Anti-Esensialisme Hiburan Hollywood

Atau, kalau boleh bicara vulgar di sini: film-film itu sebenarnya punya elemen mendidik. Kita bisa melihat respons-respons kritis itu baik dalam detail elemen film maupun struktur besar film-film itu. Struktur besar yang saya maksudkan di sini berkaitan dengan plot, yang terdiri dari konflik, klimaks, dan resolusinya.

Oleh : Wawan Eko Yulianto*

Terakota.id– Tidak ada lagi yang meragukan peran Hollywood dalam menghibur kita, terutama yang tinggal di wilayah urban ini. Ketika Avengers: Infinity War muncul tahun lalu, banyak dari kita berbondong-bondong menonton. Begitu pula saat Captain Marvel muncul. Saat saya menulis ini pun, Avengers: Endgame masih mewarnai perbincangan kita sehari-hari.

Bahkan, mungkin mencegah mendengar spoiler sama pentingnya dengan ketegangan mengawal penghitungan hasil formulir C1. Namun, ada satu aspek Hollywood yang saya lihat jarang muncul dalam perbincangan keseharian kita terkait film-film ini: kaitannya dengan semesta situasi sosiopolitik Amerika Serikat.

Pernahkah kita-kita yang gemar pergi ke bioskop untuk nonton sinema superhero dari AS ini mencoba menanyakan apa yang mungkin film-film itu katakan kepada kita soal kehidupan sosiopolitik Amerika Serikat yang penuh gejolak itu? Dari berbagai potensi topik perbincangan yang bisa mengaitkan Hollywood dan semesta kehidupan sosial Amerika Serikat, kita bisa menyoroti tentang sikap terhadap perbedaan. Sebut saja sikap ini anti-esensialis. Menurut saya, sikap anti-esensialis Hollywood ini bahkan telah berkembang menjadi norma baru dalam struktur cerita, yang sangat mencakup plot.

Jadi mohon maaf kalau di sini akan ada spoiler untuk film Trolls (2016), Black Panther (2018), danAquaman (2019). Film-film ini, seperti akan kita lihat, mengandung sikap politik yang tegas terhadap kecenderungan rasisme, esensialisme kelompok, dan xenofobia di Amerika Serikat. Yang puncaknya bisa dilihat pada era Donald Trump saat ini.

Sebelum terlalu jauh melangkah, mungkin kita bisa melihat sejenak sejumlah “episode” menarik sineas dan pesohor Hollywood mengkritisi lanskap sosiopolitik Amerika Serikat. Banyak sineas dan pesohor Hollywood yang mengkritisi persoalan sosiopolitik Amerika, terkait krisis keberagaman, persoalan gender, dan bahkan perubahan iklim. Pada tahun 2016, para aktor kulit hitam, digawangi oleh Jada Prinkett Smith, memboikot Academy Awards karena merasa nominasi untuk akting hanya diberikan kepada aktor-aktor kulit putih, yang merupakan satu gejala rasisme di Amerika Serikat.

Baru-baru ini kita melihat produser ternama Hollywood Harvey Weinstein dituntut karena tuduhan pemerkosaan dan pelecehan seksual yang melibatkan banyak aktris ternama sebagai korbannya. Pada tahun 2017, Meryl Streep, aktris kelas A Hollywood, pernah mengkritik keras Donald Trump saat menerima penghargaan Golden Globe karena si presiden pernah mengolok seorang reporter pengidap cerebral palsy dengan menirukan gerakannya.

Namun, kalau yang kita bicarakan adalah sinemanya sendiri, yang kita dapatkan film-film Hollywood yang tetap berorientasi menghibur dengan dialog, akting, plot, dan segala pesona audio visualnya. Sedikit kita temukan film yang secara vulgar merespons kecenderungan sosial dan politik Amerika tersebut. Kita tidak akan melihat tokoh-tokoh film yang secara lugas berkomentar tentang seorang presiden yang menyebut imigran dari Meksiko sebagai pencuri, pengedar obat, dan pemerkosa. Tidak ada perbincangan tentang seorang produser film yang memanfaatkan perempuan dan melecehkannya dengan imbalan karir di dunia film. Tidak ada juga film-film ini berbicara tentang Muslim seluruh dunia yang distereotipekan karena kejahatan yang dilakukan oleh Muslim di tempat lain.

Yang ada justru film-film yang antara lain penuh kisah-kisah petualangan, aksi, dansa-dansi, plot yang mengejutkan, dan resolusi konflik cerita yang menguras emosi. Atau, film-film yang membuat kita tidak merasa sia-sia telah mengeluarkan beberapa puluh ribu rupiah untuk nonton sekitar dua jam. Dalam film-film yang akan saya bicarakan, kita lihat di sana seorang lelaki gagah bertato gigi hiu sekujur tubuh menjelajahi dasar benua. Ada kisah tentang makhluk mungil yang suka memeluk dan menyanyi yang memperjuangkan eksistensi dan cita-citanya. Ada juga kisah seorang putra raja di sebuah negeri Afrika yang makmur dan bisa menjaga kelestarian alam dan kondisinya dengan membentengi diri dari dunia luar.

Pendeknya, yang kita dapatkan adalah kisah-kisah petualangan yang menguras rasa penasaran dan memuaskan fantasi kita. Saking berharganya kejutan-kejutan dalam film itu, kita pasti mendengar bagaimana orang sangat anti dengan yang namanya membocorkan plot film-film ini ketika film tersebut masih tayang di bioskop. Bahkan, ada kisah yang sampai dikutip www.businessinsider.sgtentang orang yang digebuki gara-gara membocorkan akhir film kepada para penonton yang tengah mengantre tiket menonton film tersebut. Tentu saja kita tidak tahu pasti kebenaran gambar dan cuitan ini.

Anti-Esensialisme Hiburan Hollywood
Seorang penonton dipukuli lantaran memberikan bocoran film yang akan tayang di bioskop

Tapi, kalau kita cukup lekat mengamati situasi sosial dan politik Amerika Serikat, tidak sulit melihat bagaimana film-film Hollywood yang kita tonton itu justru menyelipkan respons yang kritis. Atau, kalau boleh bicara vulgar di sini: film-film itu sebenarnya punya elemen mendidik. Kita bisa melihat respons-respons kritis itu baik dalam detail elemen film maupun struktur besar film-film itu. Struktur besar yang saya maksudkan di sini berkaitan dengan plot, yang terdiri dari konflik, klimaks, dan resolusinya.

Dalam tulisan ini saya ingin menyoroti bagaimana struktur pada beberapa film Hollywood secara menonjol mengkritisi pembagian dunia yang sederhana menjadi kelompok-kelompok yang senantiasa berbeda. Dengan kata lain, film-film itu punya argumen menentang esensialisasi identitas. Tentu saja ini mencakup juga pemisahan dunia secara dikotomis menjadi kebaikan vs kejahatan. Struktur film-film ini seolah bilang, “Identitas kita tidak sesederhana itu, Alfredo!”

Dikotomi itu ditentang dengan tegas bahkan dalam film musikal anak Trolls (2016). Dalam film yang keluar pada bulan November tahun 2016 ini, kita menyaksikan bagaimana sekelompok “troll,” makhluk yang hidup dalam marginalisasi dan kebahagiaan semu, yang harus menumbalkan satu anggotanya setiap tahun kepada penguasa, akhirnya kabur dan hidup dalam komunitas kecil yang menyendiri dan menjauhkan diri dari penguasa kota yang dulunya memangsa mereka.

Generasi selanjutnya dari kelompok ini kelak berhasil membalik keadaan, namun pada akhir cerita, yang kita dapatkan bukanlah kaum minoritas yang ganti mengalahkan penindas. Generasi baru ini malah mencari titik temu antara kedua kelompok. Film ini menelusuri gagasan bahwa dikotomi yang mereka alami bukanlah sesuatu yang alamiah dan harus dicari akar permasalahannya.

Di film lain, Black Panther (2018), kita bisa melihat perubahan sikap sebuah bangsa kepada dunia luarnya. Kerajaan Wakanda yang gemah ripah loh jinawi berkat kandungan Vibranium yang serbaguna diolah untuk memenuhi berbagai kebutuhan itu selama ini menganggap dirinya terpisah dari dunia yang serakah dan doyan perang. Mereka dikejutkan oleh seorang pejuang yang mengklaim berhak menjadi putra mahkota dan akhirnya berhasil menjadi raja.

Namun, obsesinya untuk membebaskan warga keturunan Afrika dari penindasan di seluruh dunia berpotensi menghasilkan perang yang lebih besar. Maka, perjuangan di film ini adalah bagaimana merebut kembali kekuasaan atas Wakanda (dan sumber dayanya yang bisa membalik keadaan dunia itu).

Alhasil, para tokoh pun berhasil merebut kembali kekuasaan, tapi juga belajar dari kebijaksanaan yang ada di balik kebuasan sang raja sehari. Wakanda pun membuka diri dan membantu perbaikan dunia, tidak melalui perang, tapi melalui pendidikan dengan pendirian Wakanda Internasional Outreach Center yang bisa dilihat di adegan dibawah ini.

Kalau ingin mengambil versi yang lebih baru lagi, kita akan mendapatkan kisah Aquaman, yang ujung-ujungnya senada. Dalam film ini, Arthur si anak ratu Samudera yang lahir di daratan itu akhirnya harus bertarung habis-habisan dengan raja samudera, putra lain ratu laut. Si raja samudera sudah di ambang menyerang daratan, yang menurutnya sudah tidak bisa lagi dibiarkan menciptakan kerusakan kepada alam.

Ketika Arthur memenangkan pertarungan itu, alih-alih mengambil alih kekuasaan dan membantai si raja samudera, Arthur memilih untuk menjadi jembatan bagi daratan dan lautan. Meskipun daratan telah benar-benar melakukan kejahatan merusak samudera. Dan, yang dipakainya untuk memenangkan pertarungan bukan hanya kemampuan tarung, tapi juga kemampuan komunikasi, menjembatani perbedaan spesies.

Sepintas memang tidak ada kemiripan langsung dengan situasi sosial-politik Amerika Serikat, hingga kita melihat motif lintas film tersebut. Karya-karya ini tampak memiliki struktur yang memiliki kaitan dengan kecenderungan status quo Amerika Serikat yang cenderung xenofobik, mencurigai yang berasal dari luar, melestarikan apa yang dianggap perbedaan hakiki antara satu kelompok dan lainnya. Di lingkup sosial, sejak munculnya kabar Trump akan mencalonkan diri sebagai presiden, Amerika Serikat melihat kecenderungan xenofobik yang maujud dalam retorika-retorika yang mengkristalkan identitas melalui marginalisasi komunitas luar. Ujaran-ujaran kebencian kepada orang-orang kulit hitam, hispanik, Muslim, dan perempuan—semuanya mengarah kepada kristalisasi identitas kulit putih.

Film-film Hollywood ini justru menunjukkan sikap yang berseberangan dengan kecenderungan xenofobik yang bahkan sampai menjadi kebijakan itu—misalnya dalam kasus pelarangan pendatang Muslim. Alih-alih menyetujui atau mendiamkan sikap esensialis dan dikotomis, film-film ini lebih memilih sikap negosiasi, menjembatani perbedaan. Perbedaan antara kelompok yang melakukan dominasi atau represi dengan kelompok yang termarginalisasi dalam film-film ini disasar dan dibuat kompleks dengan adanya usaha mempertemukan kelompok-kelompok ini.

Bangsa Wakanda yang sejak dulu-dulunya menutup diri dari dunia luar, yang mereka rasa serakah dan gemar perang, akhirnya menyadari bahwa sikap mereka menikmati kekayaan mereka untuk diri sendiri itu juga bermasalah. Separah apa pun dunia di luar Wakanda, dunia itu sekarang milik Wakanda juga. Karena dunia itu milik mereka juga, maka bukanlah senjata yang dikirimkan, tapi beasiswa bagi anak-anak selama ini menjadi sasaran dari kekerasan lingkungan, yang diwakili dengan dibelinya kompleks apartemen miskin, tempat Killmonger dibesarkan, dan diubahnya lokasi tersebut menjadi pusat pendidikan seperti video di atas. Wakanda sekarang punya harapan akan masa depan dunia luar.

Dengan kata lain, harapan itu sekarang beralih wujud menjadi menyasar perbedaan. Harapan tidak hanya soal menjadi pemenang dalam sebuah pertempuran. Tapi mempertemukan kelompok-kelompok yang pernah bertempur dan berbeda. Usaha selanjutnya adalah mencari akar dari persoalan yang selama ini di antara dua kelompok yang berbeda itu. Hal ini paling jelas tampak pada film Trolls, di mana para “troll” dan “bergen” akhirnya mencoba merunut sebab-sebab para “bergen” gemar memakan “troll” setahun sekali. Kebiasaan memakan makhluk lemah itu berakar pada salah kaprah yang diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di akhir cerita pun kedua kelompok mendapatkan pencerahan tentang apa yang mestinya mereka lakukan demi mendapatkan kebahagiaan.

Contoh-contoh tentang terselesaikannya perbedaan seperti ini bisa ditemukan di sejumlah film lain. Kita bisa amati bagaimana hal ini menjadi norma baru dalam struktur cerita film-film Amerika Serikat, tentunya dengan pengecualian sejumlah tokoh tertentu yang sudah tidak bisa lagi dikembalikan ke jalan damai, yang biasanya bukan manusia. Film-film lain seperti Smallfoot, Captain Marvel, Coco, dan lain-lain bisa dilihat dan dipakai untuk membuktikan norma naratif baru ini.

Tapi memang, pesan-pesan cerita yang seperti ini hanya bisa ditafsirkan dengan jelas kalau kita sudah mendudukkan film-film Hollywood ini pada konteks ketimpangan kehidupan sosialpolitik Amerika Serikat. Tentu tidak mustahil mengambil pelajaran dari kisah-kisah fantasi dan fiksi ilmiah ala bioskop ini. Selalu saja ada yang bisa dipetik dari segala hal yang kita tonton.

Tapi, kalau mau menjawab sejujurnya, apa sih yang diinginkan orang-orang dengan pergi ke bioskop buat nonton Aquaman atau Avengers: Endgame? Jawabannya sudah jelas: hiburan. Tanpa mendudukkan film-film ini di konteks sosial Amerika Serikat, yang terjadi adalah kelak-kelok alur, detail adegan, dan kedalaman dialog dan renyahnya humor tersebut sangat mungkin berhenti sebagai hiburan. Padahal, dengan mengidentifikasi kritik-kritik terhadap situasi sosiopolitik Amerika Serikat, kita juga jadi bisa menghubungkannya dengan situasi kita sendiri di sini. Yang sudah dikoyak oleh keteguhan mempertahankan kemurnian identitas sampai-sampai selalu saja ada jurang yang memisahkan antara satu kelompok dengan yang lain.

Adalah ironis kalau kita menonton film semacam Aquaman tapi begitu keluar tetap bersikap eksklusivis dan masih  menilai orang berdasarkan identitas agama, etnis, atau gender yang berbeda dengan kita. Yang tak kalah ironisnya adalah pulang dari nonton Captain Marvel tapi masih bersikap bahwa perempuan itu kodratnya di rumah dan merawat anak saja. Eman-eman sekali puluhan ribu itu yang semestinya bisa dipakai untuk beli takjil itu.

Penulis (Sumber: Dok. Pribadi)

*Dosen Sastra Inggris Universitas Machung.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini