Ubah Sampah Plastik menjadi Kerajinan Bernilai Seni

Salah seorang anak yang berlatih membuat hotbottle di masjid As-Sainah. (Terakota/Faisol Asyari).

Reporter : Faisol Asyari 

Terakota.id-Puluhan anak-anak usia sekolah dasar dan ibu-ibu berkumpul di masjid As- Sakinah Jalan Janti Barat Nomor 9A, Kelurahan Bandungrejosari, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Jumat 17 Mei 2019. Duduk bersimpuh, masing-masing mengambil dua botol minuman, pipet atau sedotan dan sendok plastik. Barang tersebut diperoleh dari sebuah rumah makan, maklum sebagian takmir masjid merupakan pengusaha warung makan.

Sampah tak langsung dibuang, mereka kumpulkan dalam kantung plastik. CEO Hot Bottle The Indonesia Plastic Bottle Recycle Taufiq Saguanto duduk di tengah. Ia mengeluarkan gunting, gergaji besi dan lem tembak. Ia memperagakan mengubah sampah plastik menjadi kerajinan bernilai seni. Ia menggunting dan memotong bagian botol plastik, pipet dan sendok plastik. Lantas ditempelkan dengan lem di atas sebuah kertas karton.

Setiap bagian disusun rapi, dan jadilah sebuah miniature sepeda motor gede. Takmir masjid As-Sakinah, Subaki menjelaskan jika pelatihan daur ulang sampah plastik sengaja dilakukan untuk mengolah sampah menjadi barang berharga. Jika selama ini botol plastik dibuang ke tempat sampah, sekarang menjadi kerajinan yang bernilai jual.

“Bulan suci Ramadan tak hanya diperuntukkan beribadah. Memerangi sampah plastik juga ibadah,” katanya. Peserta pelatihan terdiri dari ibu jamaah pengajian, remaja masjid dan anak-anak warga setempat. Dia berharap kerajinan ini ditularkan dan menimbulkan kreasi baru dengan sampah plastik yang menjadi masalah.

Taufiq Saguanto menjelaskan Ramadan merupakan momentum yang tepat untuk berkreasi dengan botol plastik di masjid. Lantaran selama Ramadan anak-anak dan orang tua lebih banyak beribadah di masjid. “Justru setelah Ramadan sibuk ke pusat perbelanjaan dan berwisata,” katanya.

Anak-anak, remaja masjid dan ibu jamaah masjid As-Sakinah belajar membuat minuatur sepeda motor dari limbah plastik, (Terakota/Faisol Asyari).

Kerajinan hotbottles, katanya, tak bisa dipandang sebatas kerajinan biasa saja. Justru kerajinan menjadi media mengenalkan bisnis tanpa modal. Juga merangsang anak-anak kreatif membuat mainan sendiri. Mengembalikan masa kejayaan anak-anak era 1980-an yang membuat mobil-mobilan dan permainan lain dari alam.

Selain itu juga menumbulkan nilai-nilai, seperti mengolah limbah botol minuman, pipet dan sendok makan yang kerap dibuang. Tapi digunakan kembali agar sampah plastik tak menumpuk dan merusak alam. “Minumnya lima detik, sampahnya berusia ratusan tahun,” katanya.

Bahagia juga sederhana, katanya, anak-anak diberi dua botol bekas minuman, pipet dan sendok plastik. Lantas mereka akan berkreasi dan berimajinasi membuat karya seni sesuai dengan imajinasinya. Seperti motor, meski hanya sekali diajarkan ternyata hasilnya beragam. Ada yang memodifikasi menjadi miniatur motor gede atau motor trail.

Mengolah sampah plastik, katanya, dibutuhkan teknologi. Sedangkan tidak semua pemerintah daerah memiliki peralatan yang canggih untuk mendaur ulang. Salah satu cara sederhana mendaur ulang, ujar Taufiq, secara sederhana dengan metode hotbottles ini. Botol plastic disulap menjadi robot, miniature motor, mobil dan pesawat.

“Ada 600 desain,” ujarnya. Kita, ujar Taufiq, tak melihat sampaj sebagai bencana. Kadang malah mengabaikannya. Dengan hotbottles ini, anak-anak bakal tergerak untuk menciptakan karya seni dari botol bekas. Tanpa disuruh, katanya, mereka akan secara naluriah memungut botol yang terserak dan dibiarkan menjadi kerajinan.

Aktivitas ini dilakukan rutin berkeliling dari satu masjid ke masjid lain. Ia berharap agar kegiatan ini bisa berlangsung secara kontinyu. Terutama saat bulan Ramadan, selain mengaji juga menyelesaikan masalah limbah plastic yang terus menggunung. Islam, katanya, mengajarkan kebersihan. “An-nadhafatu minal iman. Kebersihan sebagian dari iman,” ujarnya.

Setelah miniatur motor disusun dan dilekatkan dengan lem tembak di atas kertas kartun, memasuki tahap finishing. Kerajinan hotbottles disemprot dengan cat warna hitam dan emas. Terlihat menarik, dan elegan. “Boleh saya beli Rp 10 ribu?” Tanya Taufiq. Spontan mereka menjawab,”tidak boleh. Sayang, lebih baik disimpan di rumah,” katanya.

Untuk memperoleh hasil maksimal dibutuhkan kesabaran, ketelitian dan konsistensi. Usai pelatihan, Taufiq berharap mengubah pola pikir tak memandang sampah plastic sebagai ampas. Tetapi botol plastik merupakan bahan baku dengan produk yang bernilai. Jika memandang sampah sebagai ampas, maka selamanya  tak akan mengambil manfaatnya. Sebaliknya jika sampah merupakan bahan baku, maka akan memicu daya kreativitas menciptakan sesuatu dari barang bekas.

“Ini akan saya berikan ke cucu saya. Juga akan mengajari mereka membuat kerajinan serupa,” kata Sumini, seorang ibu rumah tangga yang menjadi peserta pelatihan. Selain itu, ia akan membuat gerakan kampanye bersama warga untuk mengurangi sampah. Ia tengah berinisiatif menyelenggarakan pelatihan sendiri bersama warga sekitar.

Siswa kelas 2 Sekolah Dasar, Nadina Kartika Sari mengaku dua kali mengikuti pelatihan daur ulang sampah. Ia  merasa senang dan bisa membuat permainan hotbottles menjadi miniature sepeda motor. “Senang, akan saya pajang di rumah,” katanya tampak malu-malu.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini