Bagaimana Nasib Rel Trem di Malang?

Rel trem Stoomtram Matschappij di masa kolonial tak sengaja terangkat backhoe pengerjaan proyek koridor Kayutangan Heritage. (Terakota/Eko Widianto).

Terakota.id Rel sepanjang 200 meter tampak di atas permukaan tanah Jalan Basuki Rahmat. Fisik rel terangkat ke permukaan pada Selasa malam, 10 November 2020. Backhoe proyek pengerjaan jalan dan pedestrian di koridor Kayutangan Heritage mengenai rel trem yang membelah kawasan Kayutangan Kota Malang. Baja rel tampak utuh, sedangkan kayu bantalan rel lapuk dimakan usia.

“Waktu clearing, backhoe menyentuh rel. Besi berkarat, sekitar 70-80 persen masih lumayan bagus,” kata konsultan proyek PT Prospera, Warjo yang tengah melakukan supervisi proyek, Rabu 11 November 2020. Rel trem ditemukan sedalam 50 centimeter di bawah permukaan aspal. Jalur trem itu kini dibersihkan.

Diamankan dulu, kata Warjo, rel tak boleh disentuh atau diangkat. Pengerjaan proyek sementara dihentikan, sampai menunggu keputusan lebih lanjut. Ia tak menyangka jika kawasan tersebut masih tersisa bekas rel trem.

Warjo menjelaskan rel trem dibiarkan dan dilapisi beton cor. Sehingga tak korosi atau bebas karat. Selanjutnya, dilapisi batu andesit. Selama ini rel hanya ditutup aspal berlapis pasir dan batu. Sehingga rel menjadi berkarat. “Jika nanti PT Kereta Api Indonesia (KAI) akan menggunakan lagi, aset masih utuh,” katanya.

Jalan aspal di bunderan persimpangan Jalan Semeru atau Rajab-ally, dan persimpangan di depan kantor PLN akan diganti dengan batu andesit. Lapisan aspal dikelupas, sesuai program Malang Heritage. “Akan dipercantik seperti di Tugu Jogja,” katanya.

Stoomtram Matschappij (MS) menghubungkan Stasiun Jagalan dengan Stasiun Blimbing sejauh enam kilometer sejak 15 Februari 1903. (Terakota/Eko Widianto).

Selain itu, akan dipercantik dengan fasilitas taman indah, dan pedestrian lebar dengan fasilitas difabel. Tujuannya untuk menata wajah dan menumbuhkan perekonomian di kawasan Kayutangan. Lantaran Kayutangan dulu merupakan pusat kawasan bisnis. Namun, sejak 200 mulai memudar.

“Tinggal amdal lalin (analisis dampak lalu lintas) ditata setelah pekerjaan selesai,” katanya. Kekuatan batu andesit dihitung dengan kaidah teknis yang ketat. Meliputi uji kekuatan batu andesit, uji kekuatan tanah dan perlakuan beton struktur sedalam 20 centimeter. Sehingga batu dijamin kokoh dan stabil. Pengeraan dikebut selama 24 jam, jika tak ada kendala diperkirakan tuntas 28 Desember 2020.

Membangunkan Jalur Trem dari Tidur Panjang

Pemerhati sejarah kereta api, Tjahjana Indra Kusuma menjelaskan rel tersebut merupakan jalur trem Malang Stoomtram Maatschappij (MS) yang menghubungkan Stasiun Jagalan dengan Stasiun Blimbing. Lebar rel 1.067 milimeter, standar gerbong kereta. Jalur sepanjang enam kilometer tersebut dibuka 15 Februari 1903. Melintas sepanjang Jalan S Parman-Jalan Letjen Sutoyo-Basuki Rahmat melintas Alun-Alun Merdeka sampai masuk Stasiun Jagalan.

MS mengoperasikan trem angkutan orang dengan kecepatan ideal lokomotif waktu itu sekitar 30 sampai 40 kilometer per jam. Terutama mengangkut pegawai perkebunan dan pabrik gula yang bertempat tinggal di kota satelit. Jalur sejauh enam kilometer. “Trem moda transportasi modern saat revolusi industri,” ujarnya.

Jalur trem di tengah Kota, rel terpasang di sepanjang Jalan Kayutangan. (Foto : Tropen Museum).

Selain itu, juga untuk mengangkut hasil gula ke pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Mengakut dari stasiun kecil ke stasiun sedang ke  arah kereta api besar milik Negara. “Ini jalur swasta. Ada empat pabrik gula di Malang antara lain Kendalpayak, Panggungrejo-Kepanjen, Krebet dan Kebonagung,” ujarnya.

Sejak 1946 seluruh aset MS diakuisisi Djawatan Kereta Api (DKA) sekarang PT Kereta Api Indonesia. Meski sejak1957-1958 disuntik subsidi finansial operasional sebagai operator swasta namun secara finansial operator swasta ini terus merugi. Bangkrut. Puncaknya, jalur trem di beberapa sektor ditutup dan tak digunakan sejak 1959.

“Rel ini menjadi aset PT KAI, heritage. Tak boleh diubah dan dirusak. Jangan membangun kawasan heritage dengan merusak heritage,” ujarnya.

Tjahjana Indra Kusuma dan Warjo mengukur lebar rel trem di Kayutangan Kota Malang. (Terakota/Eko Widianto).

Sedangkan reaktivasi atau penghidupkan kembali jalur trem, kata Indra, tergantung Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (Riknas). Serta komitmen Wali Kota Malang untuk mengambil keputusan. Sejumlah tempat bisa dilakukan reaktivasi, salah satunya di Solo.

“Bisa jadi solusi angkutan massal di dalam kota. Mengatasi kemacetan,” ujarnya. Namun, Indra menyebut Pemerintah Kota Malang justru menggandeng investor untuk membangun kereta ringan atau Light Rail Transit (LRT). Investor swasta dilibatkan dalam pembangunan transportasi massal tersebut.

“Entah bagaimana? Apakah akan diaktifkan lagi jalur trem ini?,” tanya Indra.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini