukan bermain gawai sendiri. Setiap zaman punya corak masing-masing. Gawai, diharapkan mendekatkan yang jauh, tidak menjauhkan yang dekat.

Bahkan Bill Gates mendirikan sekolah tanpa gawai. Karena ia khawatir pada generasi muda yang kecanduan gawai.  Dalam era digital, katanya,  sebagian terjebak dalam kedangkalan bukan kedalaman. Oleh sebab itu, literasi dibutuhkan agar siap menghadapi perubahan zaman dan kemajuan teknologi.

“Literasi adalah akar, pondasi. Hidup yang dalam,” kata Djoko Saryono dalam materi bertema melek literasi. Kita jangan terjebak dan menganggap telah berjalan cepat tapi tak ada apa-apanya. Literat, ujarnya, meliputi membaca, menulis dan visual. Kini, membaca dan menulis bisa kapan saja dan di mana saja.

“Status media sosial saya buat produktif.  Menulis bisa dilakukan di rumah, kantor, bandara, dan terminal,” katanya.. Perlu dibangun tradisi membaca dan menulis. Perlu  diintegrasikan membaca dan menulis untuk komunitas.

Kepala Perpustakaan Universitas Negeri Malang profesor Djoko Saryono menjadi salah satu narasumber dalam revitalisasi bahasa Jawa berbasis komunitas. (Terakota/Eko Widianto).

Djoko Saryono juga mendorong bahasa Malangan juga ditulis untuk menjadi puisi dan karya sastra lain. Hasilnya, subdialek bahasa Malangan tak hanya menjadi alat komunikasi atau bahasa lisan semata.

Salah seorang peserta bernama Sarwendah mengaku jika selama ini kerap berkomunikasi di rumah menggunakan Bahasa Jawa ngoko. Percakapan sehari-hari ini digunakan di dalam keluarga, termasuk dengan anaknya. “Ternyata anak saya bisa tak bisa bahasa Jawa. Ia tak paham. Padahal biasa menggunakan bahasa ngoko. Selain itu, di sekolah juga ada pelajaran bahasa Jawa,” katanya..

Apakah gagap berbahasa daerah juga dipengaruhi gawai? Ia menanyakan bagaimana mengajak anak agar menggunakan bahasa Jawa. “Penting bagi mereka mengerti makna bahasa Jawa. Mereka kelak yang akan mewarisi bahasa daerah. Agar bahasa daerah tak mati,” katanya.

Salah seorang mahasiswa Sejarah Universitas Negeri Malang kesulitan mendapatkan buku kuno yang memindahkan aksara dan bahasa Jawa Kuno ke aksara Latin. Buku literasi yang penting bagi mahasiswa Sejarah, katanya, sulit ditemukan.

Ia menemukan foto kopi sebuah buku yang mengalihaksarakan naskah kuno lalu diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Namun, untuk memahaminya ia harus menggunakan kamus Jawa Kuna. karya M Yamin yang diterbitkan Gramedia. Ironi, katanya, jika menggerakkan budaya literasi, tetapi buku kuno langka dan mahal.

“Tapi bukunya langka. Harga buku mencapai Rp 3 juta,” katanya.  Djoko Saryono  mengatakan kalua sejumlah negara tetap menerbitkan beragam buku klasik. Pemerintah memberi potongan atau keringanan pajak.Bahkan masih diterbitkan kembali buku yang ditulis 3 ribu than sebelum Masehi. Pengetahuan, katanya, berkembang dari literasi.

Untuk mencari buku kuno, kata Djoko, bisa berburu di penggemar naskah lama. Kita bisa juga melihat  buku deposit yang ada di Perpustakaan Nasional. Salah satu buku adalah karya M Yamin tersebut.

Usaha menerjemahkan bahasa dan mengalihaksarakan dilakukan oleh padepokan dan pesantren. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengarsipkan sebanyak 150 ribu surat VOC. Seorang ahli bahasa Belanda kuno bertugas membaca surat dan menyalin dalam Bahasa Indonesia. Mereka bekerja selama tujuh tahun. Untuk itu, Balai Bahasa juga seharusnya menerjemahkan karya penting. Karya yang meliputi kamus Jawa Kuno, dan Kawi.

Mengakhiri pertemuan Djoko Saryono membacakan geguritan Kasmaran atau puisi dalam berbahasa Jawa. Djoko mengaku rutin bersama pegiat bahasa kerap menerbitkan buku berisi kumpulan geguritan bahasa Jawa. (*)

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini