Angin Persaudaraan dari Lereng Gunung Kelud

angin-persaudaraan-dari-lereng-gunung-kelud
Umat Kristen GKJW dan Katolik berjaga mengamankan umat Islam yang tengah salat Idul Fitri di Dusun Dorok, Desa Manggis, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri. (Foto : Bunda Ellis)

Oleh : Trianom Suryandharu*

Terakota.id–Semakin kencang angin berembus, semakin berkibarlah panji-panji persaudaraan itu……Angin persaudaraan dari lereng gunung Kelud, mengusung kesejukan. Umat muslim berarakan menuju Masjid Baitul Arofah untuk salat ied, Rabu pagi, 5 Juni 2019.

Biasanya, umat muslim yang mengikuti sholat ied, tak tertampung di gedung dan halaman masjid. Bahkan, meluber hingga ke jalanan. Di jalan poros dusun itu, masjid berdekatan dengan gedung gereja Katolik dan Kristen.

Di tengah jalan poros menuju masjid, tampak puluhan orang bergerombol. Mereka melintangkan bangku kayu. Sambil berdiri berjaga, mereka menebar senyum kepada saudaranya yang hendak melaksanakan salat ied.

Mereka berjaga, sekaligus menyambut umat muslim merupakan umat Katolik di Stasi Visitasi Mariae dan umat GKJW Pepanthan Dorok, Jemaat Purwoharjo. Mereka berjaga untuk memberi rasa aman, juga nyaman bagi saudara mereka melaksanakan salat ied. Merekalah yang mengatur lalu lintas dan parkir kendaraan.Sore harinya, warga kristiani berkunjung mengucapkan selamat hari raya bagi umat muslim.

Suasana penuh kehangatan itu, menjadi bagian dari hidup keseharian warga yang tinggal di Dusun Dorok, Desa Manggis, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri. Sejauh 35 kilometer dari Kota Kediri, ke arah timur laut. Warga Dusun Dorok tinggal di lereng gunung Kelud bagian utara. Tercatat sekitar 700 kepala keluarga beragama Islam, 188 kepala keluarga umat Katolik dan 30 kepaal keluarga umat Kristen GKJW.

Perbedaan agama, bukan alasan bagi warga membangun hidup harmonis. Lebih dari enam tahun lalu, kerukunan semakin diperkuat dengan kegiatan bersih dusun dengan melakukan upacara sedekah bumi. “Bersih dusun dilakukan di punden Ringin Agung dengan berdoa bersama secara bergantian secara adat Jawa, agama Islam, Katolik dan Kristen,” ujar Kepala Dusun Dorok Nardiono Sumarjo.

“Kami cukup senang dengan suasana yang ada ini. Kita bisa hidup rukun, saling membantu,” tutur Nardiono Sumarjo. Pekan lalu, Nardiono menyampaikan dalam doa syukur memeringati ulang tahun ke-47 keberadaan stasi umat Katolik di dusun Dorok ini, 31 Mei 2019.

Menurut Nardiono, pada saat salat Idul Fitri, umat berjaga terdiri dari anggota majelis dan warga GKJW Jemaat Purwoharjo Pepanthan Dorok dan Katolik. Sebaliknya, ketika perayaan Natal di GKJW, giliran anggota Banser dan umat Katolik yang mendukung keamanan. Saat umat Katolik merayakan Paskah, anggota Banser dan warga GKJW Jemaat Purwoharjo Pepanthan Dorok yang menjaga keamanan di pinggir jalan.

Umat Islam dan Kristen GKJW turut menghadiri syukuran Hari Ulang Tahun stasi umat Katolik ke 47 di Dorok, 31 Mei 2019. (Foto : Bunda Ellis).

“Begitulah kami membangun keutuhan persaudaraan selama ini,” ujarnya. Bukan suatu kebetulan, gedung Gereja Katolik berbatasan satu rumah dengan GKJW Pepanthan Dorok. Baik masjid maupun gereja Katolik dan GKJW Pepanthan Dorok berada di barat jalan poros.

“Saya sangat senang mendapat undangan hari jadi stasi Dorok ini. Karena itulah, saya hadir sendiri dan tak mau diwakili,” ujar Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Kediri, Ainur Rozzy.

“Kami mengucapkan syukur kepada Allah, juga terima kasih bagi para sedulur di sini. Kami diterima sebagai saudara di sini,” ujar Rm. Agustinus Made Hadi Prasetya, Pr.

Malam syukuran itu, disempurnakan dengan ungkapan syukur dan pemotongan tumpeng, sebagai simbol harmoni persaudaraan. Semakin kencang angin intoleransi, anak bangsa ini semakin mengeratkan tali persaudaraan.

Begitulah anak bangsa Nusantara ini hidup.*

Penulis (Sumber: Dok. Pribadi)

 * Penulis merupakan staf karyawan perpustakaan Universitas Ma Chung Malang.

Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan ke email : redaksi@terakota.id. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini