Ajar Pusaka Budaya : Dari Alun-Alun Kotak Menuju Alun-Alun Bunder

Terakota.id-Selamat ulang tahun Kota Malang ke 103. Sebagai Kota terbesar kedua di Jawa Timur, banyak peninggalan dan situs bersejarah yang menunjukkan perkembangan Kota Malang. Termasuk keberadaan alun-alun yang berada di pusat kota. Ada sejarah dan makna dalam bentuk dan penataan termasuk fungsinya.

“Telisik detail dan telaah mendalam tentang sejarah, makna dan fungsi alun-alun perlu dilakukan, setidak oleh warga setempat,” kata Arkeolog Universitas Negeri Malang, M. Dwi Cahyono. Untuk mengetahuinya, Terakota.id, Patembayan Citralekha, Jelajah Jejak Malang  Jawa Kuno, Komunitas Sejarah dan Fotografi Sahitya menggelar Ajar Pusaka Budaya : Dari Alun-Alun Kotak Menuju Alun-Alun Bunder (Dari Kaboepaten Menuju ke Gemeente Malang).

Ajar Pusaka Budaya diselenggarakan, Ahad 2 April 2017 pukul 08.00 WIB berkumpul di Alun-Alun Kotak Kota Malang. Untuk reservasi kehadiran bisa menghubungi Restu Respati (081230302012). Dwi Cahyono menjelaskan setiap daerah di Tlatah Jawa memilki sebuah alun-alun. Uniknya, di Kota Malang memiliki dua buah “Alun-alun Kothak” di Jalan Merdeka, dan “Alun-alun Bunder” kemudian, sejak 1953 bersalin nama menjadi Alun-alun Tugu.

Jika ditilik sejarah dan peruntukannya, Alun-alun Kothak lebih terkait dengan kesejarahan Regent (Kaboepaten) Malang. Adapun keberadaan Alun-alun Bunder, yang semula merupakan tanah lapang berbangun bulat dengan nama “J.P. Coen Plein” lebih terkait dengan sejarah pemerintahan Gemeente (Kotapraja, kini “Kota”) Malang. Yakni pemekaran dari Regent Malang pada tanggal 1 April 1914. Sehingga terkesan bahwa Alun-alun Kothak adalah alun-alunnya Kabupaten Malang dan Alun-alun Bunder merupakan Alun-alunnya Kota Malang.

Keberadaan kedua kompleks Alun-alun yang terpisah Bhangawan Brantas yang membelah kota tersebut berbeda latar sejarah kelahirannya. Berbeda bentuk (bangun) nya, beda makna, dan lain pula peruntukannya. Namun keduanya dikoneksikan satu Syamsu Samanhudilain dengan jalan dan jembatan Spleendit yang berarsitektur Indis. Seolah “Alun-alun kembar” yang saling kait dan saling isi dalam. ruang kota Malang.

Bagi warga Malang khususnya dan warga daerah-daerah lain tengah berada di Kota Malang keberadaan keduanya menarik dan penting untuk ditelisik melalui latar sejarahnya, makna budaya, arsitektur, tata letak dan ragam fungsinya dalam lintas masa.

“Untuk itulah, kami mengajak serta para peduli pecinta sejarah danbudaya untuk ber’Ajar Pusaka Budaya.’ Faedahkan lah kegiatan ini untuk ngangsu kawruh budaya dan lebih mengenal lingkungan sendiri. Semoga membuahkan makna. Salam peradaban “Malangjayati”.

 

Tinggalkan Pesan