Iklan terakota

Evaluasi Ekologi dan Sosial

Pulau Sempu penuh sesak dengan deretan tenda milik wisatawan. (Hari Istiawan/Terakota)

Koordinator Tim Evaluasi Kesesuaian Fungsi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Siti Chadidjah Kanawati menjelaskan tengah dilakukan kajian lapangan bersama pengelola kawasan, instansi pemerintah, pakar bidang konservasi ekologi dan masyarakat. Termasuk tinjauan ekologi dan sosial ekonomi. “Memotret kondisi terkini, fisik di lapangan. Dilakukan analisis untuk rekomendasi pengelolaan kawasan,” katanya.

Tim evaluasi dibentuk Juli 2017, pengumpulan data primer dan sekunder dimulai sejak Agustus, sementara analisis dan paparan dilaksanakan September. Dilanjutkan presentasi dan rekomendasi kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya. “Penting menjaga Pulau Sempu sebagai laboratorium alam,” katanya.

Evaluasi dilakukan rutin setiap lima tahun sekali. Diawali dengan melihat dari citra satelit sejumlah kawasan relatif  bagus, tim fokus meneliti di daerah yang terganggu. Evaluasi dilakukan untuk mengoptimalkan pengelolaan. Rekomendasi hasil evaluasi akan diserahkan kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya.

“Demi kesesuaian fungsi. Jika kerusakan kecil, dilakukan pemulihan agar berfungsi optimal. Ada rehabilitasi,” ujarnya. Jika kerusakan besar, katanya, tak bisa dipulihkan maka dilakukan perubahan fungsi, baik sebagian kecil atau keseluruhan.

Dalam pemantauan itu tim menemukan fakta jika sekilas ada yang terganggu karena kunjungan wisata ilegal. Sedangkan fakta lain, menemukan satwa yang mengalami perubahan perilaku. Monyet ekor panjang agresif, merebut makanan dari pengunjung. Mereka masuk kawasan di sejumlah titik yang akses terbuka. Kucing-kucingan dengan petugas.

“Masih ada macan tutul, elang jawa, sejumlah primate. Artinya rantai makanan masih terjaga, ekosistem masih alami,” katanya.

Kerusakan vegetasi terjadi di track, terjadi pemadatan permukaan tanah. Juga ditemukan sampah di sejumlah titik. Namun, alam mampu memperbaiki diri sendiri. Alam menjaga siklus sendiri. Keanekaragaman tergolong baik. Predator, dan rantai makanan terjaga. “Kerusakannya sekitar lima persen dari seluruh luas kawasan, pengunjuk menginjak anakan tanaman hingga mati,” ujarnya.

Tim bertemu dengan warga sekitar, berharap hutan terjaga tapi wisatawan bisa berkunjung secara legal. Keindahan dan kondisi alam, katanya, menarik kunjungan wisata. “Ada pengelola informal, pemanfaat. Kelompok pemandu wisata. Tapi ada kesadaran membersih sampah, wisatawan membawa kantung plastik,” ujarnya.

Warga mendukung kelestarian Pulau Sempu tetapi berharap bisa ada kunjungan wisata yang tak merusak.  Masyarakat menjadi porter dan pemandu. Mereka mengetahui dan sadar jika aktivitasnya melanggar. Namun mereka berharap hutan tetap terjaga tetapi bisa dikelola dan beraktivitas kerja seperti biasa.

Tim menyusuri kawasan Selayar pesisir menuju segara anakan. Mengamati teluk sempit dan menyusuri pantai, gua dan waru waru untuk melihat lebih dalam kawasan. Ditemukan pengunjung di Gua Macan dan ada aktivitas perbaiki kapal. Jalur ini, katanya, digunakan untuk jalan untuk para penghobi memancing.

Tim juga bertemu dengan sekelompok mahasiswa yang mendirikan tenda untuk bermalam. Setelah dijelaskan status cagar alam khusus untuk penelitian dan pendidika, mereka akhirnya membatalkan menginap di dalam kawasan.

Siti menjelaskan ada perubahan paradigma, jika dulu fokus untuk perlindungan berupa eksplorasi, penelitian, pengawetan dan budidaya. Sedangkan usaha pemanfaatan sedikit. Namun, dengan berjalannya waktu fungsinya terbalik. Yakni menjaga keberlangsungan kawasan namunfungi pemanfaatan lebih banyak.

“Kawasan konservasi digali untuk budidaya pangan, kehutanan dibantu peneliti. Bermitra dengan peguruan tinggi, dan lembaga swadaya masyarakat. Eranya terbalik. Dulu konservasi sekarang pemanfaatan,” ujarnya.

Menurutnya, tak bisa hanya mementingkan ekologi tetapi tak dilakukan usaha untuk pemanfaatan. Siti menuturkan tak mau masyarakat menjadi penonton Untuk itu, kunjungan ke kawasan dihentikan sampai ada keputusan Menteri terhadap status cagar alam Pulau Sempu. Dia berharap ada keseimbangan, alam tetap terjaga lestari.

Laguna sempu, segara anakan, katanya, tak boleh dipromosikan untuk pariwisata. Lantaran kawasan tersbeut cagar alam yang tak boleh dikunjungi. Sementara Dinas Pariwata mempromosikan wisata Pulau Sempu di baliho dan situs internet. “Tapi kami tak bisa menyalahkan Pemerintah Kabupaten Malang, kami mengkoreksi kebijakan mereka,” katanya.