12 Tahun Lumpur Lapindo, Tanah, Air dan Udara Kami Beracun

Terakota.id–Sejumlah perempuan warga di sekitar lumpur Lapindo berdiri di tanggul penahan lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo. Mereka membentangkan hasil foto rontgen, sejumlah korban lumpur Lapindo mengalami gangguan ksehatan. Aksi ini dilakukan memperingati 12 tahun, lumpur Lapindo menerjang Porong, Sidoarjo.

“Banyak yang mengalami gejala penyakit kanker, jantung dan ISPA. Sementara tidak ada jaminan kesehatan bagi korban Lapindo,” kata koordinator aksi, Herwati. Sehingga korban Lapindo harus mengeluarkan dana ekstra untuk biaya kesehatan. Kesehatan korban Lapindo terganggu karena penurunan atau terjadi degradasi kualitas lingkungan hidup di wilayah semburan lumpur Lapindo.

Direktur Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Jawa Timur, Rere Christanto melalui siaran pers yang diterima Terakota.id menyebutkan sejak 2008 WALHI Jatim meneliti kualitas tanah dan air sejak 2008. Hasilnya area sekitar lumpur panas mengandung Polycyclic Aromatic Hydrocarbon (PAH) mencapai 2 ribu kali di atas ambang batas normal. Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) menyatakan bahwa PAH merupakan senyawa organik yang berbahaya dan bersifat karsinogenik atau memicu kanker.

Pusat semburan lumpur Lapindo dilihat dari udara. (Foto : hellosurabaya).

Sedang tim kelayakan permukiman yang dibentuk Gubernur Jatim menyebutkan level pencemaran udara akibat Hydrocarbon mencapai 8 ribu sampai  220 ribu kali lipat di atas ambang batas. Penelitian pada 2016, menemukan sejumlah biota sungai memiliki level tinggi logam berat. Sungai Porong selama ini menjadi lokasi pembuangan air dari semburan lumpur Lapindo.

WALHI Jatim dalam penelitiannya juga menemukan udang memiliki kandungan Timbal (Pb) 40 sampai 60 kali di atas ambang batas yang diijinkan, kandungan Kadmium (Cd) 2 sampai 3 kali di atas ambang batas. “Jika tubuh biota ditemukan unsur logam berat yang tinggi, logam berat tinggi juga terakumulasi dalam tubuh manusia” ujar Rere.

Sumur warga di sekitar lumpur Lapindo juga terkontaminasi logam berat. WALHI Jatim menemukan sumur tercemar di Desa Gempolsari Kecamatan Tanggulangin dan Glagaharum Kecamatan Porong. Kandungan timbal 2 sampai 3 kali di atas ambang batas, dan kandungan kadmium  hingga 2 kali di atas ambang batas.”Air sumur tak layak konsumsi untuk air minum,” katanya.

Pencemaran berat di sekitar sumburan lumpur Lapindo mempengaruhi kualitas kesehatan warga sekitar. Tubuh masyarakat setempat terpapar secara langsung melalui air, sedimen lumpur maupun udara. Timbal di dalam darah bisa menyebabkan gangguan kronis dan akut pada ginjal serta memicu penyakit jantung seperti hipertensi atau iskemia. Sementara Kadmium menyebabkan gangguan ginjal dan kekakuan paru-paru.

12-tahun-lumpur-lapindo-tanah-air-dan-udara-kami-beracun
Sumur dan Biota di Sungai Porong tercemar logam berat akibat semburan lumpur Lapindo. (Foto : dokumen WALHI Jatim).

Berdasarkan pemeriksaan terhadap 20 korban Lapindo secara acak, ditemukan 10 korban Lapindo atau 50 persen mengalami kelainan pada pemeriksaan darah dan urine sedangkan empat orang atau 20 persen mengalami kelainan pada pemeriksaan toraks. Data ini menguatkan penelitian Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Menular (BTKL PPM) pada 2010 yang menemukan 81 persen sampel warga di Desa Besuki, Glagah Arum, Gempol Sari, Kali Tengah mengalami gangguan restriksi paru-paru.

“Negara harus hadir dan betanggungjawab atas racun ini. Ini sama saja membunuh kami perlahan-lahan,” kata Harwati.

Pemerintah, katanya, memiliki kuasa memaksa Lapindo mengembalikan hak rakyat yang telah terenggut Mneurunnya kualitas kesehatan warga akibat eksplorasi sumur Banjar Panji-1 yang tak memenuhi prasyarat kelayakan keselamatan. Pemerintah harus memastikan setiap korban lumpur mendapat layanan kesehatan yang memadai.

Mengais Rezeki di Sekitar Lumpur Lapindo

Kulit Muslimah, 39 tahun, hitam terbakar sinar matahari. Teriknya mentari tak menyurutkan warga Desa Dukampel Kecamatan Porong Kabupaten Sidoarjo ini mengendarai sepeda motor Yamaha Vega menyusuri tanggul penahan lumpur Lapindo. Sejak tiga tahun lalu, perempuan empat anak ini bekerja sebagai tukang ojek, mengantarkan pengunjung yang berwisata di lumpur Lapindo.

Ia tak sendirian, sekitar 125 tukang ojek empat di antaranya perempuan turut mengais rezeki dari mengantarkan pengunjung keliling tanggul lumpur Lapindo. Untuk mendekati pusat semburan, Muslimah memasang tarif Rp 10 ribu dan Rp 50 ribu untuk keliling kawasan perkampungan yang tenggelam tergenang lumpur. “Kadang mereka juga berhenti beberapa saat untuk mengambil foto,” katanya.

Pekerjaan ini dilakoninya mulai pukul 5.00 WIB hingga 16.00 WIB. Untuk sekedar melepaskan lelah, Muslimah bersama tukang ojeng lainnya duduk di podok beratap kain bekas di pinggir tanggul. Di pondok sederhana ini pula, Muslimah beserta tukang ojek lainnya menawarkan jasanya kepada pengunjung yang datang ke lumpur Lapindo.

Muslimah dan tukang ojek lain merupakan korban lumpur Lapindo. Sebelum tergenang lumpur, Muslimah bersama keluarganya tinggal di rumahnya di Desa Siring Kecamatan Tanggulangin. Selain bekerja di sawah, Muslimah juga membuka warung kopi sambil berjualan kue. Setelah rumahnya tenggelam, Muslimah memilih mengojek untuk menafkahi keempat anaknya.

12-tahun-lumpur-lapindo-tanah-air-dan-udara-kami-beracun
Tukang ojek mengantarkan penumpang keliling tanggul lumpur Lapindo. (Foto : Langit perempuan).

Dengan pekerjaannya ini, setiap hari rata-rata ia mengantongi uang sekitar Rp 20 ribu-Rp 100 ribu. Pendapatannya semakin besar saat akhir pekan atau musim liburan sekolah. Namun, Muslimah harus pulang tanpa membawa uang sepeserpun jika tak ada pengunjung. Muslimah mengaku bersyukur dan menikmati pekerjaan barunya ini.

Suaminya Sadeli juga merestui pekerjaan yang dilakoninya ini. Apalagi, Sadeli juga bekerja sebagai tukang ojek seperti dirinya. Keempat anak Muslimah, juga mendukung pekerjaan sebagai tukang ojek perempuan. “Yang penting halal dan tak membebani orang lain,” kata Sadeli.

Deru mesin kendaraan bermotor bergemuru, antrian kendaraan mengular sepanjang dua kilometer di jalan raya Porong penghubung Surabaya-Malang. Pusat semburan terus mengeluarkan lumpur panas dengan bau yang menyengat. Diantara suara bising kendaraan dan panasnya lumpur Lapindo, Muslimah memacu kendaraannya mengantarkan pengunjung keliling kolam penampungan lumpur Lapindo.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Pesan