Anak Kos Gang Peneleh, Penggerak Kemerdekaan Indonesia

Di rumah Tjokro pulalah anak-anak muda ini bertemu dengan Hendricus Josephus Fransiscus Marie Sneevliet dan A. Baars. Keduanya berperan penting dalam membidani lahirnya Partai Komunis Indonesia. Bahkan, Sneevliet, seorang sosialis radikal Belanda, dituduh menginjeksikan ideologi komunis pada murid-murid Tjokro: Musso, Alimin, dan Semaun.

Terakota.id–Sejak sebelum kemerdekaan, Surabaya adalah kota yang sibuk. Pelabuhannya hidup. Industrinya terus bergerak. Transaksi dan persaingan perdagangan berlangsung tanpa kenal waktu, berlangsung mulai pagi, siang dan malam. Orang-orang tersedot menjejali kota. Mengadu nasib sebagai buruh dok dan pekerja reparasi kapal.

Di tengah selaksa kompetisi riuh di kota ini, tunas pejuang kemerdekaan tumbuh. Dari rumah kos-kosan di sebuah gang sempit milik pemimpin Sarekat Islam, Hadji Oemar Said (H.O.S) Tjokroaminoto, tumbuh anak muda revolusioner. Mereka membaca, menulis, berdebat, berdiskusi, datang di dalam rapat-rapat politik, dan bergerak bersama massa rakyat.

Di antara anak-anak muda itu terdapat nama-nama yang diabadikan dalam catatan sejarah kemerdekaan Indonesia.  Mereka adalah Musso, Alimin, Kartosuwiryo, Semaoen dan Sukarno. Kelak, anak-anak muda ini menggeluti pemikiran dan meniti jalan perjuangan yang berbeda. Bahkan saling berseberangan dan bersitegang.

Musso, Alimin, dan Semaun dikenal sebagai tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI). Kartosuwiryo, memperjuangkan tegaknya Negara Islam Indonesia melalui gerakannya, Darul Islam. Sedang Sukarno, dikenal nasionalis (pendiri Partai Nasionalis Indonesia) dan justru dikemudian hari mengaku sebagai seorang sosialis tulen.

Menyandang nama Kusno Sosrodihardjo, menapaki usia 15 tahun. Pada 1916, Bapaknya Soekemi Sosrodihardjo, menitipkan Sukarno muda pada Tjokroaminoto. Rumah Tjokro, Gang Peneleh VII, telah dihuni sepuluh anak kos lain. Bapaknya, menginginkan Sukarno tidak hanya belajar di HBS (setingkat SMA sekarang), melainkan juga berguru kepada Tjokro.

Tjokroaminoto berusia 33 tahun kala itu menjadi ketua Sarekat Islam beranggota 2,5 juta orang. Kapitsa M.S. dan Maletin N.P. dalam Soekarno: Biografi Politik menyebut Tjokro sebagai wakil dari kaum inteligensia yang mencerminkan kesadaran nasional. Tjokro berhasil menciptakan gerakan nasional yang lebih radikal.

Menyitir V.I Lenin, Kapitsa dan Maletin menilai Sarekat Islam yang dipimpin Tjokro menjelma organisasi revolusioner demokratis. Organisasi ini telah memainkan peran penting dalam gerakan demokratis di Hindia-Belanda menjelang Perang Dunia I.

Dalam Kebangkitan Asia, Lenin menulis, “Bahwa yang menjalankan gerakan-gerakan tersebut adalah terutama masyarakat di Jawa, dari mana telah muncul gerakan nasionalis dengan bendera Islam.”

Rumah Tjokro pun strategis. Tidak jauh dari mulut gang. Dan hanya berjarak satu kilometer dari HBS. Cindy Adams dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat menyebut rumah Tjokro sebagai dapur nasionalisme. Sedang Kapitsa M.S. dan Maletin N.P. dalam Soekarno: Biografi Politik menamainya sebagai sebuah universitas politik.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan