Akhir Pekan Menari dan Membatik di Kampung Polowijen

Terakota.id—Berakhir pekan di Kampung Budaya Polowijen (KBP), Anda bakal melihat rutinitas masyarakat setempat berlatih menari topeng dan membatik. Sejumlah anak dan remaja berlatih menari di depan pendapa. Tak disangka rombongan wisatawan mancanegara mampir ke KBP. Spontan mereka diajak berlatih menari bersama.

Antusias, wisatawan asal Prancis ini mengenakan selendang tari atau sampur dan bersama-sama belajar menari. Mereka datang atas rekomendasi teman yang sebelumnya ke KBP. Temannya saat itu ikut belajar menari dan membatik.

“Teman saya ikut Design Thinking Camp 2018 bersama 60 mahasiswa dari 20 Negara,” kata salah satu wisatawan bernama Anastasia, dalam siaran pers yang diterima Terakota.id.

Ia mendapat kiriman dokumentasi foto kegiatan selama di KBP bersama warga setempat. Foto tersebut juga diunggah di media sosial. Sehingga ia tertarik untuk mampir dan melihat kampung kelahiran Ken Dedes tersebut. “Menarik, ingin melihat dan belajar menari bersama di sini,” ujarnya.

Mereka mengikuti setiap gerak tubuh menirukan pelatih tari. Para wisatawan mancanegara ini terlihat serius belajar menari. Mereka larut dalam gerakan tari topeng Grebeg Sabrang, Grebeg Jowo dan Bapang. Sementara anak-anak tampak antusias, usai berlatih menari mereka berswafoto.

Usai latihan menari, para wisatawan mancanegara ini ikut berlatih membatik. Pelatih membatik Titik Nur telaten menjelaskan setiap tahapan membatik. Memulai dengan menggambar pola, menorehkan malam atau lilin cair dengan canting, hingga mewarnai kain dan peluruhan malam.

Wisatawan Prancis belajar membatik di Kampung Budaya Polowijen. Wisatawan kampung dengan seni dan tradisi di Indonesia. (Foto : Isa Wahyudi).

Anastasia larut berlatih menari dan membatik. Ia mengaku senang sekaligus kagum melihat seni dan budaya Indonesia. “Gerakan tarinya ada yang halus, dan lemah gemulai.”

Sementara Sabrina yang tercatat sebagai mahasiswa pasca sarjana jurusan periklanan ini tertarik desain bangunan KGB. Terutama anyaman bambu yang menghias gazebo dan rumah untuk ruang pamer. Ia juga kagum warga giat belajar menari, membatik dan memahat topeng. Sabrina menilai kampung ini unik dan menarik.

Menurutnya KBP bisa menggandeng agen perjalanan wisata agar semakin banyak wisatawan yang berkunjung. Terutama wisatawan asal Eropa yang menyukai wisata dengan obyek kesenian, budaya, dan tradisi unik. “Bertemu langsung dengan masyarakat yang melestarikan budaya,” ujarnya.

Sabrina menilai selama ini justru banyak agen perjalanan wisata dari Cina yang mempromosikan wisata ke Eropa. Termasuk menggandeng selebgram atau youtuber untuk mempromosikan  kampung budaya Polowijen ini. “Saya bantu akses untuk mempromosikan.”

Penggagas KBP Isa Wahyudi yang akrab disapa Ki Demang menceritakan sejarah KBP. KBP berada di situs Sumur Windu Ken Dedes, dan Makam Empu Topeng Malang Ki Tjondro Suwono atau Buyut Reni. Ki Demang juga mengajak para mengunjungi situs Sumur Windu Ken Dedes.

“Kampung Polowijen siap menjadi destinasi wisata budaya. Tiap bulan akan digelar beragam kegiatan.” Khusus memperingati Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia ke 73, KBP menggelar Festival Dolanan pada 18-19 Agustus 2018.

 

Tinggalkan Balasan