Ajaran Dhomir dari KH. Maimun Zubair

Ada dawuh beliau yang selalu mendekam dalam ingatan saya. Misalnya, “‘al-dhomir fi al-dhomir. Faman lam ya’rif marjia al-dhomir, falaisa lahu dhomir.” Lalu beliau menerangkan khas kalangan pesantren, “Wong kok ngaji ora ruh rujuke dhomir, gak due ati.”

KH. Maimun Zubair atau sering juga dipanggil Mbah Moen. (Sumber: wartakotalive.com).

Terakota.id Bagaimanapun saya tetap mengaku dan berharap selalu diakui sebagai santrinya KH. Maimun Zubair atau karib dipanggil Mbah Moen. Meski posisi saya sekarang sudah tidak mondok di sana. Identitas sebagai santri seolah melekat dan tak ikut lekang meski sudah boyong.

Beberapa tahun lalu ketika saya masih di sana, kerap kali ditanya: “Sekarang mondok di mana?”

“Di pesantren Sarang Rembang,” jawab saya singkat.

Ternyata tidak berhenti di situ, mereka yang bertanya lantas akan menimpali pertanyaan lagi, “di pesantrennya Mbah Maimun yaa?”

Begitulah. Obrolan akan berlanjut dari sana. Saya yakin, kini ataupun nanti akan tetap seperti itu. Jika ada yang menanyakan saya dulu mondok di mana, saya akan selalu menjawab di Sarang Rembang. Lantas orang-orang akan tetap menimpali dengan pertanyaan yang sama: “di Mbah Maimun ya?”

Saya pikir hal itu wajar. Sarang identik dengan Mbah Moen dan Mbah Moen juga identik dengan Sarang. Keduanya seakan disebut dalam satu tarikan nafas. Tak berlebihan rasanya. Bahkan sosok pengabdi ini, bisa dikatakan mewakili figur kalangan pesantren di Jawa Tengah. Atau boleh dibilang Mbah Moen adalah wajah pesantrean di Indonesia, bahkan pesantren seluruh dunia.

Ada dawuh beliau yang selalu mendekam dalam ingatan saya. Misalnya, “al-dhomir fi al-dhomir. Faman lam ya’rif marjia al-dhomir, falaisa lahu dhomir.Lalu beliau menerangkan khas kalangan pesantren, “Wong kok ngaji ora ruh rujuke dhomir, gak due ati. Kurang lebih artinya begini, jika orang mengaji tak mengerti rujukan kembalinya dhomir, orang tersebu tak memiliki hati. Dhomir di sini bisa bermakna ganda. Bisa kata ganti. Pun, bisa juga hati.

Lantas beliau mencontohkan rujuknya dhomir secara samar, “Wahuwa utawi iyo. Wa Dalika, utawi mengkono.Intinya, beliau tidak secara terang memberikan pengertian kemana dhomir itu merujuk. Bagi saya, mengaji seperti itu membuat penasaran. Keterangan beliau merangsang santri untuk semakin mempelajarinya dan bebas mengartikan tentang dhomir, tentang hati, dan atau tentang kembalinya kata ganti orang ke dua atau orang ketiga. Tentu, masih sesuai pakem-pakem yang diajarkan oleh beliau.

Kalau dirunut, ternyata cara beliau memperlakukan dhomir dalam membaca kitab-kitab pesantren diperoleh dari guru beliau, KH. Abdul Karim, atau lebih akrab dengan nama Mbah Manab, pesantren Lirboyo Kediri. Dan berdasarkan riwayat yang berkembang, metode Mbah Manab dalam membaca kitab dengan tidak menjelaskan rujuknya dhomir berasal dari guru beliau, Yai Kholil Bangkalan.

Seperti itulah kekhasan pesantren. Tidak hanya sanadnya yang tersambung dari satu guru ke guru lainnya dan bertahan hingga kini dan esok. Melainkan juga, santrinya yang sudah menjadi ulama’ pun tidak berani mengubah apa-apa yang sudah diajarkan gurunya. Rujuknya dhomir itulah salah satu contohnya.

Saya kira tak akan habis cerita tentang beliau. Juga tentang dhomir dalam artian “hati” yang diajarkan kepada kami. Berjam-jam, berhari-hari, bulan dan tahun sepanjang hayat, Mbah Moen tetap sabar dan tlaten menemani kami mengaji, tanpa henti. Entah perasaan apa yang membuat beliau betah menemani “kekolotan” kami dalam belajar. Yang jelas, keringat dan air mata beliau telah tercurahkan untuk kami. Untuk agama, nusa dan bangsa.

Tak ada kata dan upaya yang mampu menggantikan seluruh jasa beliau. Bahkan kedalaman dhomir itu sendiri apabila tercurahkan takkan setimpal dengan tutur kata teduh dan makna yang telah terucap. Juga tentang perasaan kasih yang telah tercurah. Pun tindakan yang beliau contohkan. Bahkan, kami yang mengaku sebagai muhibin atau pengagum, masih belum betul-betul dapat merasakan dan memahami seperti apa sebenarnya kasih sayang yang sudah tercurah itu. Tak seperti halnya engkau kepada kami. Kami masih terlalu jauh darimu. Kami juga masih rindu.

Sebenarnya, kami masih membutuhkan hangat kehadiranmu. Namun, pemilikmu, Allah SWT berkehendak lain. Tuhan Yang Maha Suci memanggilmu pulang di hari suci dan di tanah suci. Dan akhirnya, saya hanya bisa berucap, “lahu wa liahlihi wa jami’i muhibbihi al-fatihah.”

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini