Awal Pageblug, Wabah Pes Menyerang Malang  

awal-pageblug-atau-wabah-pes-menyerang-malang
Vaksinasi warga Malang untuk mencegah wabah pes. (Foto : Neville Keasberry)

Oleh : Mukhlis Khairi*

Terakota.id–Awal mula penyebaran penyakit pes di Malang, diperkirakan sekitar 1911. Wabah berasal dari tikus-tikus yang berkeliaran di dek kapal ketika bersandar di pelabuhan Surabaya, mengandung kutu basil “yersinia pestis” penyebab penyakit pes. Kapal-kapal mengangkut beras impor dari Burma, karena Malang mengalami paceklik.

Paceklik ini salah satunya karena “Koffeicultuur” atau kopi kultur yang ditetapkan kembali di Malang tahun 1901. Efek dari kultur kopi ini, lahan tanaman padi diubah menjadi lahan kopi. Akhirnya pemerintah Hindia Belanda mengimpor beras dari Burma.

Pada Maret 1911, ada temuan kasus pes di wilayah Malang. Pertama kali ditemukan di wilayah distrik Kepanjen. Hingga April 1911, data resmi yang dikeluarkan pemerintahan Hindia Belanda, mengambil sumber dari keterangan Dr. Biedermann yakni dokter di RSU Tjelaket (RSSA), pihak rumah sakit sudah menangani 30 pasien suspect penyakit pes.

Akhirnya, inspektur Kepala Burgelijken Geneeskundigen Dienst (BGD) atau Dinas Kesehatan Sipil, Pemerintah Hindia Belanda, Dr. de Vogel, turun ke Malang. Dalam analisis kerjanya, diperoleh hipotesis awal bahwa pencegahan penyakit pes di Malang, selain tim dokter, harus dibentuk sebuah tim khusus untuk menangani masalah sanitasi.

Membasmi sarang tikus untuk mencegah wabah pes. (Foto : Neville Keasberry)

Selain de Vogel, Dr. Tjipto Mangunkusumo -yang mulai tahun 1910 bersama dr. Sutomo ikut menangani penyakit pes melalui RA. Kartini Club di Malang-, ikut bergabung dalam tim dokter inti.

Penyakit pes bukan hanya melanda Surabaya dan Malang. Dalam catatan van Swellengrebel’s, pada September 1911 ditemukan 13 penderita pes di wilayah Tiron, Banyakan, Kabupaten Kediri. Menurut penelitiannya, virus penyakit pes ini akan semakin mudah berkembang di daerah dengan ketinggian 200 meter di atas permukaan laut (mdpl) hingga 600 mdpl.

Pada Oktober 1911, J. H. de Bussy mencatat, jika distrik Pakis (Pakis, Tumpang, Jabung) dan Ngantang (Ngantang, Kasembon, Pujon) -dua daerah di Malang yang sebelumnya dinyatakan bebas penyakit pes-, secara massif dan sporadis diserang habis-habisan. Menurut data Zeitschrift fur Hygiene, sebelumnya, dua daeeah ini bebas pes lantaran perbedaan klimatologi. Sehingga bakteri penyebab pes tidak mampu berkembang biak di kedua wilayah ini.

Dokter Tjipto Karena berkonflik dengan Controuler Afdeeling Malang. Beberapa sumber menyatakan konflik terjadi karena instruksi Controuler Afdeeling yang tidak masuk akal. Pada Desember 1911 dr. Tjipto keluar dari tim dokter dan memilih bergabung dengan Douwes Dekker di Surabaya. Namun pada Januari 1912, dr. Tjipto mendapat bintang tanda jasa dari Kerajaan Belanda (dikembalikan pada September 1912).

Membasmi sarang tikus untuk mencegah wabah pes. (Foto : Neville Keasberry)

Pada Juli 1912, lengkap sudah seluruh desa di wilayah Malang disergap penyakit sampar ini. Dampak semakin meluasnya penderita penyakit pes, akhirnya pemerintah Afdeeling Malang memberlakukan isolasi (catatannya adalah isolasi, bukan karantina) di wilayah epidemi pes.

Turen adalah wilayah pertama yang dijadikan pilot project isolasi ini. Dalam project isolasi ini, sebuah wilayah (desa/kecamatan) di Turen dijadikan uji coba. Penduduk yang belum terjangkit pes, dievakuasi keluar wilayah Turen, sedangkan warga Malang yang terjangkit pes dipindahkan ke Turen.

Dalam sebuah laporan berjudul “Mededeellngen van den Dienst der Volksgezondheid In Nedherlandsch Indie” September 1912, dr. de Vogel melakukan penelitian di distrik Karanglo (Karangploso, Singosari, Lawang), Sengguruh (Kepanjen dan sekitarnya), serta distrik Ngantang.

Dalam penelitian tersebut, selain baksil “yersinia pestis” sebagai penyebab penyakit pes, wilayah Malang juga terserang parasit “Trypanosoma” atau penyakit “surra”. Parasit yang banyak dibawa lalat dan menyerang syaraf manusia sehingga mengakibatkan penyakit tidur, pingsan hingga kematian. Selain manusia, parasit ini secara sporadis juga menyerang hewan.

Isolasi dan evakuasi di wilayah Turen “dianggap” kurang efektif, karena wabah pes dan trypanosoma sudah demikian cepat menyebar di wilayah Malang. Apalagi di Ngantang, trypanosoma berkali-kali lipat berkembang lebih cepat dibanding Sengguruh dan Karanglo.

Akhirnya pada Oktober 1912, Malang dinyatakan berstatus endemik pes dan surra. Hal ini memiliki konsekuensi logis yang cukup besar, dimana menurut J. A. Barth dalam “Deutsche Tropenmedizinische Monatsschrift: Archiv für Schiffs- und Tropen-Hygiene”, Volume 16, pada Oktober 1912, bukan hanya wilayah Turen sebagai wilayah isolasi, namun dr. de Vogel meningkatkan status seluruh wilayah afdeeling Malang menjadi “Cordon Sanitaire”.

Membasmi sarang tikus untuk mencegah wabah pes. (Foto : Neville Keasberry)

Istilah “Cordon Sanitaire” dalam dunia medis ini pernah dipakai ketika fase “black death” atau maut hitam di Eropa. Saat wabah pes melanda Eropa di abad 14, lebih dari 200 juta orang diperkirakan meninggal. Saat itu dokter dan paramedis kehabisan akal dan cara untuk mengatasi wabah pes yang mengganas.

Akhirnya, penduduk Eropa mengambil caranya sendiri, tidak saling bersosialisasi dan acuh tak acuh. Rumah penduduk golongan rendah dan miskin yang dianggap penyebar pes, dibakar habis. Mayat-mayat bergelimpangan dimana-mana.

Di Malang sendiri, menurut catatan resmi Pemerintahan Afdeeling Malang, pada tahun 1911 terdapat 394 korban pes, 1912 berjumlah 424, 1913 ada 2018 korban, 1914 berjumlah 2252 korban dan di tahun 1915 ada 74 korban. Namun data resmi ini pada tahun 1912 dibantah J. A. Barth, dimana menurutnya, pada tahun 1912 saja, di Afdeeling Malang terdapat 1581 korban endemi penyakit pes.

Dari jumlah tersebut, 762 korban di Penanggungan, 558 di distrik Karanglo, 123 di Turen, 59 di Kotta Malang, 33 di Ngantang, 22 di Gondanglegi serta di Sengguruh ada 22 korban.

*Pegiat sejarah dan literasi

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini