Menafsir Singhasari Lewat Tari Topeng (3-Habis)

Pengaruh Politik dan Budaya Singhasari

Dwi Cahyono menambahkan selama ini Singhasari tak banyak dieksplorasi. Berbeda dengan Mataram, Majapahit dan Sriwijaya yang dieksplor secara mendalam dari berbagai aspek. Kini, seluruh pihak berusaha mengungkap Singhasari dalam berbagai aspek, mulai budaya, kesenian, politik pemerintahan dan psikologi. “Sebenarnya terlambat jika dibandingkan dengan Sriwijaya, Majapahit dan Mataram yang lebih banyak dieksplor lebih dulu,” katanya.

Meski Singhasari hanya berusia 70 tahun, namun memiliki pengaruh besar terhadap politik dan budaya di nusantara dan sebagian asia. Saat itu, katanya, Singhasari menjadi pioner revolusi kebudayaan dengan memunculkan langgam atau gaya Jawatimuran. Pada abad ke 13, Singhasari mampu mempengaruhi ragam budaya dan seni dengan langgam Jawatimuran.

“Seni budaya Singhasari menyebar ke Vietnam, Thailand, Cina bahkan India,” ujarnya. Singhasari menjalin hubungan kerjasama dengan berbagai kerajaan seperti Singaraja, Kutai Kertanegara dan Champa. Kedua kerajaan menjadi mitra bersejajar atau penghormatan atas kedaulatan kerajaan lain, bukan Negara jajahan.

Singhasari Literasi Festival diakhiri dengan kunjungan Candi Jajaghu di Tumpang dan penampilan seni tradisi yang merespon relief candi. Candi Jajaghu, kata Dwi Cahyono, merupakan salah satu pendarmaan Wisnu Wardhana selain Candi Mleri di Blitar. Candi sempat dipugar zaman pemerintahan Hayam Wuruk untuk menghormati leluhurnya. “Itu berdasar dua sumber yakni kesusastraan Negara Kertagama dan Pararaton,” katanya.

Ditampilkan sendra tari Dwi Naga Saluang Nagari atau dua naga dalam satu lubang sebagai simbol Singhasari yang pernah dipimpin dua raja yakni Mahesa Cempaka atau Batara Narasinghamurti dan Raja Wisnu Wardhana. Juga pagelaran wayang kulit atau wayang tantri yang menceritakan cerita binatang yang terdapat tiga panil dalam relief Candi Jajaghu. Juga diwarnai pagelaran wayang orang tentang cerita Arjuna Wiwaha yang juga ada di dalam relief.

Baca juga :  Merekonstruksi Instrumen Berdawai di Relief Jajaghu

Diakhiri dengan tembang singhasari ratri yang menceritakan kesedihan setelah Wisnu Wardhana mangkat. Menurutnya Singhasari selama ini kurang dieksplorasi dalam kasanah budaya singhasari. Pagelaran seni tradisi dengan cerita dalam relief Candi Jajaghu itu merupakan hasil eksperimen Dwi Cahyono bekerjasama dengan seniman setempat dari padepokan Kedungmonggo dan Mangun Dharma. “Cerita binatang, fabel atau tantri ada dalam teras depan candi,” kata Dwi.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten MalangMade Arya Wedanthara berharap Singhasari Literasi Festival menjadi pendidikan budaya sejak dini kepada pelajar dan warga Malang. Seluruh data dan penelitian didokumentasikan untuk dibukukan. Hasilnya, buku juga akan digunakan untuk pendidikan muatan lokal berupa pendidikan sejarah dan budaya. Dia berharap buku yang mengupas Singhasari bisa diterbitkan lima tahun mendatang.

“Bulan depan juga dibahas di Singaraja, data dan dokumen akan semakin lengkap,” katanya. Selain itu juga untuk menarik wisatawan untuk mengenal Singhasari. Lantaran selama ini tingkat kunjungan wisataw heritage masih tergolong rendah. (Habis) (EW)

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here