Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) yang tengah memetakan kompetensi literasi digital di lima provinsi di Indonesia Timur. Serta menentukan kebutuhan pelajar SMA di 10 SMA melalui Kelompok Diskusi Terarah (FGD). Program ini bekerja sama dengan Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya. (Foto: Tangkapan layar).
Iklan terakota

Terakota.idPelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) di Maluku dan Nusa Tenggara Timur (NTT) tertarik dengan  aplikasi pendidikan yang interaktif. Selain itu, juga mereka mampu mendeteksi kabar bohong atau hoaks.

Fakta ini ditemukan Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) yang tengah memetakan kompetensi literasi digital di lima provinsi di Indonesia Timur. Serta menentukan kebutuhan pelajar SMA di 10 SMA melalui Kelompok Diskusi Terarah (FGD).  Program ini bekerja sama dengan Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya.

“Siswa di Maluku tertarik dengan aplikasi pendidikan dan mendeteksi hoaks,” kata dosen Ilmu Komunikasi Universitas Pandjadjaran, Eni Maryani saat menjadi fasilitator FGD. FGD dilangsungkan secara terpisah di setiap provinsi.

Koordinator program, Ras Amanda menjelaskan program ini diselenggarakan untuk membumikan kompetensi literasi digital untuk pemuda di Indonesia Timur. “Sesuai dengan misi Japelidi,” katanya.

Sementara Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Fransiska Desiana Setyaningsih  mengaku senang siswa di NTT berani mengemukakan pendapat dan pengalamannya. Para siswa, katanya, juga tertarik mendalami teknik mendesain konten kampanye etika, budaya dan aman bermedia digital. “Akan kita analisis lebih dalam,” katanya.

Dosen Universitas Al-Azhar Indonesia Soraya Fadhal mengaku sedih saat ada siswa yang mengaku sering menerima pesan dan video call sex dari orang yang tidak dikenal. Pesannya, katanya, mengarah ke arah negatif. “Untung mereka tidak menanggapi,” katanya.

Fasilitator FGD di Sulawesi Selatan Ritagani dan Chitra Rosalin menjelaskan siswa SMA di sana cukup aktif, Serta mendapatkan beberapa informasi yang penting. Rerata mereka menggunakan gawai sehari selama 10 jam. “Ada yang sudah bisa mengatur waktu di ruang digital,” kata Ritagani yang juga dosen di Universitas Islam Bandung.

FGD ini merupakan bagian dari program bertajuk Empowering Eastern Indonesia Youth in Digital World. Program diluncurkan awal Oktober secara daring. Program dilangsungkan hingga Mei 2022.

Serangkaian program telah dipersiapkan untuk para siswa di 10 Kabupaten. Setelah FGD, katanya, tim akan menyusun modul dan dilanjutkan dengan pelatihan bagi siswa SMA setempat.

Hasil FGD dari berbagai propinsi ini akan dijadikan rujukan bagi tim menyusun modul dalam pelatihan nanti. Modul akan disusun secara efektif sesuai dengan kebutuhan siswa di Indonesia Timur. “Modul disusun berbasis kebutuhan siswa,“ kata salah seorang penulis modul dari Universitas Muhammadiyah Malang, Frida Kusumastuti.

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini