Agar Sejarah Musik Tanah Air Tetap Abadi MMI Mendigitalisasi 200 Edisi Majalah Musik

Ketua Museum Musik Indonesia (MMI) Hengki Herwanto menunjukkan katalog digitalisasi 200 edisi majalah 1967-1978. (Terakota/Eko Widianto).

Terakota.idPuluhan majalah musik berjajar di atas meja restoran Hotel Pelangi Kota Malang, Kamis 17 Desember 2020. Majalah musik lawas, terdiri atas majalah Diskorina, Favorita, Junior, Paradiso, STAR, TOP, Varianada, VISTA. Majalah terbit 1967 sampai 1978. Kedelapan majalah koleksi Museum Musik Indonesia (MMI) ini sudah tidak terbit.

Majalah Favorita Nomor 011, terbit Januari 1967 salah satu yang menarik perhatian. Majalah musik lawas dibanderol harga Rp 3 ini dihiasi foto sampul  Christina. Seorang penyanyi cilik di masa itu yang berasal dari Solo. Majalah Favorita mengulas capaian Christina penyayi cilik yang menyelesaikan 20 lagu dalam sekali rekaman. Artikel berjudul,”Surprise Sekali Rekaman 20 Lagu”. Laporan jurnalistik di majalah itu menggunakan ejaan lama.

“Tak disangka tak dinjana artis penjanji tjilik dari Solo ini telah membuat surprise dalam dunia rekaman. Sekali pergi ke Djakarta telah menjelesaikan 20 lagu,” tulis reporter Favorita, P Auwjong. Majalah tersebut merupakan salah satu koleksi Museum Musik Indonesia (MMI).

Majalah Favorita Nomor 011, terbit Januari 1967 menjadi salah satu koleksi yang menarik perhatian di Museum Musik Indonesia. (Foto : dok. MMI).

Sedangkan majalah Diskorina Nomor 6, terbitan 1968 dengan harga Rp 30 bersampul foto Nenny Triana. Seorang penyanyi perempuan asal Kota Kembang yang merilis album solo Pantjaroba pada 1968. Pada halaman 21, ditampilkan sejumlah lirik lagu yang dinyanyikan Nenny Triana. Antara lain berjudul Mudji Sukur, Djangan Tjemburu, Habis Manis Sepah Dibuang dan Teka-teki, semua diciptakan Kosaman Djaja.

Majalah koleksi MMI berasal dari sumbangan masyarakat, koleksi pribadi pengurus MMI dan berburu ke pasar buku. Sedangkan kertas telah kusam dan rawan rusak. Sedangkan koleksi majalah secara fisik berisiko jika terjadi bencana alam seperti banjir dan kebakaran. Sehingga untuk menjaga informasi di dalam majalah tak hilang dan musnah. Selama ini digitalisasi sepotong-sepotong dua sampai tiga halaman. Belum terstruktur.

MMI berinisiatif melakukan digitalisasi. Majalah yang dipindai dari 200 edisi majalah yang terdiri atas 7.000-an halaman. Majalah musik yang pernah terbit dalam kurun waktu 12 tahun ini memiliki arti penting dalam perjalanan musik tanah air. Proses digitalisasi dilakukan selama sebulan mulai 15 November 2020.

“Dikebut, selama sebulan harus selesai,” ujar Ketua MMI, Hengki Herwanto. Selama digitalisasi ini tak mengalami kendala berarti, lantaran MMI telah berpengalaman mendigitalisasi majalah Aktuil. MMI memiliki sebanyak 35 ribu koleksi, sekitar 5 ribu terdiri atas buku dan majalah. Selebihnya kaset, cakram padat dan piringan hitam.

Para pengelola Museum Musik Indonesia (MMI) rapat digitalisasi 200 edisi majalah musik. (Foto : dok. MMI).

Semua isi majalah dipindai halaman per halaman. Setelah dipindai, jenis huruf, dan ejaan diperiksa dan diperbaiki. Setelah itu, semua halaman digabung dalam satu edisi dan dilengkapi dengan daftar isi. Tahap berikutnya mengunggahnya ke laman museummusikindonesia.id.

Musisi Indonesia di Pentas Dunia

Digitalisasi majalah musik juga dilengkapi dengan katalog yang dicetak terbatas. Katalog berisi gambar sampul majalah dan daftar isi setiap edisi. Dilengkapi pula story telling yang bersumber dari kedelapan majalah. Serta petikan sejarah musik di Indonesia antara 1967-1978.

Digitalisasi memungkinkan informasi tetap terjaga dan memudahkan masyarakat untuk mengakses infornasi tersebut. “Siapapun bisa melihat dan mengunduh gratis,” ujar Ketua MMI, Hengki Herwanto.

Pendokumentasian majalah musik ini merupakan bagian ikhtiar awal MMI untuk mengumpulkan tulisan sejarah musik yang bertebaran di berbagai media massa. Transformasi koleksi MMI dari wujud fisik ke digital ini juga bermanfaat untuk pengetahuan dan sejarah.

Selain itu, bisa menjadi bahan baku pangkalan data dalam Sistem Pendataan Kebudayaan Terpadu. Masyarakat dari seantero negeri, bisa mengakses informasi secara luas dan gratis. Termasuk para akademikus, mahasiswa dan peneliti. “Banyak peneliti dari Amerika, Jepang, dan Belanda meneliti musik dangdut, musik religi islami dan rock dari koleksi MMI,” ujarnya.

Digitalisasi didanai Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui program Fasilitasi Bidang Kebudayaan (FBK). Total anggaran sebesar Rp 120 juta. MMI salah satu penerima hibah dari 129 individu, lembaga atau komunitas. Tiga diantaranya berasal dari Kota Malang. MMI berhasil menyisihkan dari 2000 pelamar.

Sebelumnya, MMI mendigitalisasi majalah Aktuil sebanyak 200 edisi. Majalah terbitan Bandung edisi 1967-1978. Pekerjaan digitalisasi didukung dana dari UNESCO melalui program Memory of The World Committee Asia Pacific (MOWCAP).

Sebagian majalah koleksi Museum Musik Indonesia, dari sekitar 5 ribu koleksi buku dan majalah. (Terakota/Eko Widianto).

Program ini merupakan bagian dari Pemajuan Kebudayaan Indonesia sejak 2019. Saat ini merupakan kali kedua. Para pelaku seni dan budaya di Kota Malang diharapkan bisa memanfaatkan program FBK tahun depan. Dana hibah maksimal sebesar Rp 1 miliar.

“Kesempatan terbuka untuk perorangan, komunitas dan lembaga berbadan hukum,” ujar Hengki. Selama ini MMI membiayai aktivitas museum secara swadaya, donasi dan tiket masuk MMI. Sedangkan biaya untuk digitalisasi terbatas. Sehingga program Kemendikbud ini memberi angin segar untuk mendokumentasikan sejarah musik tanah air secara digital.

Katalog juga berisi sejarah musisi tanah air yang tampil di even internasional. Pada 1967, katanya, banyak musisi yang tampil di Australia, Amerika, dan Turki. Salah satunya grup band perempuan, Dara Puspita yang telah melalangbuana ke seantero negeri.

Sedangkan pada 1969 lahir Koes Plus, band yang lagu-lagunya abadi sepanjang masa.  Pada 1970 rekaman musik dalam kaset meledak. Jutaan kopi kaset didistribusikan ke pasar. Kaset meledak karena harga murah dibandingkan piringan hitam yang mahal dan terbatas.

Pada 16-17 Agustus 1973 dihelat sebuah konser musik terbesar di Indonesia bernama Summer 28 akronim Suasana Menjelang Kemerdekaan RI ke-28. Festival menampilkan 20 band, bermain selama 24 jam. Sebut saja Koes Plus, God Bless, Idris Sardi & The Pro’s, Young Gipsy, hingga Broery Marantika.

Sedangkan pada 1975 deep purple menggelar konser di Senayan, Jakarta. Band rock ini menyanyikan padamu negeri. Sementara pada 1976 melahirkan eksperimental musik modern dan tradisi. Pada 1977 Radio Prambors menggelar Lomba Cipta Lagu Remaja yang menjadi bagian dari revolusi pop progresif.

Ketua Museum Musik Indonesia Hengki Herwanto berharap digitalisasi berguna bagi pengetahuan dan sejarah musik tanah air. (Terakota/Eko Widianto).

Hengki berharap kreatifitas ini bisa memacu tumbuhnya ekonomi kreatif dan industri kreatif. Pemerintah, katanya, bisa mengeksplorasi dan memasarkan ke pentas dunia. Mencontoh Korea yang produk kebudayaannya maju dan berkembang hingga digandrungi seluruh dunia.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang, Dian Kuntari menyatakan mendukung pemajuan kebudayaan. Untuk itu, Dinas Pendidikan Kota Malang akan melatih seniman dan komunitas seni untuk mengajukan program serupa tahun depan.

Dinas Pendidikan memfasilitasi dan menunjuk ketiga penerima dana hibah, salah satunya MMI untuk melatih para seniman agar bisa mendapat program dana hibat. “Kami merekomendasikan sesuai minat masing-masing,” ujarnya.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini