Anugerah Sabda Budaya, Persembahan untuk Sastrawan dan Seniman

Terakota.id–Deretan kursi di studio UBTV Universitas Brawijaya penuh sesak. Mayoritas mahasiswa yang tengah hadir dalam malam Anugerah Sabda Budaya Universitas Beawijaya, Selasa 2 Oktober 2018. Sebagian terpaksa duduk bersimpuh di atas karpet depan panggung. Ada juga yang berdiri di sisi kanan dan kiri studio yang dipisahkan deretan kursi.

Lampu ruangan padam, dalam kegelapan sorot lampu berpendar di panggung. Sekelompok pemusik gamelan duduk di bagian kanan panggung. Pengrawit dan pengiring gamelan memainkan musik tradisi. Tahun ini, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB-UB) berusia 9 tahun.

Dalam rangkaian Dies Natalis FIB-UB bertema, “Memperkuat Identitas Kultural di Era Milenial” digelar beragam acara. Orasi budaya dari budayawan Radhar Panca Dahana, puisi yang dibacakan Nanang Suryadi, pertunjukan seni tari dan ludruk dari Paguyuban Among Rasa pimpinan Sutak Wardhiono, berlakon “Karsinah”.

“Dies natalis Fakultas Ilmu Budaya tak hanya mengenang proses awal pendirian, namun hakikatnya menyuguhkan pemikiran, peran dan tindakan nyata di hari ini dan masa depan di bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat yang berkaitan dengan bidang bahasa, sastra dan seni budaya,” Ketua pelaksana Dies natalis FIB UB Yusri Fajar.

Ia berharap turut memperkuat eksistensi Fakultas Ilmu Budaya di tingkat lokal, regional, nasional dan internasional. Melalui peran  FIB untuk turut memperkuat identitas kultural bangsa Indonesia. FIB UB juga berupaya membangun kerja sama dan memperkuat hubungan FIB UB dengan berbagai pihak, baik tokoh masyarakat dan lembaga di luar kampus.

Apresiasi dan penghargaan kepada pegiat seni, sastra dan budaya yang ditunjukkan dalam Anugerah Sabda Budaya Brawijaya FIB UB. Penghargaan diberikan kepada insan pegiat bidang sastra dan seni budaya yang telah menunjukkan dedikasi, pengabdian, prestasi, dan karya kreatif yang berkualitas.

Seniman terpilih berdasar pengaruh dan perannya dalam memajukan bidang yang digeluti. Meliputi publikasi karya, pembinaan komunitas, dan pelestarian seni, sastra dan budaya dalam kurun waktu yang berkelanjutan. “Kami ingin FIB menjadi bagian yang mengarahkan arus. Bukan malah ikut arus,” ujarnya.

Terhadap budaya lokal tidak hanya melestarikannya, namun juga memajukannya. Anugerah Sabda Budaya ini kami berikan kepada tokoh-tokoh seni budaya terbaik Jawa Timur. “Anugerah dimulai tahun ini dan semoga terlaksana juga di tahun-tahun ke depan,” Dekan FIB UB Agus Suman dalam sambutannya.

Anugrah Sabda Budaya

Anugerah Sabda Budaya FIB UB diserahkan kepada sastrawan Wina Bojonegoro dan seniman almarhum Sumantri. Tepuk tangan bergemuruh saat Wina naik ke atas panggung. Ia ditahbiskan sebagai salah satu penerima anugerah Sabda Budaya Brawijaya. Endang Winarti, lahir di Bojonegoro 10 Agustus 1962 silam. Akrab disapa Wina Bojonegoro. Perempuan yang tinggal di Surabaya ini tergolong sastrawan produktif dan berdedikasi bagi perluasan literasi publik. Karyanya melimpah ruah. Baik cerpen maupun novel.

Pada 2016, Wina bertepatan dengan ulang tahunnya meluncurkan buku yang ke sembilan. Buku berupa kumpulan cerpen, berjudul “Mozaik Kota Kenangan.” Tak berlebihan, kalau kemudian ia layak disejajarkan dengan penulis perempuan tingkat nasional. Seperti Dee Lestari, Linda Cristanty, Laila S Chudori, dan sebagainya.

Selain aktif menulis atau berkarya, Wina Bojonegoro turut menebarkan virus literasi kepada publik luas. Bersama sahabatnya di Surabaya ia mengembangkan Kedai Kreasi. Perpaduan antara kedai kopi dan literasi.

Dengan nada suara tergetar menahan haru, Wina dalam sambutannya mengaku grogi. Ia menganggap anugerah ini sesuatu yang luar biasa. Bakal melecut untuk mempertanggungjawabkan anugerah ini dengan terus berkarya. Ia juga berharap, akan semakin banyak perempuan Indonesia yang menulis seperti dirinya.

Penghargaan anugerah Sabda Budaya Brawijaya diberikan kepada salah seorang seniman tradisi asal Malang. Sumantri, akrab disapah Mbah Sumantri atau Ki Sumantri. Lahir 1954 di Kanigoro, Gondanglegi, Kabupaten Malang. Mendiang Ki Sumantri tinggal di Sukun Kota Malang.

Tari topeng Malangan membuka malam Anugerah Sabda Budaya Brawijaya. (Terakota/HA. Muntaha Mansur).

Sejak kecil, Sumantri tinggal di lingkungan yang akrab dengan seni tradisi. Kakeknya seorang pengendang kesenian Andong kemudian beralih sebagai pelaku karawitan Ludruk. Darah seni mengalir dalam dirinya. Sejak kecil, kira-kira kelas 3 Sekolah Dasar, Sumantri jatuh hati pada kesenian ludruk dan memutuskan belajar karawitan.

Karawitan merupakan kesenian tradisional Jawa yang mengacu pada permainan musik gamelan atau gending, serta bebunyian alat musik Jawa lain. Bermacam gamelan antara lain  Gamelan, Kenong, Demung, Saron, Bonang, Gong dan sebagainya.

Pelaku Karawitan disebut Pengrawit atau biasa juga disebut Wiyogo. Mereka banyak dicari karena kemampuannya menghafal dan memainkan instrumen bebunyian dari beragam gending. Karawitan sangat erat dengan seni pertunjukan tradisi: Ludruk, Tayub, Wayang Kulit hingga Wayang Topeng.

Kecintaan, keuletan dan ketekunan Sumantri dalam belajar karawitan membawanya sebagai salah seorang pengrawit yang dikenal. Mulai di Malang sampai ke lura kota. Ia memantapkan diri tidak hanya sebagai pelaku, tapi juga sebagai pelestari.

Mbah Sumantri menularkan kemampuannya kepada anak-anak sekolah sebagai pengajar ekstrakurikuler karawitan. Di dunia kampus, Sumantri ditunjuk sebagai dosen luar biasa di Universitas Negeri Malang untuk mengajarkan seni karawitan. Tentu, ia juga tetap membuka diri bagi siapapun yang belajar di sanggar miliknya.

Bagi Sumantri, Malang sebenarnya memiliki ciri khas gendingan yang berbeda dengan Solo atau Yogyakarta misalnya. Hanya saja, para Pengrawit lebih akrab dan lebih sering merujuk pada gending Solo atau Yogyakarta. Orang Malang sendiri banyak yang tidak tahu dan menyadarinya. Karenanya, Sumantri getol mengenalkan Gending Malangan.

Untuk melestarikan gending Malangan, pada tahun 2005, Sumantri menciptakan lagu “Tri Bina Cita” dengan iringan gending Malangan. Ia berharap lagu ciptaannya itu diputar di pusat-pusat kota dan keramaian. Bisa di Balaikota, hotel, stasiun, terminal, atau tempat lainnya. Sehingga, gending Malangan bakal akrab di telinga. Selama ini, justru gending khas Solo atau Yogyakarta yang banyak di putar di Malang.

Harapan itu belum kesampaian. Bahkan, hingga ajal telah menjemput Sumantri. Pada  hari Kamis, 30 Agustus 2018, pengrawit itu menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Saiful Anwar Malang. Malang pun kehilangan seniman tradisi yang kian hari kian langka.

Pada malam anugerah Sabda Budaya Brawijaya, Mimin Marita anak perempaun Ki Sumantri yang mewakili. Dengan keharuan yang tak tertahankan, ia membacakan surat tanda terima kasih atas anugerah yang diberikan kepada Mbah Sumantri. Isak tangis sesekali terpaksa berhenti membacakan sambutan.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini