Bagaimana Sikap Jurnalis atas Fenomena Banjir?

bagaimana-sikap-jurnalis-atas-fenomena-banjir
Relawan BNPB mengevakuasi warga Jakarta yang terjebak banjir dengan perahu karet. (Foto : BNPB)

Terakota.id—Banjir menerjang Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi hari pertama 2020. Serta beberapa wilayah di Sumatera seperti Bengkulu dan Labuhan Batu. Belasan jiwa melayang dan ribuan orang mengungsi akibat banjir.

Banyak aspek yang menyebabkan banjir. Banjir tahun ini tak bisa dipandang sebagai satu kejadian tunggal. Bencana alam bisa dikendalikan dan dikurangi risikonya dengan melakukan mitigasi bencana. Caranya dengan mengarusutamakan kualitas lingkungan hidup yang baik dan sehat.

“Jurnalis dan media massa menjadi salah satu aktor yang bisa turut membantu mewujudkannya,” kata Ketua Umum SIEJ, Rochimawati. Masyarakat Jurnalis Lingkungan atau The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) mengajak jurnalis memberikan informasi yang jelas dan akurat atas peristiwa bencana.

Jurnalis dan media massa dalam pemberitaan seharusnya mendalami faktor yang memengaruhinya. Mulai dari regulasi yang kurang mendorong kepedulian atas lingkungan hidup. Hingga rongrongan oligarki yang mengutamakan investasi tanpa mempertimbangkan dampak atas kerusakan lingkungan yang ditimbulkan.

Termasuk mengungkap fakta terkait alih fungsi lahan yang menyebabkan bencana alam. Persyaratan pembangunan yang seharusnya mengedepankan izin lingkungan, penegakan hukum, serta perubahan iklim sebaiknya dikemukakan dengan lugas dan bernas. Tak sekadar menyalahkan pejabat semata terkait kegagalan memitigasi bencana di wilayahnya.

“Fenomena perubahan iklim masih kurang mendapatkan porsi di media massa,” katanya.  Sedangkan banjir kali ini salah satu faktor penyebabnya karena perubahan iklim yang menimbulkan cuaca ekstrem. Intensitas hujan secara berlebihan terjadi di beberapa daerah yang banjir. Sedangkan tak infrastuktur tak mampu menampung dan mengendalikan derasnya air hujan.

“Memang tidak mudah membumika isu perubahan iklim,” katanya. Banjir, katanya, bisa menjadi salah satu titik masuk bagi jurnalis atau media massa untuk menjelaskan dampak perubahan iklim. Terutama di kawasan perkotaan.

Curah hujan yang tinggi di sebuah wilayah tidak bisa dipandang sebagai sebuah fenomena alam semata. Perubahan iklim dipicu perilaku individu yang sceara tak langsung berdampak pada meningkatnya suhu muka bumi. Sehingga memengaruhi pertumbuhan awan hingga hujan.

Perubahan tata guna lahan yang tidak terkontrol, juga menjadi faktor penyebab larinya air ke berbagai wilayah hingga membanjiri pemukiman warga. Di sejumlah daerah, tingginya curah hujan biasanya selalu disusul bencana longsor dan banjir bandang.

Koordinator Kampanye SIEJ, Adi Marsiela berharap jurnalis dan media massa ikut mengambil peran memberikan informasi yang tepat kepada semua pihak. Sehingga menimbulkan kesadaran masyarakat untuk melakukan perubahan dari diri sendiri.

Seperti perilaku mengurangi penggunaan kendaraan pribadi beralih menggunakan layanan transportasi umum. Mengurangi dan menghapuskan penggunaan energi berbasis fosil, dan mengolah dan mengurangi sampah.

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini