Asal Usul Indonesia di Bumi Manusia

Pram, mengingatkan kalau Indonesia ciptaan kita bersama, rakyat Indonesia. Bukan ciptaan Belanda, melainkan kerja kreatif revolusioner dari rakyat Indonesia. Bukan juga mengacu pada pulau-pulau India. Meski begitu, Pram juga masih mempertanyakan asal usul nama Indonesia. Bagi Pram, nama Nusantara atau Dipantara dirasa lebih cocok

Max Lane dalam bedah buku karyanya "Indonesia Tidak Hadir Di Bumi Manusia: Pramoedya, Sejarah, dan Politik,” di Kafe Pustaka Universitas Negeri Malang, Senin 2 Oktober 2017. (Terakota.id/HA. Muntaha Mansur)

Terakota.id–Indonesia bukan nama Negara atau bangsa yang tiba-tiba muncul dari bawah tanah. Bukan pula langsung diturunkan Tuhan dari langit, seperti hujan. Dari mana asal-usul Negara bernama Indonesia? Apakah hasil dari kreasi, bentukan, atau warisan kolonial? Atau hasil kerja bersama anak semua bangsa yang melawan penjajahan.

Sastrawan besar, Pramoedya Ananta Toer menghadirkan ihwal asal-usul Indonesia dalam tetralogi Bumi Manusia, Pram seolah mereka-reka ulang kronik terbentuknya nasion, Indonesia. Pram menarasikan gerakan rakyat bahu-membahu, silih-berganti, bahkan menyesuaikan kenyataan sebagai bentuk resistensi terhadap kebusukan kolonial.

“Pram mempertanyakan Indonesia datang dari mana. Indonesia adalah sesuatu yang baru. Ia bukan gabungan etnis-etnis. Kebudayaan Indonesia adalah kebudayaan yang berkembang atau surut setelah kemerdekaannya,” kata penulis Max Lane kepada Terakota.id usai bedah buku Indonesia Tidak Hadir Di Bumi Manusia: Pramoedya, Sejarah, dan Politik di Kafe Pustaka Universitas Negeri Malang pekan lalu.

Pramoedya berbicara mengenai asal usul Indonesia melalui anak rohaninya, Tetralogi Bumi Manusia, membuat max lane kepincut untuk menyelaminya lebih dalam. Bermula ketika ia diperkenalkan dengan novel Bumi Manusia oleh seorang mahasiswa Indonesia pada sekitar tahun 1980-an. Secara spontan, Max Lane langsung tertarik pada sosok dan karya Pram. Setelah membaca karya Pram, Max Lane memikirkan banyak hal.

Ketertarikan dengan karya Pram, buktikan dengan menerjemahkan karya-karya Pramoedya. Tetralogi Buru atau Tetralogi Bumi Manusia; Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca, ia terjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. Selain itu ia juga menerjemahkan novel Arok Dedes dan Hoakiau di Indonesia. Tidak berhenti di situ, Max Lane kemudian menyusun satu karya reflektif nan teoritik berkaitan dengan Tetralogi Bumi Manusia-nya Pram. Buku itu berjudul “Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia: Pramoedya, Sejarah, dan Politik,” terbit 2017.

Max Lane kepada Terakota.id, menyatakan melalui bukunya ia mendorong banyak orang untuk membaca karya Pram. “Saya ingin buku ini bisa mendorong orang-orang membaca Pram dan pemikiran-pemikirannya dalam menggali asal-usul Indonesia,” jelasnya.

Baginya, membicarakan asal usul Indonesia amat penting untuk membayangkan Indonesia masa depan. “Mengapa Indonesia menjadi seperti ini sekarang, kalau Anda tidak puas, harus dicari. Mengapa Indonesia menjadi seperti sekarang.

Pada tahun 1980an, pertanyaan-pertanyaan seperti apakah Indonesia akan terus di bawah Orba, apakah Indonesia akan berubah atau tidak, kalau berubah menjadi apa, muncul di benak saya,” ungkap Max Lane.

Pram, menurut Max Lane, ingin mengingatkan kalau Indonesia ciptaan kita bersama, rakyat Indonesia. Bukan ciptaan Belanda, melainkan kerja kreatif revolusioner dari rakyat Indonesia. Bukan juga mengacu pada pulau-pulau India. Meski begitu, Pram juga masih mempertanyakan asal usul nama Indonesia. Bagi Pram, nama Nusantara atau Dipantara dirasa lebih cocok.

Dalam bukunya, ia menulis bahwa kesatuan karya Pram, baik itu Tetralogi Bumi Manusia, maupun Arok Dedes, Arus Balik, serta naskah drama Mangir, mewakili sejarah Nusantara dari abad ke-11 hingga lahirnya Indonesia di abad ke-20. Tetralogi Bumi Manusia misalnya, menceritakan kisah epic yang memakan waktu lebih dari satu dekade. Banyak karakter dan tempat dilibatkan. Max Lane menyebut sejarah bukanlah latar belakang cerita, tetapi sejarah itulah ceritanya.

Tokoh utama dalam Tetralogi Bumi Manusia, Minke, dikemudian hari dikenal sebagai tokoh nyata. Minke sebenarnya adalah Tirto Adhi Soerjo. Seorang tokoh awal pergerakan nasional. Max Lane menunjukkan kejeniusan Pram dalam menggambarkan Minke dengan dua karakter yang berbeda. Pertama Minke sebagai remaja, cengeng, suka main mata dengan perempuan bernama Annelis, dan masih diajari Nyai Ontosoroh. Dan kedua Minke sebagai pribadi yang berurusan dengan kekuasaan  dan melibatkan diri dalam kemelut pergerakan.

Max Lane dalam bedah buku karyanya “Indonesia Tidak Hadir Di Bumi Manusia: Pramoedya, Sejarah, dan Politik,” di Kafe Pustaka Universitas Negeri Malang, Senin 2 Oktober 2017. (Terakota.id/HA. Muntaha Mansur)

Usaha Pram untuk memahami bagaimana sebuah bangsa membentuk dirinya sendiri melalui karyanya menjadi sumbangsih yang teramat penting. Tetraloginya tak ubahnya sebuah cermin yang memantulkan tegangan antara penjajah dengan rakyat. Max Lane menyebut setidaknya tiga fase dinamika abad ke-20 dalam Tetralogi Bumi Manusia. Peran utama di awal-awal diperankan oleh kaum priyayi. Dimana Minke mendirikan Sarikat Priyayi.

Akhirnya mereka tidak berhasil dan kalah. Selanjutnya, peran perubahan dilakukan oleh kelompok pedagang atau borjuis yang dianggap lebih leluasa. Hal ini ditunjukkan dengan berdirinya Sjarikat Dagang Islamijah, sampai kemudian menjadi Sjarikat Islam. Sama dengan sebelumnya, fase ini belum mampu mengusir kolonial dan kalah.

Pram kemudian di fase ketiga, menunjukkan karakter-karakter baru yang beragam di Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Bukan hanya kaum pedagang. Tidak hanya kelompok Islam. Ada karakter-karakter baru seperti Haji Misbach, Sang Haji Merah. Muncul nama Siti Sundari yang mendirikan sekolah bagi rakyat. Ada jurnalis yang terinspirasi oleh Minke, Marco. Dan ada juga si komunis pekerja kereta api, Semaun.

“Si pekerja kereta api sudah mulai hadir sebagai pelaku sejarah. Segera bergabung juga si buruh perkebunan dan pegawai pegadaian,” tulis Max Lane di dalam bukunya.

Tidak hanya menunjukkan tegangan perlawanan. Tetralogi Bumi Manusia juga menunjukkan dua kekuatan utama yang mendorong terbentuknya kehidupan ekonomi Hindia Belanda. “Kekuatan yang pertama adalah kapital Belanda, yang cara kerjanya dijelaskan oleh Jurnalis Ter Haar kepada Minke dengan perumpamaan kanker yang menyebar namun sebenarnya lebih konkret daripada itu,” tulis Max Lane.

Ada juga, menurut Max Lane, Monster “Gula” yang dengan kekuatannya mampu menyensor pers, menekan pemerintah dan mengatur ekonomi.

Unsur bahasa yang menjadi kunci pembentukan nasion juga tak luput ditulis Pram. Pram menggambarkan awal mula proses ketika bahasa Melayu berkembang dan menjelma menjadi bahasa bersama. Kebutuhan nyata interaksi yang lebih luas dan lebih dalam memungkinkan bahasa Melayu kian bergaung.

Di akhir wawancara, di saat bedah bukunya “Indonesia Tidak Hadir Di Bumi Manusia: Pramoedya, Sejarah, dan Politik,” di Kafe Pustaka Universitas Negeri Malang, Senin 2 Oktober 2017, Max Lane mengingatkan pentingnya menggali lebih dalam pemikiran Pram. Selain itu, Max Lane juga memotivasi generasi muda untuk menganalisis kenapa revolusi nasional-sosial Indonesia gagal. Dan mengapa Indonesia menjadi seperti sekarang ini?

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini