Aksara Pallawa, Menapak Jejak Aksara di Nusantara

Prasasti Yupa yang tersimpan di Museum Nasional, pada 1930-1955. (Foto : KITLV)

Terakota.idJejak peradaban suatu bangsa dapat ditelusur salah satunya melalui aksara. Prasasti Yupa yang diperkirakan dibuat 400 Masehi di Kalimantan Timur menjadi bukti tertua tradisi tulis di Nusantara. Prasasti peninggalan Kerajaan Kutai Kertanegara, menggunakan aksara Pallawa dan berbahasa Sansekerta.

Tujuh Prasasti Yupa kini disimpan di Museum Nasional. Ketujuh prasasti merupakan satu kesatuan prasasti.  Masing-masing dipahatkan di sebuah tiang batu andesit (monolit) yang disebut yupa. Ketujuh prasasti ditemukan dalam satu lokasi di Muara Kaman, pedalaman sungai Mahakam di Kabupaten Kutai, Provinsi Kalimantan Timur.

Selain itu, juga ada prasasti beraksara Pallawa lain, yakni Prasasti Ciaruteun peninggalan Kerajaan Tarumanegara abad kelima, Prasasti Kedukan Bukit peninggalan Kerajaan Sriwijaya, berangka 682 Masehi dan Prasasti Canggal peninggalan Dinasti Sanjaya pada 732 Masehi.

Ridwan Maulana dalam bukunya Aksara-Aksara di Nusantara : Seri Baca Tulis : Ensiklopedia Mini menyebut penyebaran agama Hindu-Buddha turut membawa masuk aksara Pallawa ke Asia Tenggara. Aksara Pallawa berasal dari India Selatan. Digunakan pada masa kerajaan Pallawa sekitar 275 – 879 Masehi.

Kedatangan guru agama Hindu dan Budha dari India serta terjalinnya hubungan perdagangan internasional memicu pertukaran budaya. Sekaligus adaptasi dan akulturasi budaya pendatang dengan penduduk lokal.

Ninny Susanti dalam karya ilmiahnya berjudul Scripy and Identity of Indonesia menyebutkan selain aksara Pallawa, aksara Siddhamatrka dan Tamil juga dikenalkan penyebar agama Hindu-Buddha. Seiring perkembangan aksara Pallawa inilah, yang menjadi cikal bakal tradisi tulis di Asia Tenggara. Salah satunya di Indonesia.

Pada masa perkembangan kerajaan Hindu Buddha, aksara Pallawa mulai digunakan dan berkembang menjadi aksara Pasca Pallawa. “Berkembang di Jawa dan Sumatera secara bersamaan. Di Jawa dikenal aksara Kawi. Setipe namun berbeda gaya, di Sumatera dikenal dengan Kawi Sumatera,” tulis Ridwan Maulana.

Istilah Kawi Sumatera, katanya, tak pernah disebut dalam kajian penelitian. Tidak diketahui alasan pastinya. Menurut Ridwan istilah Kawi melekat sebagai nama lain dari “Jawa Kuno”. Aksara pasca Pallawa di Sumatera belum memiliki nama rujukan khusus. Aksara Kawi Sumatera ditemukan di Prasasti peninggalan kerajaan Melayu dan kerajaan Dharmasraya, Prasasti amoghapasa dan Adityawarman.

Aksara Kawi Sumatera turut dituangkan dalam naskah Tanjung Tanah di Sumatera Tenah dan aksara di nisan Minye Tujoh di Aceh. Ciri aksara Kawi Sumatera memiliki bulatan mirip aksara Thai. Sedangkan aksara Kawi Jawa digunakan pada abad kedelapan hingga abad ke-16 di Jawa dan Bali.

Pakar paleografi asal Belanda J.G. de Casparis membagi Aksara Nusantara menjadi lima ragam berdasar masanya. Aksara Pallawa pada abad keempat hingga kelima, aksara Kawi Wiwitan pada 750-925 Masehi, aksara Kawi Pungkasan pada 925-1250 Masehi, dan aksara Majapahit 1476 – 1600-an Masehi.

Pada masa kerajaan Hindu-Budha era klasik, aksara biasa diukir di atas media yang keras dan tahan lama. Meliputi batu, logam, dan tanduk, serta prasasti. Berakhirnya era Hindu-Buddha di Indonesia disambung era perkembangan pengaruh Islam sekitar abad ke-16, penggunaan aksara Jawa Kuno, Bali Kuno, Sumatera Kuno, dan Sunda Kuno kian berkembang.

Aksara dimodifikasi, digunakan untuk menulis naskah dalam bahasa daerah. Aksara diukir pada media halus, daun lontar, kertas daur ulang dari kulit kayu pohon atau daluwang, kulit binatang, rotan, kulit kayu. Mulai dikenal sebagai manuskrip. Beberapa aksara masih ditemukan diukir pada media keras seperti prasasti.

“Abad ke-16 dianggap sebagai awal perkembangan aksara daerah di Indonesia. Naskah aksara Jawa Kuno, Sumatera Kuno, Bali Kuno, dan Sunda Kuno mulai membawa karakter daerah masing-masing, diakui milik masyarakat setempat,” tulis Ninny Susanti.

Aksara Hanacaraka untuk tulisan Jawa dalam bahasa Jawa, aksara Cacarakan untuk tulisan dalam bahasa Sunda, dan aksara Bali untuk tulisan dalam bahasa Bali. Serta aksara Sasak, tulisan Lombok berbahasa Sasak.

Masuknya ajaran agama Islam di Indonesia, aksara Arab mulai digunakan. Pegon, Jawi ( bahasa Melayu), Buri Wolio (bahasa Wolio), Serang (bahasa Bugis- Bahasa Makassar), Bilang-bilang (bahasa Bugis-Makasar), Melayu Bima (bahasa Melayu Bima).

Media untuk menulis dari bahan lunak dan tak tahan lama, kertas daur ulang dari kulit kayu pohon, kulit kayu pohon, daun lontar. Ditemukan sedikit bukti penggunaan bahan yang keras dan tahan lama, batu nisan atau bagian bangunan konstruksi. Naskah-naskah beraksara Arab sebagian besar berisi ajaran agama, adat istiadat, hukum, filsafat, pelestarian lingkungan, politik, sastra, nasihat dan petunjuk pelaksanaan pekerjaan.

Kedatangan kolonial ke Indonesia memperkenalkan jenis huruf baru, huruf latin. Tercatat ejaan  van  Ophuijsen, ejaan  Bahasa  Indonesia  yang  pertama kali dalam  huruf Latin. Dicetuskan Charles  Adriaan  van  Ophuijsen, sarjana bahasa Melayu berkewarganegaan Belanda. Hingga kini aksara latin tetap digunakan di Indonesia.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini