Arung Sekaran : Penyedia Air Bersih bagi Permukim Kuno

Seorang warga masuk ke dalam Arung Sekaran,. (Foto : dokumen pribadi).

Oleh : M. Dwi Cahyono*

Arung, Prasarana Penyedia Air Besih

Terakota.id–Salah satu unsur fisis-alamiah yang penting bagi pemenuhan kebutuhan akan makan dan minum adalah air, tepatnya air bersih. Oleh karena itu, keberadaan air menjadi pertimbangan untuk memilih suatu tempat sebagai tempat bermukim (settlement). Hal demikian jelas tergambar pada tinggalan sejarah dan arkeologi, di mana situs permukiman acap memilih lembah sungai, telaga, atau areal yang memilkiki sumber air sebagai areal bermukim manusia di masa lalu. Terlebih bila air tanah sulit untuk didapatkan atau terlampau jauh untuk didistribusikan dari suatu sumber air ke permukiman.

Berdasarkan keberadaan air pada muka tanah, terdapat (1) air pemukaan dan (2) air bawah permukaan. Air yang berada di bawah permukaan tanah, yang dinamai “air tanah”, dieksplorasi dengan (a) membuat galian tanah secara vertikal dalam bentuk “sumur gali”, atau dengan (b) membuat galian tanah secara horisontal pada suatu tebing tanah padas beberapa meter di bawah permukaan tanah sekitar dalam bentuk “arung”. Dengan demikian, bila di suatu tempat tak tersedia air bersih yang berada di permukaan tanah (air permukaan), maka mau tidak mau dibuat galian tanah. Baik secara vertikal ataupun horisontal, untuk mendapatkan air bersih yang berada di dalam tanah.

Air bersih yang berada di tempat tertentu, yang dibutuhkan oleh pemukim yang tinggal di suatu tempat yang berjarak darinya didistribusikan dengan beragam cara. Yaitu dengan jalan (a) mengangsu menggunakan wadah air, atau dengan (b) membuat saluran air. Ada beragam saluran air menurut keberadaannya pada muka tanah, yaitu : (1) saluran air yang dibuat dengan membuat parit panjang (weluran) di permukaan tanah, (b) saluran air di atas permukaan tanah (talang, torong), atau (c) saluran air di bawah permukaan tanah (arung, kini disebut dengan “gorong-gorong”). Teknik distribusi air yang lebih maju menggunakan pipa dari baragam bahan, seperti pipa bambu, pipa kayu, bipa tanah liat bakar (terakota), pipa dari batu andesit, pipa plastik atau fiber, dan pipa logam.

Pipanisasi telah dikenal lama dalam budaya Nusantara. Bahkan sejak Masa Hindu-Buddha dalam bentuk pipa bambu, pipa kayu, pipa terakota dan pipa dari batu andesit. Bahkan, pada pipi-pipa kuno tersebut telah ada indikasi membuat percabangan pipa dalam pola huruf “L” atau “T”. Terdapat pipa air yang berada di permukaan, dan ada pula yang ditempatkan di bawah lanta atau dinding, seperti yang acap hadir di situs patirthan. Dengan adanya pipa tersebut, maka air bisa didistribukan hingga jarak cukup jauh dari sumber air bersih. Arung merupakan semacam “pipa amat besar” di bawah tahah, yang dibuat dengan jalan menggali lapisan tanah padas, utananya padas keras (curing), secara horisontal.

Baca juga :  Laut dan Maritimisme yang Meregang

Penggalian tanah, baik secara vertikal ataupun horisontal, untuk mendapatkan air tanah tidak mampu dilakukan oleh sembarang orang. Ada orang-orang tertentu yang memiliki keahlian khusus untuk menggali sumur, yang dinamai “tukang sumur”. Penggali arung dalam sumber data prasasti disebut dengan “undagi (undahagi) pangarung”. Cara galinya mengingatkan kita kepada insekta “gangsir dan orong-orong” dalam membuat lorong bawah tanah sebagai tempat tinggalnya. Oleh karena itu, dapat dipahami bila taknik gali yang demikian itu disebut dengan “nggangsir”, dan serupa dengan nama antara “gorong-gorong” sebagai lubang gali horisontal buatan dengan”orong-orong” yang menunjuk kepada insekta pembuatnya.

Konon terdapat pencuri (maling) tertentu yang mencuri dengan jalan “menggangsir” tanah untuk bisa memasuki ruang di balik dinding bangunan. Ada pula sebutan “maling curing”, yang mencuri dengan cara membuat lobang gali horisontal pada lapisan tanah padas keras (curing). Pada masa yang lebih modern, pembuat terowongan dibawah tanah untuk eksplorasi bahan mineral tambang ataupun prasarana transporasi pada dasarnya juga menggunakan teknik “nggangsir”. Binatang seperti gangsir, orong-orong, tikus, kelinci, landak, dan sebagainya. yang terbilang jagoan dalam membuat lubang gali tanah secara horizontal. Adalah para “inspirator” pada diri manusia masa lalu dan kini untuk membuat galian horisontal

Arung pada Situs Sekaran

Jejak budaya masa lampau di situs Sekaran bukan hanya berupa tinggalan artefaktual yang berbentuk bangunan permukiman dan perangkat hidup sehari-hari, namun juga betupa tinggalan ekofaktual. Jejak ekofaktual tersebut antara lain berupa weluran dan arung. Weluran dibuat dengan menggali permukaan tanah hingga pada lapisan tanah padas untuk fungsi irigasi dan drainase, yang berujung di DAS Amprong.

Sejauh ini telah ditemukan, dua tempat yang memberi indikasi bahwa ada kesengejaan untuk membuat galian relatif lurus di sisi kanan-kiri pada lapisan tanah padas sebagai saluran air. Adapun arung, yang paling tidak terdapat tiga buah, berada di tebing tanah padas (sekitar 5-6 meter dari muka tanah di sisi barat-atas) pada lembah barat alian Kali Amprong, yang pada lokasi ini alirannya berbelok. Mulut arung berada dekat dengan tenpat bertemunya ujung weluran dan sungai kecil (kalen) di sekitar situs Sekaran.

Baca juga :  Ema Menyemai Benih, Cucu Menjaga Tradisi
Proses ekskavasi memasuki hari kedelapan ditemukan pondasi paduraksa dan altar. Sehingga diperkirakan situs Sekaran merupakan bangunan suci. (Terakota/Eko Widianto).

Pada hari Sabtu, 6 April 2019 beberapa warga Dusun Sekaran menggali ulang salah satu mulut arung yang tertimbun oleh tanah urug galian tol dan endapan alamiah di dalam lobang arung. Penggalian belum bisa rampung dalam sehari, dan akan dilanjut di hari-hari berikutnya. Gali ulang ini juga bermaksud untuk menemukan kembali saluran pemukaan dari mulut arung ke arah Kali Amprong yang berjarak sekitar 20 meter, yang kini tertutup tanah dan ditumbuhi semak belukar.

Paling tidak, dengan upaya ini kelak diperoleh gambaran mengenai salah sebuah arung yang berada di sekitar situs. Boleh jadi keberadaannya terkena jalur tol yang akan digeser 12 meter ke arah timur — ke arah aliran Kali Amprong — dari rencana jalur tol Mapan semula.

Hasil penggalian ulang menjukkan bahwa mulut arung menghadap ke timur, ke arah aliran Kali Amprong. Ukuran mulut arung sekitar 120 centimeter dan setinggi orang dewasa sekitar 175 cm, bila endapan tanah di dasar arung dibersihkan. Langit-langit arung berbentuk lengkung. Inkator galian buatan (atificial) tampak pada dinding dan langit-langit arung, yang konon dibuat dengan benda tajam yang kini serupa linggis, ganco, pacul, dan skrop.

Beberapa meter dari mulut arung, telihat lobang arung yang mengarah utara-selatan membolok ke barat dan seterusnya hingga sampai pada titiik utama dari sumber air bersih di dalam tanah (punjering banyu). Jelas bahwa lobang arung dibuat untuk mengalirkan keluar secara lebih lancar air tanah yang berada di dalamnya, sehingga bisa difahami bila tanah tendapan yang kini menutupi sebagian lobang arung dalam kondisi basah.

Jejak Tata Air Kuno di Situs Sekaran

Sebagai hunian pada Masa Hindu-Buddha, paling tidak pernukiman kuno di Sekaran telah terdapat semenjak awal abad X hingga XV Masehi. Ada “kalkulasi ekologis” untuk memilihnya sebagai areal permukiman. Situs Sekaran terletak di sebelah barat DAS Amprong, yang pada areal ini alirannya berbentuk meander. Data artefaktual maupun ekofaktual menunjukkan bahwasanya semenjak Zaman Prasejarah hingga masa-masa sesudahnya ada kecenderungan untuk memilih areal tinggal dan melakukan aktifitas budaya di aliran sungai yang berbentuk meander.

Terlebih lagi apabila areal itu berada di sekitar pertemuan sungai (tempuran). Situs pemukiman Sekaran berada di DAS Amprong yang bentuk alirannya meander dan berada di sekitar tempuran Kali Jilu yang ber-tuk (mata air) di lereng selatan Gunung Tengger dan sungai kecil yang ber-tuk di lereng barat Bukit Buring (nama kuno “Gunung Malang”) dengan Kali Amprong. Oleh karena itu, dapatlah dipahami bila dusun di seberang timur Sekaran bernama “Tempuran”. Areal di sekitar tempuran dalam banyak contoh dipertimbangkan sebagai areal permukiman kuno.

Baca juga :  Sang Primadona

Berbeda dengan areal di seberang timur aliran Kali Amprong yang topografinya melereng ke barat — lantaran betada di lereng bawah Bukit Buring, Sekaran yang berada di sebelah barat aliran Amrong topografinya relatif rata. Sungai kecil dan saluran irigasi, yang kemudian menjadi saluran drainase di bagian pangkalnya, terdapat di sebelah barat DAS Amprong, tepat situs Sekaran ditemukan.

Selain itu, paling tidak ada tiga belik yang air bersihnya dipasok oleh tiga buah arung. Lahan yang mendapat pasokkan air dari saluran irigasi itu, maka potensial untuk budaya tanaman (agraris). Sekain itu berulang kali tepapar oleh material vulaknik dari Gunung Semeru jauh di sebelah timurnya dan Gunung Tengger- Bromo jauh di sebelah utaranya dalam lintas masa.

Agraris merupakan pencaharian pokok dari para pemukim kuno pemangku situs Sekaran, seperti terbukti oleh temuan beberapa lumpang batu (stone mortar) dan pipisan. Berkat pertaniannya yang surplus, maka menurut keterangan dalam prasasti Pamintihan (1473 Masehi) desa kuno Pamintihan — yang konon wilayahnya meliputi Desa Sekarpuro dan Kelurahan Madyopuro (termasuk di dalamnya Dusun Ngadipuro) sekarang — menjadi desa (thani) yang maju pada zamannya.

Dengan demikian cukuplah alasan untuk ditetap sebagai desa perdikan (sima) atau desa yang otonom (swatantra). Kemajuan di thani Pamintihan bisa jadi telah berlangsung sebelumnya, yakni di masa keemasan kerajaan Majapahit (abad XIV Masehi), Pamintihan masuk dalam areal dalam (watek i jro) kadatwan (kedaton, keraton) Nagari Kabalan yang kala itu diperintah oleh Bhattara i (Bhre) Kabalan yang bernama gelar (abhiseka) “Kusumawarddhani”.

Lubang arung dibuat untuk mengalirkan keluar secara lebih lancar air tanah yang berada di dalamnya, (Foto : dokumen pribadi).

Pendek kata, bersama dengan Madyopuro, Lesanpuro dan Ngadipuro, wilayah Sekarpuro merupakan areal perkotaan di masa lampau (ancient city). Tinggalan historis, arkeologis dan paleo-ekolidi pada tempat- tempat berusur nama “puro (istlah arkhais “pura”, berarti : kota) itu memberi gambaran mengenai pernah adanya peradaban arkhais di lembah Kali Amprong.

Apabila benar bahwa situs Sekaran merupakan areal permukiman pada wilayah perkotaan kuno, maka tata air, baik untuk pemenuhan kebutuhan air bersih, saluran irigasi untuk pertanian dan saluran drainase ke areal buang pada DAS Amprong menfaat porsi perhatian.

Tinggalan ekofaktual yang berupa weluran untuk irigasi dan drainase maupun arung untuk pemenuhan akan air bersih menjadi pembukti tentamg adanya rata air pada permukiman kuno di situs Sekaran dan selutarnya, sehingga jejak kelampauannya perlu direkam (recording) dan syukur apabila dapat dilestarikan dari pembangunan Tol Mapan.

Demikianlah paparan ringkas dan kajian awal mengenai arkeologi-ekologi di situs Sekaran. Tambahan data pada ekskavasi lanjutan akan dimanfaatkan untuk menelaah lanjut hipotesis ini. Semoga tulisan ini dapat membuahkan kefaedahan. Nuwun.

Sangkaling, 9 April 2019
Griya Ajar CITRALEHA

Arkeolog dan sejarawan Universitas Negeri Malang M. Dwi Cahyono meneliti keberadaan situs peninggalan masa Kerajaan Majapahit.

*Arkeolog dan sejarawan Universitas Negeri Malang

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini