Anggrek di Pojok dan Paskah yang Sunyi

Oleh : Trianom Suryandharu*

Terakota.id–Setelah mencari tempat, maka ketemulah di sebuah pojok. Di tempat itulah, beberapa bulan lalu, Anwar menempatkan anggrek dendrobiumnya. Pada sudut di atas pagar itu, sepertinya cocok. Terlindung dari sinar matari langsung, namun masih terbuka ruang mendapatkan sinar mentari.

Anggrek itu, pemberian seorang teman sekantornya. Saat rumahnya direnovasi, semen cor-coran jatuh dalam pot menimpa pakis media tanamnya. Maka, merana-layulah dia. Setelah dirawat, berbulan-tahun, berbungalah dia. Ungu bergaris putih. Indah.

Pagi yang cerah, ketika pandemi wabah, serta kena jadwal ngantor di rumah, keindahan di pojok rumah dekat pagar itu ditemukan Anwar selepas ia mandi cahaya matahari pagi. Gegara wabah ini, kebiasaan baik itu ia lakukan. Iya, sebatang menjulang mekar kembangnya. Begitu cerah. Belum tuntas menikmati anggrek di pojok rumah, terbetik kabar. Seorang teman yang tinggal di Jember, Linda namanya.

Rumahnya berada persis di dalam lingkungan pasar krempyeng. Pagi buta ramai, beranjak tengah hari bubar. Pandemi Covid-19, menghajar kehidupan pasar. Pasar lesu. Sebagian besar orang, memilih aman berlindung di dalam rumah. Linda tahu betul, beberapa tetangganya, bergantung hidup pada keramaian pasar. Selain berjualan, beberapa bergantung sebagai buruh pasar.

Menyediakan bawah putih-bawah merah kupas, kelapa kupas, atau menjadi buruh gendong. Bertarung demi hidup, sebagai buruh harian. Di saat pasar lengang, Linda tahu, ada beberapa tetangganya, mengalami kesulitan mendapat sesuap nasi. Bersama ibunya, ia memasak nasi dengan lauk seadanya. Keluarga Tionghoa ini membungkus, lalu membagikannya.

“Tidak banyak, hanya untuk 55 KK. Karena hanya itu yang kami mampu,” pesannya singkat di telepon seluler. Iya, tidak banyak dari segi jumlah. Namun cukup berarti tentu saja. Linda, saban harinya, membantu orangtuanya membuat dan menjual kue pastel. Usaha kelas rumahan.

Kue pastelnya enak. Setiap hari juga dijual di pasar krempyeng, depan rumahnya. Dalam senyap, ia gegas berbagi hidup. Selalu saja, ada pribadi yang memilih bekerja dalam senyap. Gelap malam, tidak pernah kehilangan kerlip bintang. Pada siang yang telah menyembunyikan matahari di balik awan mendung, Anwar menikmati jam istirahat di kantor bersama Dullah.

Setengah berbisik, Dullah berkisah. “Juragan, kemarin ke rumah. Tetiba dia minta dibuatkan abah sebuah salib. Dari kayu jati tua,” kisahnya. Juraganya bernama Hendrikus, seorang Katolik yang taat. Beberapa waktu, jauh sebelum pandemi Korona, dia sempat ikut wisata rohani hingga ke Turki.

“Entah bagaimana ceritanya, rombongannya terpilih untuk masuk di sebuah ruang sakral,” lanjut teman sambil menyeruput segelas kopi hangatnya, di bawah rindang pohon ceres yang sedang meranggas daunnya. Anehnya, terusnya melanjutkan, suatu hari ia didatangi serombongan dari pondok pesantren.

Seseorang pemimpin rombongan, adalah orang yang dihormati. Lewat penerjemahnya, karena ( nuwun sewu ) sang Kyai adalah seorang tunawicara, dia menyapa ramah Hendrikus. Namun ketika mengaji ayat suci Alquran, begitu fasih-merdunya beliau. Hendrikus kaget.

Sang Kyai tahu, dia baru pulang dari ziarah. “Lho koq tahu?” Dari atas kursi rodanya, sang Kyai mengatakan bahwa Hendrikus diberikan kesempatan memasuki sebuah tempat yang tidak sembarang orang boleh memasukinya. Bahkan, waktu dan tempatnya, disebutkan secara presisi. Hendrikus mulai menyadari, dia telah melontarkan pertanyaan bodoh.

Rasa hormat-kagum pun menyusup. Belum surut herannya, sejurus kemudian, telunjuk Kyai itu menuding arah pada salib yang menempel di dinding. Sebuah benda yang menjadi simbol keteladanan akan kehidupan di balik pengorbanan yang tuntas-agung. Puncak spiritualitas keimanan umat kristiani.

Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Kayutangan meniadakan misa pagi pukul 06.00 WIB untuk menghormati umat muslim yang beribadah salat Idul Adha. (Terakota/Eko Widianto).

Salib di dinding itu, kalau bisa diganti. Namun ada syaratnya. Pertama, salib harus dari kayu jati yang tua. Kedua, salib itu harus dibuat oleh tangan orang yang telah katam Al Quran. Nah, kalau sudah jadi, saya yang akan memasangnya,” lewat santri penerjemahnya, dawuh Kyai yang juga sempat menjadi penasehat seorang Kyai besar, pemimpin negeri ini.

Dengan takzim, Hendrikus mendengarnya. Sempat termangu sejenak. Perhatiannya, tertuju pada kata katam. Baginya, tentulah, pribadi yang dimaksud, bukan sekadar mampu membaca semua teks ayat suci Alquran. Namun pribadi yang merindu berupaya menjadi rahmat bagi semesta raya.

Tidak butuh waktu lama, dia teringat sahabatnya sejak muda. Sahabatnya itu, pensiunan dari kantor KUA. Keilmuan agamanya, tak diragukan. Mumpuni. Tak heran, ia sering diundang memberikan tausiyah. Tidak neka neka saat aktif berdinas dulu. Ketika pensiun, memilih hidup bersahaja menjadi Kyai kampung. Menerima ihlas hidup dengan gaji pensiunan.

Kadang membuat meubeler, sekadar mengisi waktu menyukakan hati. Kyai kampung itu Wak Saji, mertua Dullah. Wak Saji dan Hendrikus berkarib sejak muda. Setelah mendengar tuturan sahabatnya, tidak berpikir panjang Wak Saji.

Sambil tersenyum ramah, ia terima permintaan sahabatnya. Wak Saji cukup tahu pasang-surut sahabatnya. Dia anak keluarga kaya. Setelah menikah, hidup mandiri. Pernah jatuh miskin, karena lebih memilih hidup mandiri.

“Istrinya membuat jajanan. Dia yang keliling menjualnya. Dia seperti merintis hidup dari nol. Ketika usaha sound system-nya berkembang, dia turut menyumbang bahan material untuk pembangunan masjid di kampung.” Suatu ketika Wak Saji berkisah pada Dullah, menantunya. Bagi Wak Saji, tidak ada halangan apapun dalam membuat salib itu. Malah, dalam mengerjakan, tangannya ringan bergerak.

Disertai doa, tentu saja. Dia berharap, Hendrikus, sahabatnya itu, kehidupannya semakin tertuju menyerupai benda yang tengah ia buat. Semakin kuat ibadahnya, semakin rendah hati dan ihlas berkorban menjunjung kemanusiaan.

Ketika tengah hari, bergeser menuju sore, berkumandang adzan azhar. Wak Saji telah merampungkan pesanan karibnya. Diletakkannya salib dari kayu jati tua itu, di meja. Di saat yang sama, Rachma, isteri Dullah usai ambil wudlu. Betapa terkejutnya dia.

Tampak seseorang, sedang memandang salib kayu jati itu. Sorot matanya nampak teduh. Tak lama. Sekedipan mata, lenyaplah pria di atas kursi roda itu. Setarikan nafas, dia menenangkan diri, kemudian melanjutkan diri sholat.

Pandemi wabah Covid-19, telah membuat murung. Was was serba kuatir merenggangkan kedekatan. Ibarat bandul, akibat baliknya malah menggugah solidaritas yang sempat digerus dan mengeropos. Ada ibu-ibu di RT yang bersengkuyung, membuat masker. Sebagian industriawan, belok arah memproduksi pakaian pelindung diri untuk tenaga kesehatan.

Anak muda gegas membuat hand sanitizer, cairan pembersih tangan. Sebagian ilmuwan, bersekutu membuat penelitian vaksin anti-virus  corona. Sebagian orang lagi, bahu membahu membagikan paket sembako.  Tentu saja, di ruang perawatan, gegap gempita semangat para pejuang kemanusiaan para petugas kesehatan, di garuda paling depan.

Dalam senyap, tak kekurangan pribadi berbudi luhur yang berkeringat demi kemanusiaan. Gigih menihilkan pamrih, melampaui batasan. Anggrek (dendrobium) ungu bergaris putih, di pojok tetap mekar-indah. Segar membasah tertimpa gerimis sore.. Selamat menyongsong Paskah, Merayakan kehidupan dalam sunyi yang riang..

Penulis (Sumber: Dok. Pribadi)

*Penulis merupakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPMM) Universitas Ma Chung Malang.

*Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan ke email : redaksi@terakota.id. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini