Agustusan dengan Dolanan Anak di Kampung Budaya Polowijen

Terakota.id – Puluhan bocah menjejali sembilan gazebo yang berderet di Kampung Budaya Polowijen, Kota Malang. Mereka mengenakan pakaian beraneka ragam, mulai dari seragam sekolah sampai baju adat.

Di tiap gazebo itu ada berbagai aktivitas. Sebagian duduk menghadap meja, sembari mewarnai kertas putih berpola Topeng Malang. Di antara para bocah itu ada pula yang asyik ndongeng dan menembang. Di sisi lainnya, sekelompok anak gadis dengan ikat kepala merah putih tampak menari.

Gang sempit di dalam Kampung Budaya Polowijen itu sedang menggelar Festival Dolanan Anak. Pasar topeng, kerajinan dan tari kolosal Topeng Malang ikut ditampilkan. Termasuk seminar psikolgi anak dengan para pesertanya adalah para orang tua.

Kampung di dekat Situs Sumur Windu Ken Dedes dan Makam Empu Topeng Malang Mbah Reni itu tampak meriah. Kegiatan itu untuk memeringati Hari Ulang Tahun ke-73 Republik Indonesia. Festival Dolanan Anak dilaksanakan pada Sabtu dan Minggu, 18 – 19 Agustus 2018.

“Peringatan kemerdekaan ini khusus kami kemas dalam bentuk festival dolanan,” kata Isa Wahyudi, penggagas Kampung Budaya Polowijen, Kota Malang.

Pria yang biasa disapa Ki Demang ini menambahkan, melalui Festival Dolanan sekaligus upaya melestarikan tradisi dan budaya. Agar anak – anak tetap mengenal dolanan atau bermain di tengah derasnya permainan modern yang cenderung individual.

“Permainan tradisional berdampak positif pada tumbuh dan berkembangnya kepribadian anak,” ucap Ki Demang.

Festival Dolanan Anak
Anak – anak mewarnai pola Topeng Malang di Festival Dolanan Anak Kampung Budaya Polowijen (Foto/Isa Wahyudi)

Lomba mewarna dengan pola Topeng Malang misalnya, tak hanya mengembangkan kreatifitas anak. Sekaligus juga mengenalkan dan melestarikan budaya khas Malang itu melalui media gambar. Di kampung ini sendiri, pada hari biasa ada latihan menari topeng, seni kerajinan topeng sampai membatik.

Baca juga :  Indonesia Super Power Kebudayaaan Dunia

Anggota tim psikolog Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Malang, Dini L Nafiati mengatakan, permainan tradisional bisa menjadi media pembelajaran yang efektif perkembangan karakter anak.

“Permainan tradisional bisa membantu anak melatih mengontrol diri dan menyesuaikan lingkungan sosialnya,” ujar Dini.

Karena itu, berbagai permainan tradisional harus terus dilestarikan. Masa kanak-kanak atau masa bermain adalah masa di mana anak tumbuh dan berkembang. Dolanan anak bisa membantu seorang anak bersosialisasi dengan teman – temannya.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini