Bahasa Asyik, Bahasa Unik Malang

Simulasi perang kemerdekaan di Tawangsari Kota Malang. Bahasa Walikan mempersatukan pejuang Kota Malang. (Terakota/HA. Muntaha Mansur).

Oleh: Reza Octavia Pratama *

Terakota.id— Bahasa walikan pertama kali dicetuskan salah seorang pejuang di Kota Malang loh… Pejuang kreatif bernama lengkap Suyudi Raharno. Dia merupakan salah seorang prajurit Gerilya Rakyat Kota (GKR). Buku Malang Tempo Doeloe karya Dukut Imam Widodo menerangkan tujuan bahasa unik ini salah satunya sebagai bahasa sandi antar pejuang, pendukung. Serta menyiasati musuh pada perang kemerdekaan.

Bahasa sandi terbukti ampuh menghalau Belanda yang menyusupkan mata-mata di kalangan pejuang. Mereka tengah  memburu pendukung Mayor Hamid Rusdi. Untuk mengingat peristiwa ini pelajar dan pemuda dari Anak Limau Malang dan SMK Kesehatan Adi Husada memperagakan drama musikal yang bertema ” Glora Juang Arek Malang“. 

Drama musikal yang disajikan merupakan transformasi pejuangan Mayor Hamid Rusdi melawan penjajah Belanda. Serta digunakan untuk mengirim pesan, berkomunikasi kepada kawannya. Perjuangan Suyudi raharno sebagai GKR dan pencetus bahasa unik ini juga tidak mudah. Sekitar September 1949, Suyudi Raharno disergap militer Belanda di wilayah Dukuh Gunuk Watu, sekarang masuk wilayah Purwantoro, Kota Malang.

Sebelumnya juga salah satu kawan akrab sekaligus pencetus basa walikan bernama Wasito juga gugur dalam pertempuran di daerah Gandongan, sekarang adalah Pandanwangi, Kota Malang. Kedua jasad pejuang Suhudi Raharno dan Wasito kini disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Suropati, Jalan Veteran Kota Malang.

Tidak semua bahasa atau kata bisa dibalik, walaupun basa walikan ini tidak memiliki aturan dalam penggunaannya. Bahasa khas Malang ini merupakan akulturasi dari beberapa bahasa. Seperti Bahasa Jawa, Indonesia, Arab, Madura dan Cina. Salah satu contoh “osob kiwalan” adalah “ayas kera ngalam, lha umak apais?” yang artinya “Saya arek Malang , lha kamu siapa?”

Siswa SDN Dinoyo 1 membaca doa dan melakukan tabur bunga di makam pahlawan Nasional Hamid Roesdi di Taman Makam Pahlawan (TMP) Suropati Kota Malang, Jawa Timur 9 November 2018. Hamid Rusdi adalah pahlawan Nasional asli malang yang menciptakan bahasa walikan yang di gunakan sebagai kata sandi saat melawan Belanda dalam Agresi Militer II. Terakota.id/Aris Hidayat

Selain itu masih banyak kata-kata atau bahasa walikan yang digunakan. Karena selain bahasa ini menjadi “trade mark“, bahasa ini juga mudah diingat dan keren saat digunakan. Menurut pakar Bahasa Universitas Negeri Malang Sunaryo, “basa walikan menjadi budaya bahasa yang unik. Sampai sekarang menjadi identitas yang kuat, di perantauan di luar kota”.

Bahasa walikan atau bahasa balikan ini punya keunikan salah satunya memiliki aturan. Penggunaan bahasa ini diatur agar terlihat nyaman saat diucapkan dan enak didengar. Tetapi aturan yang digunakan pun tidak ribet dan mudah dipahami. Yaitu dua konsonan seperti “ng” dan “ny” dihitung sebagai satu kata.

Tetapi ada beberapa faktor seperti faktor alam yang membuat singkatan yang berbunyi dan yang tidak berbunyi lazim ketika dibalik. Sehingga, kata tersebut tidak dipakai atau diubah ke bunyi populer.

Bahasa walikan ini konon katanya juga memiliki mitos loh… Jika orang sering berbicara menggunakan bahasa walikan, biasanya mereka tergolong orang yang cerdas. Karena ketika mereka berbicara, otak mereka juga bekerja memikirkan kebalikan dari kata-kata yang akan diucapkan.

Yang membanggakan bagi arek Malang, bukan hanya arek Malang yang bangga dan senang menggunakan bahasa ini. Tetapi pelajar asing asal Jepang juga sangat menyukai budaya Malang. Kiota Hamamase atau ajrab disapa Budiono mengungkapkan tertarik dengan bahasa unik asal Malang.

Seperti yang dilansir Malang Voice 9 Maret 2019.  “Lucu dan unik ketika saya mendengar arek Malang ngobrol, mereka ada yang bilang Sam dan saya mencari di kamus itu tidak ada. Ternyata ada bahasa khas di Malang, keren sehingga saya mulai belajar bahasa Malang dan Indonesia,” kata Budiono.

Kita bisa belajar bahasa walikan merupakan bahasa yang digunakan secara turun temurun. Serta bisa menjadi kebanggaan sendiri bagi arek Malang selain budaya, pariwisata dan pendidikan yang terkenal di Malang. Bahasa walikan pun tak kalah menarik perhatian bangsa asing.

*Pegiat komunitas sejarah dan pelajar SMK Negeri 4 Malang

Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan ke email : redaksi@terakota.id. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini