Ancaman Globalisasi, mulai Pergeseran sampai Kepunahan Bahasa Daerah

Ilustrasi (Sumber: Kompasiana.com)

Oleh: Wahyu Eka Setyawan*

Terakota.id–Indonesia, berdasarkan data dari web berbasis penelitian seputar bahasa Ethnologue: Language of The World, Indonesia kurang lebih mempunyai 742 bahasa daerah. Fenomena hilangnya bahasa daerah tengah melanda beberapa daerah di Indonesia. Berdasarkan catatan dari Konferensi Internasional di Bidang Bahasa, Sastra dan Budaya (ICON LATERALS) Universitas Brawijaya November tahun 2016, bahwa banyak dari bahasa terancam punah. Total dari 719 bahasa lokal yang ada di Indonesia, sebanyak 707 masih eksis, sementara 266 terancam, 76 nyaris punah dan 12 sudah punah.

Dari berbagai penelitian terkait pemertahanan bahasa, tercatat di Papua dan Maluku ditemukan kasus terjadinya pergeseran bahasa. Berdasarkan penuturan dari Prof. Prof. Dr. Multamia Lauder, secara umum kurang lebih ada 25 bahasa berada dalam status kritis. Dengan catatan mendekati kepunahan. Alexander Heryanto, dalam tulisannya “Bahasa-bahasa Daerah yang Hampir Musnah,” menuliskan bahwa bahasa yang telah hilang, punah, ada sekitar 13 bahasa daerah. Bahasa yang telah punah maupun mendekati kepunahan kebanyakan berasal dari Maluku dan Papua. Bahkan menurut UNESCO dalam sebuah warta nasional, menyebutkan jika setiap tahun bahasa Papua mengalami kepunahan, dengan indikasi tidak pernah digunakan sebagai alat komunikasi.

Contoh kasus di Sulawesi terdapat beberapa bahasa yang mulai ditinggalkan oleh penuturnya, misalnya bahasa Panasuan, bahasa Talondo, bahasa Napu. Sementara di Provinsi Sulawesi Tengah, tepatnya di Palu, dalam jurnal berjudul “Menuju Generasi Monolingual di Kota Palu,” Kini tengah menghadapi problem pergeseran bahasa. Dalam penelitian tersebut mengungkapkan suku Kaili yang memiliki bahasa ibu Kaili terancam punah. Karena generasi muda suku Kaili mulai enggan menggunakan bahasa tersebut. Sehingga praktis hanya digunakan golongan tua. Ancaman kepunahan pun tinggal menunggu waktu saja.

Pada konteks di Jawa, memang secara kondisi faktual belum ada tanda-tanda mengalami kepunahan. Sedang dalam konteks komunitas, kita bisa memakai contoh masyarakat Samin. Berdasarkan catatan dari Takeshi Shiraisi “Dangir’s Testimony Saminism Reconsidered” (1990), masyarakat Samin yang berpusat di Blora selain tidak mau membayar pajak dan kerja rodi, mereka juga tidak mau memakai bahasa selain Jawa Ngoko. Seiring berkembangnya zaman masyarakat Samin mulai meninggalkan Jawa ngoko dan beralih ke Jawa Kromo. Hal ini dikarenakan masyarakat Samin mulai mengalami transisi, terutama mulai banyaknya non-Samin yang tinggal disekitar daerah mereka. Sebagai konsekuensi kondisi sosial, secara perlahan mereka mulai menggunakan bahasa Jawa kromo dan meninggalkan Ngoko.

Beberapa contoh juga penulis dapatkan di berbagai tempat. Baik di daerah-daerah mapan maupun pinggiran. Di daerah mapan seperti Surabaya terutama wilayah kampus, penggunaan bahasa daerah terutama Jawa Suroboyoan semakin menurun. Kebanyakan terjadi perpaduan bahasa, antara bahasa Indonesia dengan Jawa Suroboyoan, bahkan terkadang tersisa dialeknya saja. Berbeda dengan Malang, terjadi pergeseran bahasa yang cukup signifikan terutama di kalangan muda-mudi. Intensitas penggunaan bahasa Jawa semakin menurun. Beberapa kasus yang saya temui, mereka memakai bahasa Indonesia dengan logat Jakarta atau Sunda. Pada beberapa kasus juga penulis temukan di daerah kawasan industri.

Faktor Penyebab Mulai Bergesernya Suatu Bahasa Daerah

Namun ketika melihat dalam konteks sekarang, mengapa bahasa daerah mulai mengalami pergeseran atau luntur secara perlahan-lahan. Pada beberapa contoh kasus, bahasa daerah berpadu dengan beberapa bahasa dari daerah lain, sehingga menjadi bentuk baru bahkan mulai menggeser bahasa asli di daerah tersebut. Perubahan tersebut tidaklah kebetulan, tetapi ada beberapa faktor yang melatarbelakanginya. Salah satunya ialah migrasi manusia. Dalam konteks Indonesia, maka kita akan mengenal istilah transmigrasi, urbanisasi hingga ruralisasi.

Migrasi manusia dari satu tempat ke tempat lainnya tidak bisa dilepaskan dari yang namanya situasi ekonomi dan kemajuan suatu tempat. Dalam konteks ini sangat erat kaitannya dengan ketimpangan-ketimpangan yang masih menghantui. Seperti kesejahteraan, fasilitas, akses pendidikan, hingga peluang pengembangan ekonomi. Namun dengan seiring adanya otonomi daerah kondisi tersebut sedikit berbalik. Dimana banyak individu dari wilayah mapan berpindah ke tempat yang masih tertinggal. Tentu dengan tujuan pengembangan ekonomi, atau memperoleh kesempatan pengakumulasian modal. Secara epistemik, kondisi tersebut tidak dapat dilepaskan dari ekonomi itu sendiri.

Menguatnya suatu bahasa tertentu tidak bisa dilepaskan dari penguasaan ekonomi. Bahasa Inggris mendominasi karena didukung oleh beberapa korporasi multinasional yang memang menguasai sektor ekonomi. Korporasi tidak berdiri sendiri, perluasan hegemoni bahasa juga didukung oleh pemerintah setempat. Salah satunya ialah cengkraman hegemoni linguistik pada institusi pendidikan, melalui lembaga tersebut imperialisme bahasa semakin masif dan meluas. Mendukung pergeseran bahasa serta melanggengkan kontruksi kelas sosial yang menjadi masalah dalam kasus pergeseran bahasa. Seperti dalam kasus di Korea, bahwa bahasa Inggris telah menjelma sebagai salah satu syarat pekerjaan yang prestise, serta menjadi penanda kelas sosial di masyarakat.

Bahkan bahasa nasional yang notabene bahasa resmi, juga mengalami reduksi cukup serius. Perluasan arus globalisasi, dimana ditandai dengan beberapa perjanjian internasional, serta mulai munculnya zonasi wilayah ekonomi. Turut menyumbang pergeseran bahasa, bahwasanya ekspansi kapital yang rata-rata menggunakan bahasa Inggris turut memaksa reduksi penggunaan bahasa nasional itu sendiri. Hal tersebut juga didukung dengan stigma bahwa menggunakan bahasa asli, merupakan bentuk kemunduran dan tidak siap dalam persaingan global. Serta munculnya pemahaman baru seseorang yang menggunakan bahasa internasional terutama Inggris, secara kelas sosial akan terlihat lebih tinggi dan terkesan modern.

Bahasa terkini yang sedang mengalami penguatan ialah Mandarin. Semakin masifnya kekuatan ekonomi China turut memperkuat posisi bahasa Mandarin di belantara masyarakat bahasa. Ekspansi ekonomi secara tidak langsung menciptakan penguatan bahasa serta pergeseran bahasa Ibu. Mulai bergesernya bahasa dan punahnya beberapa bahasa, tidak lepas dari faktor ekspansi kapital. Selain itu relasi politik juga punya andil dalam menciptakan budaya sesuai dengan kepentingan ekonomi, sehingga menjadi salah satu faktor bergesernya suatu bahasa.

Wahyu Eka Setyawan (Sumber: Dok. Pribadi)

*Mahasiswa Unair Surabaya, Pegiat Sosial

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini