Bakso Sumsum Cak Hadi, Pecah di Mulut

bakso-sumsum-cak-hadi-pecah-di-mulut
Bakso sumsum Cak Hadi hadir sejak 1990. Rasanya dan inovasi bakso yang khas mengundang pembeli terus berdatangan. (Terakota/ M. Yufirly Raizza Fadilah)

Reporter : M. Yufirly Raizza Fadilah

Terakota.id–Berwisata kuliner di Malang tak lengkap jika belum menyantap bakso. Malang seolah surga bagi pecinta kuliner sejuta umat ini. Ya, Malang menyajikan beragam varian bakso. Anda sudah menikmati semua ragam bakso? Yuk mencicipi bakso sumsum. Penasarankan?

Bakso sumsum bukan bakso biasa, sumsum seolah terperangkap di dalam bola bakso. Terasa kenyal, dan empuk di mulut. Sumsum pecah di mulut, sluuurrrp, mata terbelalak. Sumsum meleleh di mulut. Nikmat. Harga seporsi cukup terjangkau sekitar Rp 19 ribu.

Seporsi bakso sumsum seolah kurang, dan ingin terus tambah. Seporsi bakso sumsum semakin lengkap ditemani gorengan, mie, dan sayur. Kuah kaldu yang gurih, pas disantap saat panas. Cocok untuk mengusir hawa dingin Malang. Serasa tak cukup sekali, ingin lagi, lagi dan lagi. Itulah bakso sumsum Cak Hadi, buka setiap hari mulai pukul 17.00 WIB sampai 20.00 WIB. Kamis libur.

Lokasinya tersembunyi di antara bangunan situs purbakala Candi Singosari, masuk ke dalam gang sekitar 20 meter. Terpampang papan bertuliskan “Bakso Sumsum” yang bisa dilihat dari pinggir jalan untuk memandu Anda mencicipi bakso sumsum Cak Hadi. Tepatnya di Jalan Kertanegara Nomor117, Kelurahan Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.

Seporsi bakso sumsum cak hadi seharga Rp 19 ribu, lengkap ditemani gorengan, mie, dan sayur. (Terakota/ M. Yufirly Raizza Fadilah)

Sejak buka sore hari, bakal terlihat antrean panjang pembeli, Mengular. Mereka harus bersabar dilayani bergantian. Bakso sumsum yang unik dan rasanya yang nendang, tak heran banyak pelanggan bakalan balik usai mencicipi bakso sumsum. Bahkan pembeli berasal dari berbagai daerah di luar Malang. Termasuk pejabat publik di Malang.

Hadi merintis berdagang bakso sejak 1980-an. Bekerja usai salat subuh berbelanja bahan baku hingga mengolahnya di rumah. Memulai usaha dengan berdagang keliling menggunakan rombong atau gerobak. Saban hari berkeliling Singosari, rata-rata menghabiskan bahan dasar daging sapi sebanyak 2,5 kilogram sampai 5 kilogram.

Pada 1990, Cak Hadi berinovasi membuat racikan bakso sumsum. Saat itu, sebutir bakso dijual Rp 500, sedangkan bakso sumsum dibanderol Rp 600. Sedikit demi sedikit, bakso sumsum semakin dikenal. Pelanggan berdatangan. Pada 2006, ia tak lagi berjualan keliling dan memilih lokasi saat ini berjualan.

Kini, ia telah memperkerjakan tiga pegawai untuk melayani pembeli. Bakso sumsum juga kerap menemani resepsi pernikahan. Banyak penikmat bakso yang penasaran mencicipi bakso sumsum buatannya. Saat ramai, dalam tempo sehari menghabiskan bahan baku daging sapi sebanyak 24 kilogram. Sedangkan hari biasa antara 17 hingga 19 kilogram.

Pelanggan rela antre dan menunggu untuk mencicipi bakso sumsu cak Hadi. (Terakota/ M. Yufirly Raizza Fadilah)

Hadi menjaga kualitas bakso sumsum. Kualitas, di atas segalanya, pelanggan dilayani seperti raja. Bahkan kadang, ia terjun langsung membuat dan melayani meracik bakso.

Selain itu, juga dipilih bahan baku bermutu tanpa bahan pengawet. Daging sapi terpilih dibeli khusus. “Daging sapi diistirahatkan minimal tiga hari, baru dipotong. Hasilnya begini,” katanya sembari mengacungkan jempol.

Meski berusaha menyajikan bakso terbaik, sesekali Cak Hadi pernah menerima keluhan dari pelanggan. Pelanggan kecewa lantaran campuran daging dalam bakso kurang nendang. Ia langsung respons dengan menambah takaran daging sapi untuk memuaskan pembeli.

Ia menggunakan tungku bakar dengan kayu bakar khusus untuk merebus tulang menjadi kaldu, menggoreng bawang dan tahu. Sedangkan mengolah bakso menggunakan gas elpiji agar uap air cepat keluar semua. Nah, usai semua masak kuah bakso didalam kuali diletakkan dalam gerobak. Untuk memanaskan kuah khusus menggunakan arang.

Cak Hadi belum tergoda membuka cabang. Sempat berencana membuka cabang, keburu diurungkan. Bagi Cak Hadi pelayanan merupakan yang utama, tak sekadar mengejar semata. “Jangan mengejar uang, kejarlah konsumen,” pesannya.

Cak Hadi berpesan cara menikmati bakso sumsu olahannya. Pertama, jangan makan bakso sumsum saat panas. Kedua, makan bakso sumsum paling terakhir. “Jangan potong bakso sumsum. Langsung lahap dan kunyah perlahan-kahan. Nikmati cita rasanya,” ujarnya.

Terakhir, ia menyarankan agar tidak mencampur bakso dengan kecap dan saus. Agar pembeli biar merasakan gurihnya kaldu secara murni. Penasaran ingin membuktikan nikmat bakso sumsu dan lelehan sumsum di lidah? Silakan langsung datang ke Bakso Sumsu Cak Hadi.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini