Asian Games 1962 : Bung Karno Serukan “Dedication of Life”

Presiden Sukarno menghadiri pembukaan Asian Games 1962 di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta. (Foto : Repro di bawah bendera revolusi).

Oleh : Faishal Hilmy Maulida*

Terakota.id–Asian Games ke-IV 1962 di Jakarta tidak hanya menjadi ajang pertarungan atlet-atlet se-Asia dalam merengkuh medali paling banyak. Gengsi negara dipertaruhkan, tak terkecuali bagi Indonesia yang baru saja merayakan ulang tahun ke-17. Di usia yang sangat muda telah dipercaya sebagai penyelenggara pesta olahraga terbesar di Asia. Presiden Republik Indonesia, Sukarno turun gunung untuk membakar semangat para atlet  menjelang pelaksanaan ajang yang pertama kali diselenggarakan di Indonesia.

Demi mengharumkan merah putih di muka publiknya sendiri, olahragawan dari berbagai macam cabang olahraga itu dikumpulkan oleh Presiden di halaman tengah Istana Merdeka, Jakarta pada 22 Agustus 1962. Kurang dua hari menjelang pembukaan Asian Games IV yang dilaksanakan mulai 24 Agustus 1962 sampai 4 September 1962.

Pada kesempatan itu Bung Karno memberi pidato kepada para atlet yang akan bertarung (ANRI, Inventaris Arsip Pidato Presiden, No. Arsip 414). Ia menyerukan kepada seluruh atlet yang akan bertanding untuk berpegang teguh pada “Dedication of Life”. Artinya setiap manusia yang ingin mendapat pencapaian tinggi mutlak harus mempersembahkan dan mengabdikan seluruh hidupnya pada hal yang ingin dicapai itu.

“Maka perlu mutlaknya “Dedication of Life” itu pada saat sekarang ini yang saudara-saudara tidak lama lagi akan masuk gelanggang sebagai wakil dari bangsa Indonesia dan negara Republik Indonesia, saya ulangkan lagi dan saya tekankan lagi,” pesan Bung Karno kepada para hadirin.

Dalam pidatonya kemudian Bung Karno membandingkan dirinya saat muda, ketika usia belasan tahun, orang tua Sukarno telah mengajarkan pada dirinya untuk berpengang teguh pada dedikasi hidup. Hingga pada akhirnya Sukarno mendedikasikan seluruh hidupnya untuk tercapainya cita-cita nasional. Menjadikan bangsanya merdeka meski harus berulangkali keluar masuk penjara pemerintah Hindia Belanda.

“Umur 16 tahun saya sudah menjadi anggota daripada gerakan pemuda. Umur 18 tahun saya sudah menjadi anggota daripada partai politik, dan baik dalam gerakan pemuda maupun dalam gerakan partai politik selalu saya dedicate hidup itu dengan semutlak-mutlaknya,” ujarnya.

Untuk kembali membakar semangat kontingen Indonesia, Sukarno meminta para atlet untuk berkaca pada ajaran-ajaran pendahulu yang turut serta dalam perjuangan mendirikan Republik. Ia memberi contoh pada sosok Dr. Setiabudi dan Dr. Tjipto Mangunkusumo. Kedua tokoh ini mengajarkan Sukarno untuk bekerja tidak setengah-setengah. Karena Tuhan-pun tidak senang kepada orang bekerja setengah-setengah. Tuhan hanya mencintai orang-orang yang memiliki dedikasi untuk hidupnya.

Melalui perjuangan yang tak kenal henti itu, dengan bekerja siang malam setiap hari untuk membuka mata rakyat, membangunkan, dan membangkitkan jiwa rakyat terhadap pentingnya hidup merdeka tidak lagi sebatas menjadi budak. Ketekunan dan pengorbanan itu pada akhirnya membuahkan hasil. Ada yang berkorban hingga belasan kali masuk penjara hingga meninggal di penjara tanpa pernah merasakan kemerdekaan, semua dilakukan dengan dedikasi yang tinggi.

“Diseluruh Indonesia waktu itu pemimpin yang dipenjara ada 116.000 orang. Ada yang dibuang tidak dimasukkan dalam penjara tetapi dibuang ke hutan rimba di Boven Digul 2.000 orang lebih, dari jumlah itu 300 di antaranya dipindahkan lagi ke Tanah Tinggi, ketika dipulangkan hanya bersisa 64 orang, ada juga yang di buang di Pulau Banda, Moting, dan lain-lain. Mereka semua berkorban untuk ibu pertiwi dengan hati yang ikhlas,” ungkap Bung Karno.

Dengan perjuangan dan pengorbanan yang begitu besar dari para pendahulu, Sukarno mengamanatkan kepada generasi penerus untuk mengisi kemerdekaan yang telah diraih. Mendedikasikan dengan penuh kesungguhan, termasuk kepada para atlet yang akan membawa nama ibu pertiwi di Asian Games pertama yang diselenggarakan di Jakarta.

Sukarno mengibaratkan ibu pertiwi itu sebagai putri cantik yang sanggulnya harus dirias dengan berbagai macam bunga. “Tanah air ini kita umpamakan sebagai ibu pertiwi, ibu kita yang cantik, yang lama menderita. Marilah sekarang kita hias ibu kita ini dengan berbagai macam bunga yang harum, yang permai, yang indah,” katanya.

“Engkau dapat mempersembahkan bunga apa? melati, persembahkan melati. Engkau mempersembahkan apa? bunga mawar? berikanlah mawar. Engkau mempunyai bunga kenanga? Persembahkanlah,” tegasnya. Pendek kata, menurut Sukarno, tiap-tiap orang harus bisa mempersembahkan sesuatu dengan persembahan seikhlas-ikhlasnya. Dedication of life adalah kewajiban semua orang Indonesia.

Sukarno menjelaskan perumpamaan itu semisal ahli berperang harus mempersembahkan tenaganya dalam angkatan bersenjata. Ahli perguruan, harus mempersembahkan tenaganya dalam lapangan pendidikan dan pengajaran. Ahli pertanian harus mempersembahkan tenaganya di lapangan pertanian.

“Di zaman modern ini  ada lagi lapangan yang dinamakan lapangan olahraga saudara-saudara. Dan sekarang, sekarang semua harapan dititipkan kepadamu, he olahragawan-olahragawan, sekarang Ibu Pertiwi itu minta dipersembahi olehmu dengan prestasimu yang setinggi-tingginya.” pesan Bung Karno kepada para atlet dalam pidato pamungkasnya. (*)

*Mahasiswa Magister Ilmu Sejarah, Universitas Indonesia

Email: hilmyfm92@gmail.com

Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan ke email : redaksi@terakota.id. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini