Artistik, Rumah Budaya Kampung Cempluk Berbahan Bambu

Oleh: Redy Eko Prasetyo*

Terakota.id–Kabar gembira. Impian Warga Sumberjo (Kampung Cempluk),Kalisongo Dau Kab.Malang untuk mewujudkan sebuah wahana “Lumbung Ide” warga, berupa “Rumah Budaya Kampung Cempluk” segera terwujud. Perguruan Tinggi Negeri di Kota Malang, Universitas Brawijaya (UB), siap bekerjasama demi mewujudkan keinginan warga ini.

Tim ahli dari Badan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (BPPM) Fakultas Tehnik Universitas Brawijaya menyatakan siap membantu. Lokasi Kampung Cempluk yang berdekatan dengan Kampus II UB, Jalan Dieng Atas, menjadi pertimbangan khusus bagi mereka. Melalui program pengabdian masyarakat terpadu, Bhakti Budaya UB, menyatakan bahwa mereka siap menjadi bagian dalam pembangunan kampung. Adapun tim pengabdian masyarakat terpadu diantaranya; Dr. Eng. Herry Santosa, ST, MT, Dr. Eng. Novi Sunu Sri Giriwati, ST, MSc, Ir. Chairil B. Amiuza, MSA, Ir. Sigmawan Tri P., MT, M. Satya Adhitama, ST, MSc, Aris Subagyo, ST, MT, dan Dr. Eng. Yatnanta Padma Devia, ST, MT.

Komunikasi kultural telah dilakukan. Tokoh Masyarakat dan Pemuda Dusun Sumberjo (Kampung Cempluk) telah berdiskusi dengan tim Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Fakultas Tehnik UB dalam acara Sonjo Kampung yang diadakan warga. Dari sana, diskusi dan saling silang ide terjadi. Mereka sepakat untuk mengadakan sarasehan yang membahas perencanaan dan perancangan Rumah Budaya Kampung Cempluk.

Sarasehan itu akhirnya terlaksana pada Rabu, 1 November 2017, di balai RW 1 Sumberjo (Kampung Cempluk) Dau Kab.Malang. Mereka, tim dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Fakultas Tehnik Universitas Brawijaya, telah membantu membuatkan konsep desain Rumah Budaya Kampung Cempluk. Dimana nantinya, bahan dan piranti terbuat dari bambu. Diantara yang hadir ada beberapa pakar tentang bambu dan arsitek. Mereka memang sengaja diterjunkan untuk membantu bagaimana Rumah Budaya Kampung Cempluk ini bakal tereaslisi. Adapun konsep dasar dari desain, mengacu dari logo Kampung Cempluk. Yaitu berupa damar atau lampu penerang dengan minyak tanah. Inilah yang sering disebut sebagai cempluk.

Rumah budaya ini, dari gambarnya, sangat cocok untuk menjadi wahana lumbung ide warga. Di rumah budaya itu lah nantinya, warga akan berkegiatan, berdiskusi, dan melakukan aktivitas produktif nan kreatif. Desain unik, artistik serta ramah lingkungan sengaja di tawarkan oleh tim dari Universitas Brawijaya dengan tetap mengacu pada lokalitas dan ikon Kampung Cempluk.

Ketua BPPM FT UB, Dr. Eng. Denny Widhiyanuriyawan, ST, MT, menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini merupakan aplikasi kongkrit UB dalam membumikan Tri Dharma Perguruan Tinggi, pengabdian. Sehingga masyarakat dan kampus berjalan senergis. Tujuannya tidak lain untuk memperkaya keilmuan dan mendukung geliat kreatiatifitas yang tumbuh di dalam Masyarakat. Menurut Denny, ini lah yang kita maksud dengan bentuk Bhakti Budaya UB.

“Melalui kebudayaan, keragaman potensi yang ada di masyarakat yang tentunya menuju masyarakat yang bermartabat dan berbahagia mudah untuk terajut,” jelasnya.

Berbahan bambu, Rumah Budaya Kampung Cempluk, segera dibangun. (Sumber: Dok. Warga)

Warga menyambut dengan antusias desain Rumah Budaya yang ditawarkan. Meski pembangunan sudah setengah jalan, para warga tidak merasa keberatan untuk diganti dan disesuaikan dengan desain yang baru. Hanya saja warga mengungkapkan kalau mereka membutuhkan bimbingan untuk perawatan bangunan dari bambu. Sehingga, bangunan dari bambu itu akan bertahan lama dan tidak mudah lapuk.

Selain itu, pendanaan pembangunan rumah budaya juga menjadi tugas bersama. Warga berharap UB bisa membantu mencarikannya. Baik itu dari pihak internal UB, maupun melalui Corporate Social Responsibility (CSR).

Redy Eko Prasetyo (Sumber: Dok.Pribadi)

*Pembakti Kampung Cempluk

Tinggalkan Balasan