Air Bicara, Ucap Syukur kepada Alam

Vokalis Pagi Tadi, Yulius Nugroho Putra alias Benu menjelaskan Air Bicara bukan hanya nama proyek gerakan sosial. Benu telah mendaftarkan sebagai badan hukum, bersama sejumlah elemen pegiat dan pencinta lingkungan. Air Bicara merupakan salah satu judul lagu di album ke dua Pagi Tadi. “Ini (lagu) jarang kami bawakan. Biasanya kami bawakan ketika di gunung,”ujar Benu memaparkan kepada para relawan.

Terakota.id—Suara tonggeret saling bersahutan, menyapa setiap orang yang melangkah memasuki hutan pinus di Coban Talun, Kota Batu awal Oktober 2017.  Sore itu suara serangga silih berganti menembut kerimbunan vegetasi hutan pinus. Bunga-bunga mekar saling berpadu warna dengan puluhan tenda yang berdiri di hamparan tanah luas. Tenda milik para relawan dan pegiat lingkungan ini tengah berkemah dalam serangkaian acara gerakan sosial “Air Bicara.”

Sebuah proyek sosial yang melibatkan berbagai elemen masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan. Terutama air. Keindahan panorama, kesejukan udara Coban Talun menjadi magnet tersendiri. Para relawan dari berbagai daerah di Malang Raya berduyun-duyun mendukung gerakan “Air Bicara.”

Kabut sore tiba, para relawan bersembunyi di dalam tenda untuk menghindari dingin. Sebagian berkumpul di sebuah lapang terbuka. Di antara pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi, puncak pohon tak lagi terlihat tertutup kabut tebal.

Suara petikan gitar Nicolas Mora memanggil para relawan untuk berkumpul. Duduk meriung, beralaskan tanah. Sembari mendengarkan lagu-lagu karya solois muda ini. Deras aliran sungai di sekitar Coba Talun semakin menambah syahdu, suasana senja. Hari mulai gelap, kabut semakin tebal. Derit suara tenggoret sirna, tenggelam bersalin rangkaian nada-nada musik dan riuh penonton.

Sajak berjudul Sampah karya Saut Situmorang dinyanyikan apik oleh Han Farhani. Menambah kehangatan, mampu mengusir  udara dingin di lereng Gunung Arjuna. Han menyapa penonton dan relawan Air Bicara. “Nama saya Han. Biasa disapa Han Malaka,” kata Han di tengah pergantian lagu, mengundang gelak tawa penonton.

Panggung seni sederhana di tengah alam terbuka ini juga menyuguhkan kesenian tradisional. Syamsul Subakir alias yang sering disapa Mbah Kardjo sebuah akromin dari konservasi asli rakyat di luar jaringan organisasi. Mbah Kardjo memainkan wayang suket, berkolaborasi dengan BamBamBoo, sebuah kelompok musik yang memainkan instrument berbahan dasar bambu.

Baca juga :  Memikirkan Bangsa, KH. Hasyim Asy'ari Wafat di Bulan Ramadan

Mbah Kardjo menceritakan kisah sepasang kekasih yang terpisah jarak dan waktu. Suara gemiricik air yang berasal dari instrumen karincing, penonton semakin larut dalam kisah wayang suket Mbah Kardjo. Malam itu, pertunjukkan ditutup dengan penampilan Teater Komunitas yang dimotori oleh Bedjo Supangat. Puput gitaris band Pagi Tadi mengiringi aksi teatrikal.

Mereka menyugukan cerita teatrikal berjudul di 30 menit. Ia menjelaskan makna pertunjukan teater yang beraliran non realis, Bedjo berkata, “kemanusiaan di kala itu menjadi momok di berbagai kalangan. Kemerdekaan apakah dan bagaimana? Dan dimanakah manusia bernama manusia itu hingga saat ini.”

KABUT Udara dingin menyergab, kolaborasi musik, teater, dan seni tradisi memeriahkan Air Bicara. (Terakota/Fajar Arif Fandhi).

Guyuran hujan menjadi penutup panggung seni malam itu.  Tapi alunan musik dari belantaran hutan pinus Coban Talun tak berakhir. Esok hari, saat matahari mulai beranjak menyinari Coban Talun, Band Pagi Tadi hadir menyapa para relawan dan pengunjung. Membuat sebuah konser di alam, menyapa alam dan menikmati alam karunia Tuhan.

Vokalis Pagi Tadi, Yulius Nugroho Putra alias Benu menjelaskan Air Bicara bukan hanya nama proyek gerakan sosial. Benu telah mendaftarkan sebagai badan hukum, bersama sejumlah elemen pegiat dan pencinta lingkungan. Air Bicara merupakan salah satu judul lagu di album ke dua Pagi Tadi. “Ini (lagu) jarang kami bawakan. Biasanya kami bawakan ketika di gunung,”ujar Benu memaparkan kepada para relawan.

Band Pagi Tadi, merupakan sebuah band indie bergenre folk asal Malang. Mereka memiliki perhatian besar terhadap isu lingkungan dan alam. Setiap karya bersentuhan dengan lingkungan da alam. Benu menjelaskan proses mereka berkarya selalu membawa pesan kelestarian alam.

Benu menceritakan pengerjaan album pertama berjudul Kembara keluar setelah Pagi Tadi mendaki Gunung Semeru. Lirik dan musik tercipta selama mereka mendaki di Gunung Semeru. Album bertajuk “Kembara” ini berisi tujuh lagu, diluncurkan dua tahun lalu.

Baca juga :  Berkolaborasi Melawan Hoax

Band beranggotakan Yulius Nugroho/Benu : lirik, aransemen, vocal, gitar. Paulus Putra/Puput: gitar, backing vocal. Franciscus Asisi/Cus: bass, backing vocal. Selain mereka bertiga juga ada additional player cajon, Rolando Alfredo, dan cello, Gun Saleh.

Melalui penjualan album dan merchandise mereka menggalang dana untuk konservasi danau Ranu Pani, sebuah danau di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Penggalangan dana digunakan sebagai ungkapan terima kasih Pagi Tadi kepada alam Ranu Pani. “Ranu Pani telah memberikan tempat yang dingin dan teduh untuk kami berproses,” ujar Benu.

Album pertama mereka, lirik dan aransemen dikerjakan di lereng Gunung Semeru. Band Tadi Pagi juga didaulat sebagai duta kopi Robusta Jogomulyan. Sebuah kopi unggulan di Malang yang berpihak kepada petani kopi.

Berikut lirik Air Bicara :

Air bicara kepada pagi

Tentang raganya yang ditinggalkan

Jejak kesejukkan

Yang hinggap memeluk tubuh

Dan kini tiada rinai-rinai perjumpaan

Air bicara kepada pagi

Tentang raganya yang ditinggalkan

Jejak kehampaan

Memeluk tubuh kecilnya

Dan kini tiada rinai-rinai perjumpaan

Air bicara tentang bumi yang tangisi hujan

Air terbawa tentang bumi yang telah silau

Taarera renteraa

Taarera renteraa

Taarera renteraraa terareraaa

 

“Selamat Menikmati Udara,” tutur Benu menjadi salam khas Pagi Tadi di akhir konser.

 

 

 

 

 

 

 

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini