Apa yang Salah dengan Foto Membaca Buku?

Terakota.idPertanyaannya, apa yang salah dengan Anies Baswedan (gubernur DKI) saat dia posting foto memakai sarung dan membaca buku How Democracies Die? Seperti diketahui, mantan rektor Universitas Paramadina itu pada hari minggu (22/10/20) mengetweet foto dengan caption “Selamat pagi semua. Selamat menikmati Minggu pagi” dengan memegang buku karya Steven Levitsky dan Daniel Ziblat.

Foto itu biasa saja sebagaimana seseorang membaca buku lalu difoto terus diunggah di media sosial. Sama dengan perilaku netizen yang lain. Itu soal hobi membaca buku.  Buku apa saja. Membaca buku komik boleh, buku kiat memasak keren,  buku serius yang membahas demokrasi atau filsafat juga bagus.

Yang justru menarik adalah tanggapan netizen terkait gambar Anies Baswedan. Tanggapan-tanggapan netizen masih terpolarisasi. Suka dan tidak suka berdasar kepentingan.  Yang mendukung seorang pejabat membaca tentu apresiatif, yang tidak apresiatif pun tentu tetap ada.  Dari soal mengapa harus buku itu yang difoto dan diunggah. Sampai komentar bahwa pekerjaan di DKI masih banyak, gubernur malah enak-enakan membaca buku. Padahal itu hari minggu.

Menjadi lebih ruwet manakala foto itu kemudian diseret-seret dan dikaitkan dengan politik. Faktanya, residu (ampas) Pilpres 2019  ternyata masih tetap hidup dan mengikuti foto tersebut. Fokusnya tetap satu; gerbong Anies dan Joko Widodo (Jokowi) beserta para pasukan berani  matinya.

Minimnya Peran  Pejabat

Pertanyaan lagi, apa yang salah dengan foto saat seseorang membaca buku kemudian diunggah di media sosial? Bagi saya hal demikian biasa saja. Lebih bermanfaat saat seorang pejabat membaca buku lalu diunggah.  Soal munculnya tanggapan negatif atau positif itu pasti terjadi.

Apa untungnya? Masyarakat kemudian mengenal buku tertentu, sebagaimana yang pernah dibaca Anies Baswedan. Bahkan penerbit buku Gramedia Pustaka Utama (GPU) yang menerbitkan buku terjemahan How Democracies Die ikut-ikut memviralnya buku itu di twitter. Bahkan penerbit tersebut membuat sayembara dan menantang netizen untuk mengunggah foto unik saat  membaca buku. Tentu GPU menikmati keuntungan buku Bagaimana Demokrasi Mati  yang pernah menjadi buku best seller di New York Times pada tahun 2018 setelah buku itu terbit.

Harusnya masyarakat umum layak mengapresiasi saat seorang pejabat mengunggah foto sedang membaca buku. Mengapa? Lepas dari apakah buku itu dibaca atau tidak tak jadi soal. Menjadi barang langka seorang pejabat membaca buku. Jika pejabat memberi contoh membaca buku hal demikian akan bermanfaat bagi masyarakat. Masyarakat menjadi tahu kebiasaan para pejabat tersebut. Masalahnya membaca bagi masyarakat Indonesia, apalagi seorang pejabat, masih menjadi barang langka.

Bukankah dengan foto membaca buku akan membuat sebuah buku berpeluang menjadi laris? Pejabat publik tentu punya followers banyak. Jika sebuah buku yang dibaca pejabat itu laku keras (mungkin karena foto yang diunggah) bukankah ia akan menolong kesulitan penerbit dalam usaha menjual buku? Apalagi saat ini ada pandemi covid-19? Ia juga menolong para karyawan yang penerbit bukunya mengalami penurunan penjualan hampir 58,2% karena pandemi? Di belakang penebit ada ribuan karyawan yang menggantungkan hidupnya pada sebuah penerbitnya. Bukankah sumbangan pejabat juga bermanfaat, meskipun hanya bermodal unggahan foto?

Bukankah juga mengunggah foto di media sosial bisa salah satu indikasi bahwa seorang pejabat itu juga pembaca buku? Selama ini apakah sudah mereka lakukan? Hampir tidak ada kecuali hanya ribut dan rebutan jabatan serta kekuasaan. Sesekali biar keren pejabat itu memfoto bukunya yang dibaca. Buku apa saja yang penting positif.

Kita tahu budaya baca masyarakat masih rendah.  Menurut data UNESCO minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%. Berarti 1000 orang Indonesia cuma 1 orang yang rajin membaca. Fantastis bukan? Bahkan berdasar riset World’s Most Literate Nations Ranked, Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara soal minat baca. Sangat fantastis bukan?

Terus itu semua tanggung jawab siapa? Apakah hanya tangung jawab penerbit dan masyarakat? Tentu saja tidak. Rendahnya budaya baca juga tanggung jawab negara. Negara ini kaya.  Sumber daya alamnya saja sangat melimpah. Mengapa sumber daya yang melimpah itu tidak seajalan dengan peningkatan budaya baca? Tentu ada yang salah dalam pengelolaan keuangan negara.  Kenapa pula negeri yang kaya ini justru terjebak dalam utang? Ini masalah yang lain.

Memberangus Peradaban

Berapa banyak sumbangan negara pada peningkatan budaya baca? Ini tak bermaksud menyindir dan memandang sebelah mata mimimnya sumbangan negara. Tetapi sejak sekian puluh tahun negara ini masih selalu berkutat pada minimnya budaya baca. Berarti ada yang salah dengan kebijakan pendidikan terkait dengan budaya baca, bukan?

Maka, jika ada seorang pejabat punya hobi membaca buku ia akan menjadi contoh baik bagi masyarakat. Ini seandainya kita memang orang yang gerah dengan minimnya budaya baca. Akan lain persoalannya jika belum apa-apa sudah dikaitkan dengan persoalan politik. Bukan manfaat yang didapatkan tetapi hanya sekadar mengumbar emosi semata.

Masyarakat Indonesia itu masih paternalistik. Selalu memandang dan menyontoh apa yang dilakukan elite pejabatnya. Jika di masyarakat tidak meningkat budaya bacanya jangan-jangan itu juga menyontoh pejabatnya? Sama dengan saat di masyarakat terjadi tindak korupsi dan pelanggaran, jangan-jangan itu juga meneladai pejabatanya?

Sekarang coba dihitung berapa banyak pejabat yang gerah dengan minimnya dengan budaya baca? Sementara peradaban bangsa itu bisa dibangun dengan membaca. Memang itu pilihan jangka panjang tetapi bermanfaat bagi  negara ini di masa atang. Jangan heran pula jika ingin mengancurkan sebuah bangsa berangus dan “bakar” buku-bukunya. Paradaban bangsa itu akan cepat hancur.

Jangan-jangan pejabat yang membiarkan budaya baca semakin terjerembab itu juga sedang menghancurkan peradaban bangsa ini di masa  datang ? Termasuk pejabat-pejabat yang terusik dan sinis dengan foto pejabat lain yang sedang membaca buku lalu diunggah di media sosial? Atau jangan-jangan kita sendiri yang dengan semangat membabi buta sinis pada foto Anies Baswedan saat membaca buku termasuk indidvidu yang juga menyumbang bagi mandegnya pengembangan peradaban bangsa ini di masa datang? Sekali lagi ini soal membaca buku, tak ada kaitannya dengan gerbong pasukan berani matinya  Anies atau non Anies.

Kasus pembajakan buku saja membuat pemerintah kewalahan untuk mengatasinya. Salah satu penyebabnya, mafia pembajakan sudah sedemikian menggurita. Pembajakan buku masuk indikasi korupsi. Maka, menghalang-halangi orang membaca buku itu juga korupsi.  Saya tidak mengatakan bahwa orang yang nyinyir dengan budaya baca itu masuk tindak korupsi. Yang jelas, usaha untuk memberikan contoh peningkatan budaya baca dengan segala keterbasatannya layak diapresiasi, bukan dinyinyiri — lepas dari niat apa dibalik sebuah usaha.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini