Aroma Mitologis dari Bunga-bunga

aroma-mitologis-dari-bunga-bunga
Ilustrasi : @lauramg443gmail.com

Terakota.idSebagaimana seekor kumbang, atau lebah, atau kupu-kupu, saya selalu terpesona pada bunga-bunga. Dan bila ada yang iseng meminta saya memilih hadiah: antara senapan angin atau benih bunga, tentu saja tanpa ragu saya akan memilih benih bunga. Anda pasti tahu, senapan angin seperti senjata pada umumnya: tak punya perasaan dan kerap kali salah digunakan. Beberapa hari yang lalu, teman saya baru saja mengunggah foto seekor burung hantu–dewasa, berwarna kelabu, dan menggemaskan — tengah berdarah kesakitan di balik kain yang membungkus badannya.

Kasihan sekali, komentarku menanggapi statusnya. Tak berselang lama, temanku yang saya yakin bukan pelakunya itu membalas: Ada bekas peluru dari daerah perut bawah tembus ke bagian leher dan sedang dalam perawatan. Biadab, batinku. Jika saja burung itu dapat berbicara dengan bahasa manusia, pasti ia akan mengumpat dan memaki tangan-tangan dungu yang telah memburu dan membuatnya terluka.

Orang memang bisa kerasukan iblis ketika menenteng senapan: entah ia pemburu, tentara, maupun polisi, dan kemudian melakukan tindakan yang tak bisa dieja dengan akal sehat dan nurani. Kita dapat menemukan tindakan itu dengan mudah hanya dengan mengulik mesin pencari di ponsel pintar kita; harimau, gajah, elang, dan lain sebagainya tewas dikoyak peluru para pemburu; Dan, banyak nyawa orang tak bersalah juga melayang akibat peluru yang dimuntahkan aparat.

Karena itu, bagi saya bunga-bunga tetaplah lebih menarik dibanding senapan. Ia akan membuat pekarangan rumahmu tampak hijau dan segar. Ia juga menjadikan beranda rumahmu—sekalipun mungil— terasa lapang dan indah. Dan, bila kalian percaya mitos, bunga-bunga juga dianggap membawa keberuntungan.

Gabriel Garcia Marquez, atau karib dipanggil Gabo, seorang sastrawan paling berpengaruh di seluruh dunia di abad kedua puluh, percaya akan hal itu. Ia mewarisi kepercayaan turun-temurun dari leluhurnya, bahwa mawar kuning selalu membawa keberuntungan.

Ketika itu ia sedang menulis di meja kerjanya dan mengalami kebuntuan. Berlembar-lembar kertas ia buang karena merasa mandek dan tak ada kemajuan seturut keinginannya. Ia lalu berhenti, mengalihkan pandang ke vas bunga, dan seketika itu ia menemukan masalah yang membuatnya terlihat seperti penulis amatir—tak ada mawar kuning di vas bunganya.

Ia memanggil istrinya, Mercedes, dan meminta dibawakan mawar warna kuning. Ajaib. Tak ada lagi kebuntuan dan segalanya berjalan lancar.

“Tak ada hal buruk yang bisa menimpaku jika ada bunga berwarna kuning di sekitarku. Untuk merasa aman, aku butuh bunga-bungaan berwarna kuning—aku lebih suka mawar kuning,” terang Marquez dalam sebuah wawancara di buku “Gabriel Garcia Marquez:Wawancara Terakhir dan Percakapan-percakapan lainnya”.

Dalam acara-acara penting, ia juga selalu menyematkan setangkai mawar kuning di saku atas jasnya. Termasuk ketika ia harus maju di hadapan banyak orang untuk menerima penghargaan Nobel Sastra tahun 1982. Semua orang yang menggumuli karyanya pasti tahu akan hal ini. Karenanya, waktu Sang Maestro meninggal, dan pemerintah Kolombia menetapkan tiga hari masa berkabung nasional, mawar-mawar kuning bertumpuk dan berjajar mengiring kepergiannya.

Saya yakin, ada banyak orang yang punya kepercayaan yang sama dengan Gabo. Misalnya, ketika saya datang ke penjual bunga di samping Stadion Wilis Kota Madiun, dan menawar beberapa kaktus untuk diletakkan di kedai kopi, penjual itu justru melarang. Alasannya, pohon kaktus berduri, dan pohon yang berduri tidak baik ditaruh di kedai atau dalam rumah.

Meski terdengar tak masuk akal, saya percaya begitu saja dan membatalkan rencana berbelanja kaktus.Lalu, laki-laki penjual bunga itupun menawarkan beberapa alternatif yang lebih cocok ditaruh dekat meja kasir atau dalam ruangan, dan menurutnya akan membawa aura postif. Saya kira, aura positif itu sangat penting bagi hidup kita. Anda tahu, orang yang selalu dikelilingi aura negatif akan selalu menyelewengkan amanah yang diembannya, menipu rakyat yang mempercayainya, dan menjual alam secara urakan.  Dan mereka akan melihat langit selalu mendung meski sedang cerah dan indah.

Penjual bunga itu, lalu menyodorkan kepada saya  Jade, Anthurium, Lucky Bamboo, Tanaman Kupu-kupu, Peace Lily, dan  nama-nama asing lainnya. Karena bingung memilih, akhirnya saya membeli Janda Bolong. Nama dan bentuknya unik: ada banyak lubang di daunnya.

Bunga-bunga, kalian tahu, juga kemudian tampil sebagai simbol perlawanan atas kekeraskepalaan senjata. Di Amerika, tahun 1967, ribuan orang melakukan aksi jalan kaki menuju Pentagon. Mereka mendesak pemerintah AS menarik pasukan dari perang Vietnam yang banyak menelan korban, baik dari pihak sipil maupun pihak tentara AS sendiri. Dan di antara ribuan demonstran, seorang anak muda bernama Kasmir, menyodorkan setangkai bunga kepada Garda Nasional. Mereka, generasi penolak perang itu, kemudian dikenang dan disebut sebagai Generasi Bunga.

aroma-mitologis-dari-bunga-bunga
Jan Rose Kasmir memprotes perang vietnam di Pentagon, Washington D.C. (Foto : Time/Marc Riboud—Magnum Photos)

Puluhan tahun sebelumnya, bunga juga tampil sebagai simbol perjuangan atas kesewenang-wenangan. Waktu itu 1 Mei 1886, hari bersejarah yang kini selalu diperingati sebagai Hari Buruh Internasional,ribuan buruh berkumpul di lapangan Haymarket, Chicago. Mereka menggelar mogok demi menuntut 8 jam kerja. Aksi itu berujung ricuh: menyebabkan delapan orang tewas ditembak, dan tiga orang dipenjara. Para aktivis kemudian mengenakan mawar merah sebagai simbol solidaritas kepada korban dan para buruh yang dipenjara.

Dan sejak itu, mawar menjadi bagian dari perayaan Hari Buruh. Kalau Anda kebetulan seorang pekerja, patut kiranya berterima kasih pada gerakan mereka ini. Jasa merekalah, saya kira, membuat kita dapat menikmati jam kerja yang jauh lebih baik.

Gerakan buruh perempuan, juga berhasil melambungkan mawar sebagai simbol perjuangannya. Lagu gubahan seorang aktivis buruh, berjudul “Bread and Roses”, kini identik dengan gerakan feminis: “Tak semestinya kami diperas sepanjang hayat/Hati pun bisa selapar perut/Kami butuh roti, juga mawar.”

Saya tidak tahu, kenapa mawar yang dipilih sebagai simbol perjuangan. Bisa jadi, karena ia cantik dan harum, tapi sekaligus berduri. Namun, saya tahu dan yakin akan hal ini, bahwa dunia akan semakin menyenangkan ketika lebih banyak orang menyukai bunga-bunga dibandingkan dengan senjata.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini