Bagaimana Mona Chang Menjadi Mona Changowitz

Terakota.id–Identitas adalah sesuatu yang abstrak dan tidak terlihat, tetapi juga sangat sehari-hari. Setiap dari kita, pada setiap situasi, selalu berhadapan dengan identitas dan tidak dapat melepaskan diri darinya.

Suatu identitas ada dan dimungkinkan ada dalam différance dengan yang lain. Différance sendiri merupakan konsep yang diperkenalkan oleh Jacques Derrida (1930-2004), pemikir dan penggagas dekonstruktivisme asal Prancis, dengan menggabungkan dua kata ‘to defer’ dan ‘to differ’. Apakah itu?

Kehadiran suatu ungkapan, atau kata, atau—dalam bahasa semiotis—signifier (penanda) tidak pernah mampu menangkupi atau mencakup segenap makna yang termaktub dalam konsep atau signified (petanda). Itulah arti dari ‘to defer’ (Tyson, 2006). Betapa pun kita ingin menyampaikan suatu makna dengan sebaik mungkin dan sejelas serta sekomprehensif mungkin, hal tersebut tidak akan dimungkinkan berhasil sepenuhnya.

Mengapa? Sebab bahasa sebagai satu-satunya medium penyampaian makna yang dikenal, atau sebagai moda penanda yang tersedia, sudah dari sananya memiliki keterbatasan. Bahasa adalah realitas epistemologis, sedangkan makna adalah realitas ontologis. Bahasa adalah keniscayaan dalam keterbatasannya. Maka, diperlukan banyak penanda untuk dapat mendekati petanda yang diidealisasikan. Makna, karenanya, adalah gabungan dari penanda-penanda, tetapi seberapa pun banyak penanda yang digabungkan, level makna dari petanda tidak akan pernah secara sempurna dan paripurna terepresentasikan.

Dalam kaitannya dengan pembahasan tentang identitas, konsep kedua, yaitu ‘to differ’ kiranya lebih pas. Derrida menyadari bahwa pemahaman atau pengetahuan kita akan sesuatu tidak dapat terjadi secara mandiri, melainkan senantiasa dalam perbedaan (difference) atau perbandingan dengan yang lain. Kita mengetahui dan merasa perlu tahu bahwa ada ‘yang baik’ sebab ada perbandingan dengan ‘yang buruk’. Demikianlah, pengetahuan dan pemahaman kita akan ‘hitam’ timbul karena ada yang ‘putih’. Begitu pun konsep lain seperti ‘cantik’ dan ‘buruk rupa’, ‘kenyang’ dan ‘lapar’, ‘kita’ dan ‘mereka’, dan seterusnya.

Ketika berbicara mengenai identitas, ‘to differ’-nya Derrida mengejawantah menjadi konsep oposisi biner. ‘Kita’ menjadi kita karena kita bukan ‘mereka’. Oposisi biner antara diri dan liyan (self and other) selalu mewarnai proses identifikasi, dan bahkan menjadi metode beridentifikasi utama. Pertanyaan tentang ‘Siapa Indonesia?’, sebagai misal, kadang lebih mudah dijawab dengan mengatakan bahwa ‘Indonesia itu bukan Malaysia atau Singapura atau Amerika atau Australia’. Cara menjawab dengan menegasi atau membandingkan atau menegaskan perbedaan dengan yang lain itu lebih gampang. Yang lebih sulit adalah menjawab pertanyaan identitas dengan jawaban yang afirmatif.

Di dalam realitasnya, untungnya, kita tidak pernah mengalami situasi identitas tunggal. Diri kita, atau manusia modern pada umumnya. adalah perjumpaan dan negosiasi atau pertumbukan banyak identitas—kadang secara bersamaan, namun lebih seringnya secara bergantian, di mana satu mode beridentitas lebih dominan daripada yang lain.

Identitas adalah sesuatu yang situasional dan mana yang lebih dominan pada suatu situasi seringkali didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan pragmatis untung-rugi, baik-buruk, benar-salah, aman-mengancam, dan semacamnya (Budiawan, 2021). Ketika kita merasa satu identitas menguntungkan, kita akan bergayut padanya, tetapi saat identitas yang sama dianggap berpotensi mengancam keselamatan, kita bisa jadi akan mempertimbangkan untuk melepaskannya, setidaknya untuk sementara waktu sampai keadaan menjadi aman kembali.

Selain nyaris tidak pernah bersifat tunggal, identitas juga sangat fluid atau cair dan dapat saling memengaruhi dan dipengaruhi. Ketika moda-moda beridentitas berjumpa dalam diri seseorang dan orang yang dimaksud lantas secara aktif menegosiasi berbagai identitas tersebut dan memfusikannya sehingga terlahirlah satu identitas baru hasil percampuran, timbullah yang disebut sebagai identitas hibrida. Hibriditas identitas ini bisa jadi merupakan ruang ketiga atau ruang kesekian yang memungkinkan seseorang dengan beragam identitas dapat menavigasi keberagaman dan secara aktif melahirkan identitas baru yang lebih sesuai dengan kebutuhannya dan situasi zaman.

Mona Changowitz Masuk ke Negeri Terjanji

Beberapa tahun silam, saya membaca sebuah novel yang menurut saya sangat lucu dan bisa dipandang sebagai sebuah contoh bildungsroman yang mengasyikkan. Judulnya adalah Mona in the Promised Land (1996) karya Gish Jen.

Secara singkat, novel ini berkisah tentang Mona Chang, seorang remaja putri anak kedua dari pasangan yang bermigrasi ke Amerika dari Cina. Kedua orang tua Mona sangat bersemangat menjadi orang Amerika (setidaknya seturut dengan bayangan mereka sendiri tentang apa itu keamerikaan) serta mengejar mimpi kapitalistik mereka. Sampai kadar tertentu, mereka tampaknya berhasil mencapai impian tersebut. Mereka kaya dan karena kekayaan yang mampu mereka akumulasi itu, mereka sanggup membeli sebuah rumah di suatu kawasan elite di kawasan suburb New York City, yaitu Scarshill. Hanya orang-orang yang berkantong teballah yang sanggup membeli rumah di sana.

Scarshill didiami oleh kalangan kelas menengah dan mayoritas dari mereka adalah orang Yahudi. Karena faktor lingkungan ini, Mona tumbuh menjadi remaja putri yang multikultural dan lebih tidak berorientasi pencapaian materialistik seperti ayah dan ibunya. Mungkin, itu terjadi karena Mona tidak perlu bersusah payah untuk bisa menikmati apa yang sekarang diperolehnya nyaris secara take it for granted. Dengan kata lain, Mona menikmati fasilitas dan privilese sebagai anggota kelas menengah sejak dia masih kecil.

Karena privilese tersebut, atau karena dia tidak pernah merasa kekurangan secara materi, ketertarikannya teralih pada kehidupan budaya dan intelektual kaum Yahudi yang ada di lingkungannya. Lalu, sampai titik tertentu, dia memutuskan untuk berpindah keyakinan kepada Yudaisme atau agama Yahudi.

Ketika Mona menyampaikan hal ini kepada kedua orang tuanya, mereka merasa judeg. Bagi keduanya, keputusan ini tidak masuk akal dan hanya merupakan bagian dari kegalauan khas anak remaja yang nanti akan berakhir atau memudar dengan sendirinya seiring dengan perkembangan kepribadian dan pertambahan usianya.

Agama Yahudi atau Yudaisme jelas ‘tidak populer’ dan dipandang sebagai sesuatu yang hanya dipeluk oleh orang Yahudi. Dalam hal itu, agama Yahudi berbeda dengan agama Kristen, Hindu, atau Islam yang umumnya dipandang universal dan tidak terbatas pada satu kelompok etnis atau ras tertentu. Mungkin itu terdengar sama ganjilnya, bila di Indonesia, ada orang Dayak yang memeluk kejawen, atau sebaliknya orang Jawa yang memeluk Hindu Kaharingan.

Mona membuktikan tekadnya. Untuk itu, dia bahkan ‘memacari’ seorang pemuda berdarah Yahudi dan datang ke sinagoga untuk berdoa bersamanya. Tentu saja, kehadirannya di sana pun dipelototi oleh banyak warga Yahudi. Mau apakah seorang gadis remaja bermata sipit berkulit kuning datang ke sini bersama seorang pemuda kita, mereka pasti bertanya-tanya. Seperti ketika dia dicurigai oleh ayah-ibunya karena ingin memeluk suatu agama yang ‘ethnic-centered’, di antara penganut agama tersebut pun dia dicurigai sebagai seseorang yang hanya ingin menarik keuntungan, entah bagaimana caranya atau seperti apa persisnya.

Mona Chang, meskipun masih remaja, tampaknya sadar bahwa dirinya berada di pertumbukan berbagai identitas. Dia lahir dan besar dalam keluarga Amerika Cina. Dia tumbuh dalam keluarga yang menikmati mobilitas sosial ke atas ke kelas menengah. Dia adalah seorang anak gadis yang sangat dilindungi oleh keluarganya dan merupakan adik dari seorang kakak perempuan yang secara akademik berprestasi tinggi. Dia adalah bagian dari sebuah komunitas yang mempunyai privilese untuk memilih, bahkan sampai kepada soal agama.

Dalam pertumbukan identitas itu, kadang satu mode beridentitas terasa lebih dominan baginya. Di situasi yang lain, mode identitas yang lain lebih mengemuka. Dan tidak jarang, mode-mode beridentitas tersebut bercampur-baur, bertumpang-tindih, berkelindan, dan membentuk siapa Mona Chang yang baru.

Rupanya, Mona Chang menerima semua dinamika itu dengan senang hati dan terbuka. Dan walaupun terdengar agak corny, novel ini berakhir dengan ‘bahagia’ dengan Mona yang bertumbuh akhirnya menikah dengan pacar Yahudinya dan lalu mengambil nama keluarga baru yang mencerminkan hibriditas antaridentitas yang membentuknya: Changowitz. Pada akhirnya, kitalah yang menentukan identitas mana yang ingin kita tonjolkan pada situasi tertentu.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini