Akselerasi Pendidikan Daring, Mempersempit Gap Antar Generasi?

Ilustrasi : theartof.com

Oleh : Frida Kusumastuti*

Terakota.id–Pendidikan daring di era internet memang sudah menjadi gambaran masa depan pendidikan di Indonesia. Hal ini selain merayakan kehadiran teknologi, representasi modernitas global, juga menjawab beberapa persoalan kelemahan jumlah SDM, dan sarana prasarana yang mengandalkan, kebutuhan fisik ruang. Namun, setidaknya hingga awal 2020 belum banyak perguruan tinggi dan sekolah yang melaju dengan cepat mewujudkan konsep pendidikan daring itu.

Justru pandemi Covid-19 yang sangat mendadaklah yang “memaksa” percepatan mewujudkan gagasan pendidikan daring. Siapa yang menyangka bahwa pandemi covid-19 membuat semua stakeholder pendidikan mengambil keputusan menerapkannya. Walau dengan tergagap-gagap, dan sebagian nyaris tak bisa menerapkanya karena kendala sarana prasarana, SDM, dan finansial. Setidaknya ada sisi lain yang terpecahkan, yakni semakin berkurangnya gap antar generasi dalam hal literasi digital.

Literasi Digital  dan Gap Generasi.

Banyak definisi tentang literasi digital. Jika dipahami secara umum, litreasi digital bisa dikatakan sebagai minat dan kemampuan seseorang dalam menggunakan teknologi digital untuk mengakses, dan mengelola informasi untuk berbagai keperluan komunikasi dan interaksi. Sehingga seseorang yang dianggap sudah terliterasi akan menunjukkan beberapa tingkatan kompetensi.

Meramu dari berbagai sumber, Jaringan Pegiat Literasi Digital Indonesia (Japelidi) membuat 10 kompetensi literasi digital yang meliputi mengakses, menyeleksi, memahami, menganalisis, memverifikasi, mengevaluasi, mendistribusikan, memproduksi, berpartisipasi dan berkolaborasi yang berkaitan dengan konten digital dan dikerjakan secara digital pula. Teknologi digital sendiri menunjukkan adanya konvergensi teknologi yang meliputi teknologi komputer dan internet.

Sejarah perkembangan munculnya teknologi selalu menyisakan gap antar generasi dalam penguasaan teknologi. Hal ini juga merupakan watak semua teknologi baru, selalu ada istilah native generation dan migran generation. Akan halnya teknologi digital ini, gap antar generasi juga dirasakan menjadi penghambat interaksi antar generasi dengan segala hal yang melingkupinya. Termasuk soal budaya komunikasi sosial karena penguasaan teknologi digital yang timpang.

Native generation sudah merayakannya, generasi terdahulu “sibuk” membandingkan keunggulan hasil teknologi sebelumnya. Akhirnya apa yang terjadi? Komunikasi dan interaksi antar generasipun menjadi ada persoalan. Baik itu persoalan simbol, cara, dan etiket. Disisi lain, generasi sebelumnya yang berusaha mengikuti teknologi baru, mayoritas juga mengalami kesulitan beralih dari kebiasaan lama. Kondisi ini seringkali juga membuat generasi sebelumnya enggan melakukan migrasi (beralih mengadopsi) secara total. Maka gap itu semakin lebar saja. Apalagi jika berhadapan dengan generasi sebelumnya yang lagard (kolot) tidak mau mengadopsi teknologi baru.

Akselerasi Digital di Dunia Pendidikan

Seperti penulis ungkap di awal tulisan, pandemi covid19 yang melahirkan kebijakan-kebijakan mendadak untuk daring. Kondisi ini mau tidak mau memaksa semua generasi menyesuaikan diri dan mengadopsi teknologi digital. Dunia pendidikan yang paling unik. Sekolah merupakan pertemuan antar generasi yang paling kompleks. Usia guru dan siswa adalah contoh nyata tentang hal itu.

Guru yang didominasi oleh generasi baby boomer (kelahiran 1964 ke bawah), dan generasi X (kelahiran 1965-1980) di Perguruan Tinggi akan berhadapan dengan generasi Milenial (kelahiran 1981-1994) dan generasi Z (1995-2010) yang juga menyebar di Sekolah Menengah. Apalagi jika kita lihat di Sekolah Dasar dan PAUD yang berhadapan dengan Generasi Alpha (kelahiran 2010, 2011 dst.).

Keberadaan antar generasi di dunia pendidikan itu seringkali juga membuat rasa tidak nyaman berinteraksi diantara mereka. Baik itu interaksi di dalam kelas maupun dalam lingkungan sekolah atau kampus. Perbedaan bahasa, perbedaan norma, dan cara berkomunikasi, cara berpikir, dan cara belajar merupakan imbas dari perbedaan dalam penggunaan teknologi.

Kenyamanan dengan cara lama yang diterapkan oleh para guru dan dosen, banyak yang tidak kompatibel dengan cara siswa dan mahasiswa dalam hidup sehari-harinya. Disisi lain, guru dan dosen yang berusaha mengimbangi atau berbaur, tetap saja kalah cepat dengan perkembangan siswa yang memang cenderung cepat atau mudah mengadopsi teknologi baru. Jadi sebenarnya sama-sama frustasi.

Pandemi Covid19 yang melahirkan kebijakan daring mau tidak mau banyak guru dan dosen juga mempercepat belajar mengejar kompetensi literasi digital. Ketika para guru dan dosen sudah benar-benar menggunakan teknologi digital, barulah mereka bisa merasakan bagaimana dunia generasi milenial, generasi Z dan generasi Alpha. Para guru dan dosen menjadi antusias mempelajari dunia digital demi tetap bisa berinteraksi dengan siswa/mahasiswa sesuai standart profesional.

Awalnya untuk keperluan pembelajaran, lambat laun akan menjadi habit lalu budaya. Bahkan ada kelebihan karena setidaknya para guru dan dosen sebelumnya telah memiliki mental dasar yang teruji untuk menangkal pengaruh buruk dari tehnologi baru.

Disisi lain yang terjadi pada murid dan mahasiswa. Kini mereka juga merasakan bagaimana daring mengubah semua perilaku guru dan dosen dalam mengajar. Mereka mengalami langsung pergulatan para guru dan dosen dalam mengejar ketertinggalan penguasaan tehnologi baru. Timbul rasa simpati dan empati. Penulis sendiri merasakan, bagaimana para mahasiswa kadangkala dengan sukarela menjadi tutor bagi penulis dalam mengenali dan memahami teknologi ini.

Mengenali perbedaan habit, norma, maupun bahasa mereka dan lalu mendiskusikan semua itu dalam suasana yang egaliter. Walau perbedaan usia yang lebih dari 30 tahun dengan mereka. Satu sisi perbedaan usia itu juga tetap menjadikan para mahasiswa manaruh rasa hormat, tempat bertanya (curhat) dalam hal kebijaksanaan. Sungguh situasi yang sangat humanis.

Inilah yang penulis sebut sebagai salah satu hikmah pandemi covid19 bagi dunia pendidikan kita. Akselerasi pendidikan daring, dan mempersempit gap antar generasi  dalam segala budayanya. Tentu masih perlu banyak kajian selanjutnya.

*Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang dan Pegiat Japelidi Indonesia

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini