Tiga Film Nasional dan Memori Kolektif atas Makna Perjuangan

Terakota.id–Tujuh belasan ini masih seperti tahun lalu. Kita akan minim kegiatan dan di sekolah serta perguruan tinggi tidak akan ada lagi upacara seperti di tahun-tahun sebelumnya. Memang kondisi masih menuntut demikian. Namun, ada banyak cara untuk tidak melewatkan hari kemerdekaan begitu saja. Salah satu cara yang aman untuk memberi makna dalam tujuh belasan hari ini adalah menyegarkan kembali memori tentang makna perjuangan dan sebesar apa makna kemerdekaan bagi bangsa Indonesia di masa awal kemerdekaan. Film nasional dari masa-masa awal kemerdekaan adalah satu hal yang bisa dicoba.

Meski di atas saya menyebutkan “menyegarkan memori,” tentu saya tidak membicarakan tentang memori personal. Mungkin dalam pergaulan kita, sangat sedikit orang yang benar-benar terlibat dan menyaksikan era awal kemerdekaan Indonesia. Di tahun 2018, ada kabar bahwa di kota Surakarta, misalnya, pejuang angkatan 45 yang masih hidup tinggal 10 orang.

Namun, semangat perjuangan dan kemerdekaan sudah menjadi memori kolektif yang kita dapatkan dari berbagai sumber, baik itu narasi lisan di keluarga, pelajaran di sekolah, atau buku dan film yang kita nikmati secara sambil lalu. Memori kolektif sebagai sebuah bangsa yang merebut kemerdekaannya dan perasaan satu dengan ratusan juta orang lainnya itulah yang membuat kita mungkin menangis ketika Greysia Polii dan Apriyani Rahayu menghadap sang merah putih diiringi lagu Indonesia raya di Tokyo sana dua minggu yang lalu.

Memori kolektif itulah yang bisa kita segarkan lagi dengan mereka-reka sebesar apa makna perjuangan bagi mereka yang mengalami masa-masa awal kemerdekaan itu. Di sinilah film nasional, yang juga membantu kita mendokumentasikan spirit zaman, bisa memainkan perannya pada masa tujuh belasan di tengah pandemi ini. Kita cukup beruntung karena banyak dari film-film tersebut yang saat ini tersedia di YouTube.

Tiga film yang bisa kita coba adalah karya-karya Usmar Ismail di dekade awal PERFINI (Perusahaan Film Nasional Indonesia). Ketiga film ini dibuat pada dekade 1950-an, tepat setelah perang Indonesia mendapat pengakuannya dari dunia internasional dan negara-negara lain bisa mengutak-atik kemerdekaan Indonesia. Namun, meski dalam dekade yang sama, kita sudah bisa melihat seperti apa perjuangan itu dimaknai secara berbeda-beda.

Darah dan Doa (1950).

Film ini berkisah tentang perjalanan Kapten Darto, salah satu anggota Divisi Siliwangi yang ikut dalam Long March dari Yogyakarta ke Jawa Barat setelah Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda dalam Agresi Militer II. Sebelum mulai dan sepanjang perjalanan, Kapten Darto sempat dekat dengan dua perempuan dan menjadi buah bibir bawahannya. Seiring bergulirnya kisah, di antara tumpahnya darah dan teriringnya doa, Kapten Darto menghadapi persoalan yang pelik. Perjuangan di sini berjalin-kelindan dengan konflik batin dan persoalan interpersonal.

Film ini memotret berbagai konflik pribadi yang bisa terjadi di tengah-tengah kondisi yang serba tidak menentu. Di satu sisi Belanda ingin kembali memegang kendali atas negara bekas jajahannya, sementara di sisi lain bangsa Indonesia yang diwakili oleh angkatan bersenjata dan keluarganya mencoba terus mengobarkan perlawanan, bertahan hingga akhirnya dunia internasional mengakui kemerdekaan Indonesia.

Dalam sejarah perfilman Indonesia, Darah dan Doa menempati posisi sangat penting. Hari pertama syuting film ini, 30 Maret 1950 diperingati sebagai Hari Film Nasional dan Usmar Ismail menjadi Bapak Film Nasional.

Lewat Djam Malam (1954)

Kalau Darah dan Doa berlatar masa revolusi, Lewat Djam Malam berkisah tentang masa awal kemerdekaan Indonesia. Di masa ini, Iskandar, seorang prajurit TNI yang ikut telah ikut bergerilya ke gunung-gunung kini kembali ke Bandung. Namun, setelah menghabiskan waktu di gunung, ikut berjuang, dan menjalani kehidupan yang berat, dia harus beradaptasi ketika kembali hidup di kota. Sayangnya adaptasi itu ternyata tidak bisa terjadi dengan mulus. Banyak hal yang bertentangan dengan nuraninya dan sulit dia terima. Cerita pun berakhir tragis layaknya sebuah tragedi Yunani di mana karakter berbuah khilaf karena keadaan dan kemudian menyebabkan kejatuhannya sendiri.

Film kedua ini berkisah tentang masa yang pastinya lebih damai, tetapi pengamanan masih ketat dan jam malam diberlakukan. Pembangunan juga tampak mulai berjalan di sini, sebagaimana terlihat dari karakter Gafar yang ikut dalam proyek-proyek pembangunan. Begitu juga dengan di bidang dagang, mantan atasan Iskandar sudah menjadi seorang bos. Namun, tampaklah bahwa penghargaan terhadap pejuang tidak sebagaimana mestinya. Ada saja pihak yang menyinyiri seorang mantan pejuang. Hal tersebut tampaknya membuat proses adaptasi Iskandar menjadi semakin sulit.

Lewat Djam Malam beberapa tahun lalu ditampilkan lagi di layar bioskop dalam versi restorasi yang sangat bagus. Namun, selain versi tersebut, di YouTube juga ada versi yang setidaknya bisa menunjukkan spirit film ini:

Asrama Dara (1958)

Kalau kedua film di atas cenderung tragis, Asrama Dara adalah film yang benar-benar berbeda tetapi tetap bisa membantu merenungkan semangat zaman pasca kemerdekaan. Film ini berkisah tentang para dara yang tinggal di sebuah asrama. Sebagian masih sekolah, sebagian sudah kuliah, dan sebagian lagi sudah bekerja. Beberapa dari gadis ini terlibat masalah masing-masingnya cukup berat. Ada berbagai nilai yang dipegang oleh para dara ini. Banyak kesedihan, tapi tak sedikit pula momen-momen jenaka. Di akhir kisah, kita tetap menemukan penutup kisah yang menyelesaikan semua konflik yang terjadi seperti layaknya sebuah romantic comedy ala Hollywood.

Di film yang dirilis pada 1958, kita melihat Jakarta sudah semakin stabil dan sepertinya pembangunan sudah berjalan. Bisa dibilang Jakarta mulai bersolek. Orang-orang bisa berkarir menjadi pejabat, politisi, dan bahkan mereka yang menjadi pramugari (yang di masa itu disebut “stewardess”) dan pilot (“kapten penerbang”) di maskapai kebanggaan bersama PT Garuda Indonesia Airways. Film ini memang tidak bisa dilihat sebagai potret sesungguhnya dari Indonesia di masa itu. Tetapi, kita bisa melihat dari yang kecil-kecil, bahwa kehidupan sudah berjalan secara wajar dengan semakin banyaknya masalah berkutat ke persoalan-persoalan yang semakin personal.

Di film ini, kita bisa melihat debut Suzanna yang ketika itu masih berusia 16 tahun. Aktingnya yang ceria akan membalikkan citra “ratu film horor” yang sudah kita sematkan kepada Suzanna di era 80-an dan 90-an.

Film Nasional adalah Fiksi

Tentu tidak bisa dipungkiri bahwa ketiga film ini adalah cerita fiksi. Dari ketiga cerita ini, kita tidak bisa berpretensi bahwa kita akan mengetahui yang sebenarnya dari masa itu. Tidak. Namun, setidaknya dari film ini, kita bisa mengintip seperti apa isi alam imajinasi Indonesia (yang diwakili oleh Usmar Ismail dan para penulis yang mendukungnya) di sepuluh tahun pertama pasca perjuangan kemerdekaan, ketika Republik Indonesia mendapatkan pengakuan internasional sebagai bangsa berdaulat.

Di dalam film ini, pastinya kita tidak bisa begitu saja menerima bahwa apa-apa yang ditampilkan di sana sebagai sesuatu yang kita jadikan rujukan tentang seperti apa wujud perjuangan. Yang kita lihat adalah bagaimana orang-orang ini menjalani kehidupan sehari-harinya dan sejauh apa perjuangan untuk mendapatkan kemerdekaan berdampak dalam kehidupan keseharian mereka. Dari Darah dan Doa, kita bisa melihat seperti apa perasaan yang mengisi benak seorang pejuang yang tengah mengalami ketidakpastian itu.

Dalam Lewat Djam Malam, yang berlatar era pasca pengakuan kedaulatan ketika Republik mulai membangun, kita bisa melihat bagaimana trauma dari era perang kemerdekaan begitu menentukan keseharian Iskandar yang baru saja meninggalkan hutan. Terakhir, di film Asrama Dara, kita sudah mulai bisa melihat bagaimana Jakarta dan Indonesia bersolek untuk menjadi negara dan kota yang cantik, ketika kemerdekaan mulai ditelusuri dan dimanfaatkan hingga sepenuhnya.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini