Rumah Islam, Pandangan dari Dalam

Pada 2050, populasi Muslim diproyeksikan tumbuh dua kali lebih cepat dari penduduk dunia secara keseluruhan. Setelah 2050, umat Islam mungkin akan melampaui orang Kristen sebagai pengelompokan manusia terbesar di dunia berdasarkan pada identitas agama. Ketika penduduk global diproyeksikan tumbuh 35 persen pada tahun 2050, penduduk Muslim diperkirakan meningkat 73 persen menjadi hampir 3 miliar.

Oleh: M Alfan Alfian*

Ketika Muslim yang fanatik membakar buku-buku Averroes, seorang muridnya mulai menangis. Averroes berkata kepada muridnya, “Putraku, jika kamu meratapi kondisi kaum Muslim, maka air mata yang setara dengan lautan tidak akan cukup. Jika kau menangisi buku-buku itu, maka ketahuilah bahwa ide-ide memiliki sayap dan transenden untuk mencapai pikiran orang-orang yang berpikir.”

(Averroes/Ibn Rushd, 1126–98)

Terakota.id– Di antara buku-buku yang mengulas perkembangan Islam kontemporer yang bertengger di toko-toko buku, ialah yang ditulis Ed Husein, The House of Islam, A Global History (2018). Kalimat di atas, muncul di halaman pertama buku ini. Pesannya jelas, bahwa meratapi kondisi kaum Muslim, barangkali sekadar percuma. Tapi, ide-ide memiliki sayap, hinggap ke orang-orang yang berpikir, meskipun buku-buku dibakar.

Mohamed Mahbub Husain, begitulah lengkapnya, seorang Muslim Inggris keturunan India. The House of Islam terasa ditulisnya secara total, melengkapi buku-bukunya terdahulu, seperti The Islamist (2007). Buku The Islamist, finalis penghargaan George Orwell untuk penulisan politik, menyentak karena penulisanya berkisah keterlibatan dan, lantas keinsafannya sebagai Islamis radikal.

Dia masih muda, kelahiran 1974. Tapi, karirnya sebagai pakar strategis tampak begitu moncernya. Dia pernah sebagai penasihat senior Tony Blair hingga analis kajian Timur Tengah pada The Council on Foreign Relations di New York. Dia juga ikut mendirikan organisasi kontra-ekstremisme Quilliam, dan sederet lainnya.

Dalam The House of Islam, dia menuturkan semua itu, dan merasa terpanggil untuk menulis tentang Islam, memahamkannya kepada khalayak, terutama Barat, bahwa apa yang mereka persepsikan selama ini tentang Islam, sering keliru.

Yang menarik, manakala dibandingkan dengan buku-buku sejenis, seperti yang pernah ditulis Graham E Fuller, A World Without Islam (2010), bahkan jauh sebelumnya Edward Said, Orientalism (1978), atau yang cukup baru, Christopher de Bellaigue, The Islamic Enlightenment: The Struggle Between Faith and Reason: 1798 to Modern Times (2018), The House of Islam memiliki perbedaan dari segi posisi penulis. 

Ed Husain justru seorang Muslim, sehingga sebagaimana klaimnya, memiliki peluang yang lebih besar dalam mengulas Islam sebagai orang dalam, sekaligus ketika dia sendiri juga bagian dari Barat.

Baca juga :  Wayang Topeng Menginspirasi Mahasiswa di Era Digital

“Buku ini adalah cerminan dari jembatan batin antara Islam dan Barat,” catatnya di bab pendahuluan The House of Islam.

Posisi sedemikian juga mengingatkan kita pada penulis lain seperti Tariq Ramadan, Muslim Swiss keturunan Timur Tengah, atau dalam konteks tertentu intelektual muda Turki, Mustafa Akyol. Selain nama-nama itu, kita juga sering menjumpai Muslim Barat yang angkat pena sebagai penulis. Tak harus berlatarbelakang akademisi yang ketat, editor buku-buku sejarah seperti Tamim Anshary pun punya kontribusi. Warga Amerika keturunan Afghanistan ini menulis Destiny Disrupted: A History of the World Through Islamic Eyes (2009).

Anshary terpanggil untuk membuat buku sejarah dunia, dari sudut pandang dunia Islam. Dia melihat perkembangan Dunia Islam, tentu dengan nuansa orang dalam. Berbeda dengan, misalnya Chase F Robinson, Islamic Civilization in Thirty Lives: The First 1,000 Years (2016).Robinson ialah pakar sejarah Islam, yang tentu bukan orang dalam. Dia editor volume pertama The New Cambridge History of Islam.

Buku The House of Islam. (Sumber: singhwithbooks.wordpress.com)

Potensi Lonjakan Muslim

Kembali ke Ed Husain dalam The House of Islam-nya. Di bab pendahuluan, dia sampaikan ringkasan penelitian Pusat Penelitian Pew. Saat ini, secara global, populasi Muslim dunia berkisar 1,7 miliar – artinya satu dari setiap lima orang adalah Muslim – dan ada lima puluh sembilan negara mayoritas penduduknya Muslim.

Pada 2050, populasi Muslim diproyeksikan tumbuh dua kali lebih cepat dari penduduk dunia secara keseluruhan. Setelah 2050, umat Islam mungkin akan melampaui orang Kristen sebagai pengelompokan manusia terbesar di dunia berdasarkan pada identitas agama. Ketika penduduk global diproyeksikan tumbuh 35 persen pada tahun 2050, penduduk Muslim diperkirakan meningkat 73 persen menjadi hampir 3 miliar.

Warga Muslim lebih banyak punya anak ketimbang yang lain. Wanita Muslim melahirkan rata-rata 2,9 anak, sementara wanita non-Muslim 2,2 anak. Konvergensi lima fakta menjelaskan lonjakan angka kelahiran Muslim di seluruh dunia. Pertama, Pew memperkirakan Muslim dalam jumlah besar mendekati tahap kehidupan mereka untuk memiliki anak. Usia rata-rata Muslim pada 2015 adalah 24, sedangkan median untuk non-Muslim, 32.

Baca juga :  Kisah Gitaris Guns’ N’ Roses Belajar Gambus kepada Arek Malang

Kedua, lebih dari sepertiga Muslim tinggal di Timur Tengah dan Afrika, wilayah yang berpotensi pertumbuhan penduduknya terbesar. Ketiga, sebagian besar negara Muslim masih mempertahankan pemahaman yang sangat tradisional tentang peran perempuan sebagai istri dan ibu. Karena itu penekanan pada keibuan lebih kuat.

Keempat, keyakinan Muslim yang kuat pada ketergantungan pada Tuhan untuk makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Akhirnya, catat Pew, nilai budaya yang ditempatkan pada kelahiran anak laki-laki, sayangnya, masih lebih besar daripada anak perempuan. Karenanya, banyak keluarga akan terus memiliki anak sampai anak laki-laki lahir untuk membawa nama keluarga ke generasi berikutnya. Tidak seperti Katolik misalnya, Islam tidak melarang KB.

Dengan adanya pergerakan massa secara global, dan karena para pengungsi dan pekerja yang datang ke Eropa sebagian besar dari negara-negara mayoritas Muslim, apa yang terjadi di dunia Islam tentu akan meninggalkan dampaknya di Barat. Bentuk ekstrim Islam yang dipolitisasi akan mengacaukan perdamaian dalam masyarakat melalui peningkatan kecenderungan separatisme sosial, konfrontasi, upaya mendominasi, dan kekerasan politik yang ditimbulkan melalui terorisme.

Mengabaikan Pandangan dari Dalam

Catat Ed Husain, kini jiwa Islam tengah berada dalam “pertempuran global”. Melalui bukunya, Husain hendak memberi pandangan bagaimana Islam didekati, bukan dalam karangka menyalahpahaminya terus-menerus. Tetapi, lebih secara objektif dengan melibatkan pandangan dari dalam.

Dia merasa telah banyak berkunjung ke negeri-negeri Muslim, melakukan percakapan, refleksi atas ragam pengalamannya dalam dekade terakhir, untuk lebih memahami Rumah Islam “dari dalam”. Mengapa itu penting?

Ed mencoba menjawab dengan menguraikan sebuah kisah di Nigeria. Suatu hari, seorang miliarder Amerika tiba di sebuah desa besar di Afrika Barat. Alih-alih mengumumkan sumbangan dari kantor filantropisnya, ia mencoba mencermati dan menilai Afrika dari sisi dirinya.

Dia memarkir jipnya di rumah kepala desa setempat, dan mereka duduk di luar rumah sederhana yang berdebu, dan dikerdilkan oleh kendaraan hitam mengilat. Ketika keduanya berbasa-basi dan minum air kelapa, orang Amerika melihat sekelompok anak-anak membawa botol-botol plastik besar yang kosong di kejauhan.

Baca juga :  “Doa Bapa Kami di Surga” Bimo Petrus dan Novel Ibunda

“Kemana anak-anak itu menuju?” Dia bertanya, terkejut oleh pemandangan itu. “Bukankah seharusnya mereka di sekolah?”

“Mereka akan mendapatkan air dari sungai untuk keluarga mereka,” jawab kepala desa. “Mereka pergi setiap minggu sekitar waktu ini. Satu jam ke sungai, dan satu jam kembali. Sekolah akan dimulai ketika mereka kembali dalam dua jam.”

Orang Amerika merasa menemukan momen eureka. Dia mengidentifikasi suatu kebutuhan, berpikir seperti pengusaha Barat: proposisi penjualannya yang unik adalah membangun pompa air di desa ini dan desa-desa terdekat lainnya. Bayangannya, anak-anak akan bisa bersekolah, mendapatkan pendidikan, dan sejahtera.

Dia menyimpan pikirannya sendiri, dan ketika kembali ke New York, dia menginstruksikan badan amalnya memasang pompa air dengan kerjasama pemerintah pusat. Badan amal itu mempekerjakan konsultan, insinyur, dan pakar lokal untuk mengimplementasikan “inisiatif strategis” tersebut. Dianggap strategis karena, pompa adalah kendaraan untuk perubahan.

Setahun kemudian, orang Amerika itu kembali ke desa Afrika. Kepala desa menyambutnya, seperti halnya para tetua. Dengan kehangatan semangat Afrika yang sejati, mereka mengucapkan terima kasih atas kontribusinya. Dalam bahasa sektor korporat dan amal, ini merupakan kunjungan M&E (pemantauan dan evaluasi).

Pompa air tampak baru dan bersih. Orang Amerika itu duduk dan berbicara sopan dengan penduduk desa. Tak lama kemudian, kerumunan anak-anak mulai keluar dari rumah mereka dengan botol-botol plastik kosong, dan miliarder menyaksikan ketika mereka menuju ke pompa. Tapi mereka terus berjalan seperti tahun sebelumnya: menuju sungai.

“Tapi mengapa? Sekarang mereka memiliki air di desa!”

“Mari kita bicara dengan penuh keyakinan,” kata kepala desa. Dia memberi isyarat kepadanya, sehingga jauh dari para staf.

“Sahabatku,” kata kepala desa, “Niat Anda mulia, tetapi Anda tidak bertanya kepada kami apakah kami membutuhkan air di desa. Pernahkah Anda melihat rumah kecil kami? Keluarga kami besar dan banyak yang tinggal bersama di kamar yang sama. Kami menyuruh anak-anak pergi untuk mendapatkan air, sehingga suami dan istri dapat sendirian untuk sementara waktu, dan berhubungan badan!”

Dari kisah itu, Ed Husain menggarisbawahi, bahkan miliarder Amerika itu telah melewatkan pengetahuan, nuansa, dan realitas kehidupan di Afrika Barat, dari dalam, dan tidak terpikir untuk mengungkapkannya. Dengan cara yang hampir sama, Barat saat ini tidak memahami Islam dan Muslim apa adanya.

Individualisme liberal Barat serba meluas: mempertanyakan Barat dianggap terbelakang dan primitif. Sementara Barat membanggakan dirinya sebagai yang progresif, Islam dipandang agama yang paling mundur. Ini diperburuk oleh citranya yang dikaitkan ekstremisme, terorisme, kebencian terhadap perempuan, dan bahkan perbudakan, yang memperkuat perasaan superioritas Barat.

*Dosen Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional, Jakarta.

2 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini