Angon Angin, Narasi Perjalanan Ruang Tubuh

Terakota.id—Pagelaran teater dan tari “Angon Angin” bakal hadir di Dewan Kesenian Malang, Jalan Simpang Majapahit Nomor 3 Kota Malang Kamis, 20 April 2017. Pertunjukan dimulai pukul 20.00 WIB. Peraih hibah Seni Kelola 2017 ini besutan koreografer Djarot Budidarsono.

Sejumlah penari yang berperan dalam pertunjukan antara lain Ayun Anindita, Fajar Prastiyani, Fitria Trisna Murti, Sri Hastuti, Laras wiswalendya, Yashinta Desy Nataliawati, Rena Yudha Maharani Ilustrasi musik dikerjakan Sigit Pratama, Joko Porong Winarno, lighting designer dan sound engineer Hengky S.Rivai dan artistik Supriadi, dan Ali. Pertunjukan ini gratis, tanpa biaya. Siapapun bisa menikmati pertunjukan dan berinteraksi dengan seniman dan warga Malang.

Angon Angin adalah sebuah kiasan atau metafora, yang mencoba memaknai penyikapan hidup secara personal untuk mempunyai kemampuan menyiasati hidup dengan berbagai problematiknya.  “Angin” bisa menjadi badai, bisa menyejukkan, bisa menjadi masalah apabila tidak dipahami. Sedangkan “Angon” punya pengertian mengarahkan, mengatur, memahami.

Angon Angin metafora narasi perjalanan ruang tubuh yang mengembara mengemban hasrat untuk selalu hidup dengan kejutan, sesuai dan seiring dengan keadaan. Sementara itu konsep ekonomi dan konsep agama selalu mencoba memperebutkan ruang tubuh untuk mencari tempatnya.

Ini adalah sebuah pernyataan dan kenyataan, bahwa perjalanan ruang tubuh dan tubuh mengembara untuk mencari posisi (moralitas) yang nikmat harus dipertanyakan kembali keberadaannya. Karena semua itu hampir tercipta dari sebuah luka yang tidak pernah membusuk, yang terbawa oleh sebuah perdebatan panjang dan permusuhan-permusuhan dari kurun waktu yang sangat lama.

Angon Angin adalah sebuah metafora perjalanan tubuh yang mengembara mengemban tugas untuk melihat, berpikir, menghargai keberadaan ruangan kecil lain yang dengan sengaja atau tidak sengaja selalu ada dalam satu ruangan besar secara bersama saat ini. Sekaligus sebagai pernyataan bagaimana tiap individu menyikapi hak asasinya dengan pikiran, imaginasi yang sangat personal yang  harus sesuai dengan moral hukum.

Angon Angin adalah sebuah metafora dari perjalanan tubuh yang mengembara mengemban kerja menyiasati sebuah arak-arakan berjuta manusia dengan keindahan-keindahan aneka kebudayaan, teknologi dan industri yang datang dan tidak pernah punya akhir. Mungkin juga hanya lewat dan meninggalkan luka.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini