“Arjuna Mencari Cinta” di Panggung Sastra

Gaya penulisan Yudhistira oleh beberapa pihak dianggap memberikan perlawanan terhadap Orde Baru. Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid, dalam tulisannya “Meronta dan Berontak: Pemuda dalam Sastra Indonesia” (2011) mengatakan  Yudhistira memberontak terhadap tatanan. Gaya bahasanya khas anak muda yang tak mau tunduk zaman itu. Menurutnya, Novel Yudhistira bisa dikatakan “picisan” dalam artian ringan. Tetapi, ia berbobot dalam artian subversif dan menggugat kemapanan kaum elit Jakarta. 

Terakota.id–Alunan musik band indie Kerabat Swara menghentak, Auditorium Nuswantara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) Malang, Ahad 26 November 2017. Ratusan penonton menikmati dan menyimak lagu-lagu yang dibawakan band indie asal Malang. Termasuk lantunan lagu intermezzo, sejumlah penonton tak asing dengan liriknya.

“…/kok bisa begini/ aku tak tahu/ begini-begitu/ tanyakan pada hatimu/ kok bisa begitu/ aku tak tahu/..,” vokalis Kerabat Swara Antok Yunus menyanyikan lagu mengawali rangkaian acara Panggung Sastra untuk Indonesia. Auditorium Nuswantara biasanya digunakan untuk menyelenggarakan seminar dan diskusi bertema sosial-politik dan kepemerintahan. Tapi malam itu untuk pertama kalinya digunakan untuk panggung sastra.

Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UB, Antoni menyampaikan harapan agar kegiatan seni dan sastra diselenggarakan di FISIP. Riset komunikasi, menurutnya, bisa diperluas ke arah performance research. Tujuannya, untuk menegaskan ilmu tidak hanya kognitif, melainkan juga bisa diekspresikan dengan menarik.

“Acara semacam panggung sastra, harapannya, akan memperkuat riset komunikasi yang basisnya seni dan sastra. Puisi misalnya.” Panggung sastra untuk Indonesia diselenggarakan kerjasama Terakota.id dengan jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Brawijaya  bekerjasama dengan Pelangi Sastra Malang, Kerabat Swara, Lab.Comm, Aspikom, dan CapungArt.

Kerabat Swara membuka Panggung Sastra untuk Indonesia dengan lagu berjudul Intermezzo. (Terakota/HA. Muntaha Mansur).

Ketua Yayasan Terakota yang membawahi manajemen Terakota.id Luthfi J. Kurniawan mengapresiasi FISIP Universitas Brawijaya yang membuka ruang bagi kegiatan seni, sastra, dan budaya. Ruang apresiasi seni, sastra dan budaya menurut Luthfi semakin minim. Ia mencontohkan dulu Kota Malang memiliki Gelanggang Olah Raga (GOR) Pulosari, venue seni-sastra di Kota Malang.

“Sayangnya, saat ini telah berubah fungsi menjadi mall. Kami berharap, kampus, FISIP UB bisa menjadi venue baru,” kata Luthfi menjelaskan.

Sastrawan Yudhistira ANM Massardi hadir sebagai bintang tamu. Pria kelahiran Subang, Jawa Barat, 1954 ini dikenal dengan gaya menulisnya yang suka-suka. Semau Gue. Novelnya, Arjuna Mencari Cinta, dinobatkan sebagai novel bacaan remaja terbaik tahun 1977 dari Yayasan Buku Utama merupakan salah satu contohnya.

Baca juga :  Sendratari Kisah Leluhur Suku Tengger (3-Habis)

Dengan gaya bahasanya yang khas, tokoh pewayangan dibawa keluar dari pakem atau carangan manapun juga. Benedict Anderson, Indonesianis dari Universitas Cornell, dalam “Kuasa-Kata: Jelajah Budaya-budaya Politik di Indonesia”  menyebut novel Arjuna Mencari Cinta dan Arjuna Drop Out menyerang tatanan atau pakem budaya Jawa. Sejumlah tokoh wayang dalam kedua novel itu bertolak belakang dengan karakter asli dalam cerita pewayangan.

Yudhistira bisa dikatakan sebagai penyair “nakal.” Parodi menjadi ciri khasnya. Semasa mengawali proses kreatif di dunia sastra, Ia sudah memilih untuk tidak mengikuti gaya orang tua. Karena sikapnya yang seperti itu, Yudhistira sempat dimusuhi. Sajak Sikat Gigi, menurut Yudhistira, menjadi bahan pergunjingan.

Tapi ia tak ambil pusing. Justru lewat kumpulan Sajak Sikat Gigi, ia berhasil membuktikan kepenyairannya dalam usia relatif muda. Kumpulan sajak itu berhasil mendapat penghargaan sebagai salah satu kumpulan puisi terbaik 1977 dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), bersama: Peta Perjalanan (Sitor Situmorang), Meditasi (Abdul Hadi W.M.), dan Amuk (Sutardji Calzoum Bachri).

“Tiga nama yang disebut terakhir keberatan disandingkan dengan Massardi. Di mata Sutardji Calzoum Bachri, Yudhistira Massardi adalah penyair yang lugu. Syairnya? “Kitsch,” kata Abdul Hadi W.M. “Parodi yang gagal dari sajak,” ujar Sitor Situmorang,” tulis Agus Sopian dalam “Putus Dirundung Malang: Kisah Sukses Majalah Aktuil” (2001).

“Seseorang lupa menggosok giginya sebelum tidur/ Di dalam tidurnya ia bermimpi/ Ada sikat gigi menggosok-gosok mulutnya supaya terbuka/ Ketika ia bangun pagi hari/ Sikat giginya tinggal sepotong/ Sepotong yang hilang itu agaknya/ Tersesat di dalam mimpinya dan tak bisa kembali/ Dan ia berpendapat bahwa kejadian itu terlalu berlebih-lebihan//” tulis Yudhistira dengan gaya bahasa penuh kelakar dalam Sajak Sikat Gigi.

Kaitannya dengan Sajak Sikat Gigi, Ariel Heryanto menyebut Yudhistira ANM Massardi pernah diremehkan dan direndahkan oleh para sastrawan senior dan “resmi”. “Beberapa penyair yang menganggap dirinya tergolong sasterawan “serius”, “senior”, atau “resmi” mengajukan protes terhadap pemberian hadiah penghargaan oleh Dewan Kesenian Jakarta kepada antologi Sajak Sikat Gigi karya Yudhistira Ardi Nugraha pada tahun 1977,” tulis Ariel dalam “Masihkah Politik Jadi Panglima?: Politik Kesusasteraan Indonesia Mutakhir” di Jurnal Prisma hal. 8, tahun 1988.

Baca juga :  Secangkir Kopi dalam Puisi Bersama Tengsoe Tjahjono

Sajak Sikat Gigi karya Yudhistira dianggap sastra “pop” dan tidak sesuai dengan standar sastra “resmi” saat itu. Sehingga, pemberian hadiah pada antologi Sajak Sikat Gigi, dianggap mengganggu katagori yang telah mereka tetapkan. Sastra “resmi” sendiri merupakan salah satu identifikasi kecenderungan sastra Indonesia pasca 1965. Atau tepatnya pada 1970-1980 yang disebut sebagai periode sastra Indonesia mutakhir. Yaitu lembaran baru kesusasteraan Indonesia pasca runtuhnya Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) akibat teror Orde Baru (Orba).

“Inilah kesusasteraan yang berkembang dengan definisi konseptual, studi dan penulisan sejarah yang dominan, serta contoh karya sastera yang dianggap “sah”, atau “puncak-puncak” (yang “baik dan benar”). Kesusasteraan ragam inilah yang mendapat perhatian dan penghargaan tertinggi dari berbagai individu dan lembaga yang memegang kekuasaan politis tertinggi dalam masyarakat,” tulisa Ariel Heryanto (Hal. 5). Sastra “resmi” inilah yang diajarkan dalam buku-buku sekolah, didiskusikan dalam seminar, diteliti dalam skripsi atau tesis, dan dijual di toko-toko buku.  Keberadaan sastra “resmi” sekaligus memunculkan kategori lain: sastra terlarang, sastra yang diremehkan, dan sastra yang dipisahkan.

Gaya penulisan Yudhistira oleh beberapa pihak dianggap memberikan perlawanan terhadap Orde Baru. Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid, dalam tulisannya “Meronta dan Berontak: Pemuda dalam Sastra Indonesia” (2011) mengatakan  Yudhistira memberontak terhadap tatanan. Gaya bahasanya khas anak muda yang tak mau tunduk zaman itu. Menurutnya, Novel Yudhistira bisa dikatakan “picisan” dalam artian ringan. Tetapi, ia berbobot dalam artian subversif dan menggugat kemapanan kaum elit Jakarta.

“Dalam seri Arjuna Mencari Cinta (1977), Arjuna Drop out (1980) dan Arjuna Wiwahahaha (1984), dia tidak hanya membuat parodi atas kisah wayang dan kekuasaan Orde Baru, tetapi juga terhadap sastra “serius” yang dominan saat itu,” tulis Hilmar Farid.

Baca juga :  Ludruk: Media Perjuangan Rakyat

Menanggapi nada minor terhadap dirinya, Yudhistira tetap pada gaya khasnya, Cuek, Semau Gue, dan tak ambil pusing. Puisi “Biarin” yang telah ia tulis menjadi jawaban, “kamu bilang hidup ini brengsek. Aku bilang biarin/ kamu bilang hidup ini nggak punya arti. Aku bilang biarin/ kamu bilang aku nggak punya kepribadian. Aku bilang biarin/ kamu bilang aku nggak punya pengertian. Aku bilang biarin/… .”

Yudhistira sempat vakum dari dunia sastra. Ia memilih untuk fokus mengelola sekolah gratis untuk kaum dhuafa. Ia mendirikan dan mengelola TK-SD Batutis Al-Ilmi di Bekasi, sekaligus mengampanyekan proses belajar-mengajar dengan Metode Sentra.

“Baru dua tahun terakhir, dunia sastra seperti memanggil kembali. Saya memilih kembali melalui puisi,” terang Yudhistira di acara Panggung Sastra untuk Indonesia.

Puisi-puisinya yang terbaru: 99 sajak, simbolisasi dari Asmaul Husna, menandai kembalinya Yudhistira di dunia sastra. 99 sajak merupakan kumpulan puisi yang ditulis secara tematik. Ada 11 tema yang dipilih. Setiap tema dieksplorasi dan diungkapkan dalam sembilan sajak. Cinta, rindu, rasa gamang, dan kota diantara tema puisinya.

Selain Yudhistira ANM Massardi, beberapa penyair Malang Raya juga hadir dan membacakan puisi. Mereka adalah: Djoko Saryono (penyair dan Guru Besar Sastra UM), Tengsoe Tjahjono (penyair dan dosen Sastra di UNESA), Yusri Fajar (Sastrawan dan Dosen FIB UB), Nanang Suryadi (penyair dan dosen FEB UB), Denny Mizhar (penyair dan pegiat Pelangi Sastra Malang), dan Faris Naufal Ramadhan (penyair dan pegiat Komunitas Kalimetro Malang).

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here