Indonesia Diguyur Sampah dari Luar Negeri

Total jumlah sampah Indonesia pada 2019 akan mencapai 68 juta ton. Dan sampah plastik diperkirakan mencapai 9,52 juta ton. Atau 14 persen dari total sampah yang ada.

%ef%bb%bfindonesia-diguyur-sampah-dari-luar-negeri
Menurut KLHK, total jumlah sampah Indonesia pada 2019 akan mencapai 68 juta ton. Dan sampah plastik diperkirakan mencapai 9,52 juta ton. Atau 14 persen dari total sampah yang ada. (Sumber Foto: CNN Indonesia).


Oleh: Wahyu Eka Setyawan*

Terakota.idIndonesia akan menghasilkan sampah sekitar 66 – 67 juta ton pada tahun 2019. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan jumlah sampah per tahunnya yang mencapai 64 juta ton. Menurut data The World Bank tahun 2018, 87 kota di pesisir Indonesia memberikan kontribusi sampah ke laut diperkirakan sekitar 1, 27 juta ton. Dengan komposisi sampah plastik mencapai 9 juta ton dan diperkirakan sekitar 3,2 juta ton adalah sedotan plastik (Erick Permana, 24 Januari 2019, AA.Com: Indonesia hasilkan 67 juta ton sampah pada 2019).

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menjabarkan di tahun 2019 ini, total jumlah sampah Indonesia pada 2019 akan mencapai 68 juta ton. Dan sampah plastik diperkirakan mencapai 9,52 juta ton. Atau 14 persen dari total sampah yang ada. Menurut KLHK perhitungan ini berangkat dari sebuah hipotesis yang nanti dipastikan jumlahnya. Berangkat dari sebuah abstraksi, jika menggunakan sampah yang dihasilkan setiap orang per hari sebanyak 0,7 kilogram, maka jumlah timbunan sampah rata-rata per hari di kota-kota metropolitan (dengan indikator penduduk lebih dari 1 juta) dan kota besar (dengan taksiran besaran penduduk sekitar 500 ribu-1 juta jiwa), dapat ditaksir secara kumulatif berada di angka 1.300 ton dan 480 ton (Koko Triarko, 30 Aguatus 2018, Cendananews: KLHK Perkirakan Jumlah Sampah pada 2019 Capai 68 Juta Ton).

Di sisi lain Direktur Pengelolan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Novrizal Tahar menginformasikan, jika dalam kurun waktu 2002-2016 telah terjadi peningkatan komposisi sampah plastik dari 11 persen menjadi 16 persen. Di beberapa kota besar bahkan komposisinya telah mencapai pada tataran angka 17 persen (Nabila, 6 Juni 2018, Kompas.com: Jumlah Sampah Plastik Terus Meningkat).

Pada konteks Jawa Timur di tahun 2017 saja menghasilkan 19 juta ton sampah, 20 persen di antaranya disumbang dari sampah non organik. Sementara dalam catatan lainnya, pemprov Jawa Timur mencatat ada sekitar 1,2 juta ton sampah plastik per tahun di Jawa Timur. Beberapa kota di Jawa Timur menghasilkan sampah yang cukup banyak.

Misal beberapa contoh, di kota Malang saja, dalam catatan Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang yang terekam warta Surya Malang tertanggal 4 Februari 2019, tercatat kota Malang menghasilkan 600 ton per hari. Dan jika di rata-rata jumlah sampah tersebut mampu menutup lahan sekitar 13 hektar per harinya. Sementara itu 1,6 ribu toh sampah per harinya dihasilkan oleh kota Surabaya.

Aneka kerajinan hasil daur ulang dari sampah plastik dan kertas karya siswa SMP Negeri 10 Kota Malang. (Terakota/Eko Widianto).

Di kota-kota yang notabene berskala kecil, seperti di kota Madiun telah terjadi peningkatan angka sampah. Dinas Lingkungan kota Madiun menyebutkan jika ada sekitar 100 ton per hari yang dihasilkan oleh kota ini. Dan mayoritas didominasi oleh sampah plastik. Di kota Kediri sendiri pada bulan Februari 2019, Dinas Lingkungan Hidup kota Kediri menyebutkan jika ada produksi sampah sebesar 145 ton per harinya, dengan abstraksi awal setiap orang menghasilkan sampah sekitar 0,5 kg per harinya.

Selain problem sampah yang dihasilkan dalam ranah lokal atau domestik, Indonesia juga menghadapi sampah kiriman dari luar negeri. Sebagaimana hasil penelitian Ecoton, yang menyebutkan jika sampah impor memperkeruh problem pengelolaan sampah di Indonesia. Setidaknya ada peningkatan impor sampah khususnya untuk kebutuhan industri kertas, dari tahun 2017 sebesar 546 ribu ton menjadi 739 ribu ton di tahun 2018, 35 persen di antaranya merupakan sampah plastik. Tentu selain itu, banyak juga sampah-sampah yang didatangkan dari luar negeri ke Indonesia. Kita masih ingat di tahun 2017-2018 sungai di Surabaya tercemari sampah popok impor dari Korea Selatan, yang masuk kategori bahan berbahaya dan beracun.

Sampah dan Aneka Penyebab Masalah

Persoalan sampah di Indonesia pada dasarnya bukan masalah tunggal. Ada beberapa kerangka kontekstual yang bisa dijadikan basis analisis. Khususnya untuk mengurai problem tumpukan sampah di Indonesia. Pada tahun 2015 saja Jambeck, dkk (2015) mengatakan Indonesia sebagai penghasil sampah terbesar kedua setelah China di perairan dengan angka sekitar 187, 2 juta ton.

 Hal itu juga berkaitan dengan data dari KLHK yang mengungkapkan ada sekitar 10,95 juta lembar sampah plastik dengan luasan 65,7 hektar sampah plastik dalam setahun. Hal ini sejalan dengan keberadaan sekitar 100 toko ritel yang tergabung dengan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo). Selain itu, sekitar 60-70 persen manusia menghasilkan sampah organik, sementara 30-40 persen sampah anorganik. Dari 30-40 persen tersebut sampah plastik menjadi faktor yang cukup dominan. Ini dapat dilihat dari sebaran sampah berupa kantong kresek, atau kemasan makanan (Pramiati, 2016).

Jika dilihat secara seksama, salah satu yang menjadi penyebab problem sampah di Indonesia ialah terkait faktor konsumsi. Di era yang semakin pragmatis, plastik menjadi pilihan utama karena harganya murah. Namun, di satu sisi menyebabkan problem yang sulit untuk ditangani. Karena pada dasarnya plastik tidak dapat diurai dan mencemari tanah, air dan lingkungan yang ada. Perilaku konsumtif ini menjadi salah satu implikasi dari faktor produksi konsumsi, yang mana ada linieritas antara permintaan dan penawaran, yang sejalan dengan perubahan gaya hidup (Baudrillard, 1970).

Namun bukan itu saja problemnya, persoalan paradigma antroposentris ini menjadi hal yang benar-benar determinan dalam pengelolaan sampah. Misalnya masih menitikberatkan pada manusia, kebijakan-kebijakan yang masih memberikan celah untuk para orang-orang ‘terkait’ terutama para ‘pemodal’ menghindari dan mengakali suatu kebijakan. Misal kebijakan membayar tas kresek di minimarket yang pada beberapa kasus masih dapat diakali, dengan berasumsi rendahnya harga beli kresek.

Lalu, kebijakan anti tas kresek yang di satu sisi bagus, namun dalam praktiknya akan susah dalam pengawasannya. Di Bali dan daerah lain yang menerapka perda sampah, tentu harus belajar untuk konsisten dengan kebijakannya, terutama dengan pengawasan ketat dan adanya konversi plastik. Misal ke plastik organik yang sedang dikembangkan, atau tas belanja.

Problem lainnya ialah, mengenai pengelolaan sampah yang masih carut marut. Di beberapa kota problem TPA masih belum terselesaikan. Praktis mungkin hanya kota Surabaya yang dianggap berhasil. Namun, di sisi lain Surabaya pun masih menyisakan problem sampah, terutama di tempat pembuangan akhir. Tidak hanya itu pengelolaan sampah yang keliru juga akan menghadirkan implikasi lain. Semisal berdasarkan penelitian dari Wahyu Purwanta (2009), dari data IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) bahwa buangan sampah ke TPA hanya mencapai 80 persen.

Sementara dari SUSENAS 2004 sampah perkotaan sampai ke TPA sebesar 40 persen, perdesaan 1,5 persen dan total 18 persen sampah tertampung di TPA. Dari data Sustainable Waste Indonesia (SWI) mengungkapkan sebanyak 24 persen sampah di Indonesia masih tidak tertampung dan terkelola. Dari total 65 juta ton sampah yang diproduksi di Indonesia setiap hari, kurang lebih sekitar 15 juta ton mengotori ekosistem karena tidak tertampun di TPA dan terolah. Sedangkan, 7 persen sampah didaur ulang dan 69 persen sampah berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Di lain sisi Alisa Greenwood dan Robin. J Roth (2019) mengatakan persoalan sampah bukan hanya problem domestik. Tapi ada faktor kesenjangan, di mana ada kiriman sampah dari global north, istilah untuk negara maju ke global south atau negara berkembang. Persoalan ini menjadikan seolah-olah negara berkembang kurang kesadaran, namun di satu sisi negara maju ternyata membuang sampahnya ke negara tersebut. Ada kurang lebih 90 persen plastik di laut berasal dari 10 sungai, delapan sungai tersebut di antaranya terletak di wilayah Asia. Indonesia sendiri merupakan negara penghasil plastik terbesar kedua setelah China, disusul Filipina di posisi ketiga, lalu Thailand, dan Vietnam.

Berdasarkan kumpulan berita terkait sampah menunjukkan bahwa negara seperti Kanada, Amerika Serikat, Inggris, dan Australia berjuang keras sepanjang 2018 untuk menemukan solusi untuk masalah sampah. Dan tercatat dari hasil residu negara tersebut,sebagian besar dari limbah plastik dialihkan ke negara-negara di Asia, termasuk di dalamnya ada Indonesia, Filipina, Thailand, Malaysia, dan Vietnam. Bahkan empat di antaranya adalah negara dengan tingkat pencemaran tertinggi. Hal ini pun sama dengan hasil penelitian yang dilakukan Ecoton terkait peningkatan sampah impor.

Gambaran Umum Mengatasi Problem

Persoalan sampah tidak bisa diselesaikan dengan kedipan mata, atau dengan jargon-jargon penyemangat ala motivator. Namun perlu tindakan konkrit dan sistematis, baik dilakukan oleh komunitas atau mendorong dalam tataran politik. Salah satu yang bisa diterapkan di masyarakat ialah konsep 3R, yakni reuse (seperti memakai kembali barang bekas yang masih bisa dipakai atau dimanfaatkan), reduce (mengurangi keberadaan sampah) dan recycle (mendaur ulang sampah agar bisa dimanfaatkan). Peran masyarakat sangat penting untuk mengelola sampah, khususnya yang dimulai dari rumah tangga. Sehingga nantinya sampah yang akan di buang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), akan berangsur tereduksi secara signifikan dan tidak menimbulkan implikasi berupa muatan berlebihan dalam TPA itu sendiri.

Peserta Jambore Indonesih Bersih dan Bebas Sampah 2018 membersihkan sampah di bataran sungai Brantas. (Terakota/Eko Widianto).

Lalu, di sisi lain perkembangan teknologi yang semakin pesat harus dimanfaatkan keberpihakannya. Seperti mendukung riset-riset yang berkaitan dengan reduksi sampah, atau penemuan bahan substitusi baru akan plastik, sebagaimana yang sedang dikembangkan oleh beberapa mahasiswa UGM. Atau mendukung gerakan dan tindakan pro utilisasi sampah, seperti gerakan ecobrick, pertanian organik, hingga bank sampah. Yang semuanya memiliki tujuan untuk mereduksi sampah plastik, dan meningkatkan daya dukung ekosistem.

Selain konsep umum tersebut, beberapa yang bisa didorong ialah penerbitan beberapa kebijakan. Misal perda tentang larangan penggunaan kantong plastik. Bahkan secara radikal meninjau ulang keberadaan perusahaan plastik atau perusahaan air mineral kemasan dan produk-produk lain. Artinya ada regulasi dan kebijakan yang lebih pro sosial-ekologis. Misal dengan menangguhkan izin eksploitasi air atau kawasan, meninjau ulang konsep industri wisata, hingga tegas dalam menghadapi korporasi-korporasi yang memiliki kaitan dengan perusakan lingkungan.

Namun, di satu sisi memang, baik pemerintah maupun komunitas masyarakat sipil harus bersinergi dalam menghadapi situasi ini. Berawal dari hal kecil, misalnya membiasakan kembali memakai air hasil olahan sendiri, atau seminim mungkin menghindari konsumsi plastik berlebihan.

Sumber Rujukan

Alisa Greenwood & Robin.J Roth. 31 Januari  2019. Plastic in the oceans is not the fault of the Global South. The Conversation. https://theconversation.com/plastic-in-the-oceans-is-not-the-fault-of-the-global-south-110247

Erick Permana. 24 Januari 2019. Indonesia hasilkan 67 juta ton sampah pada 2019.  AA.Com. https://www.aa.com.tr/id/headline-hari/indonesia-hasilkan-67-juta-ton-sampah-pada-2019/1373712

Koko Triarko. 30 Aguatus 2018. KLHK Perkirakan Jumlah Sampah pada 2019 Capai 68 Juta Ton. Cendananews. https://www.cendananews.com/2018/08/klhk-perkirakan-jumlah-sampah-pada-2019-capai-68-juta-ton.html

Nabila Tashanra. 6 Juni 2018. Jumlah Sampah Plastik Terus Meningkat.  Kompas.com. https://lifestyle.kompas.com/read/2018/06/06/091700620/jumlah-sampah-plastik-terus-meningkat?page=all

Referensi

Baudrillard, J. (2016). The consumer society: Myths and structures. Sage.

Jambeck, J. R., Geyer, R., Wilcox, C., Siegler, T. R., Perryman, M., Andrady, A., … & Law, K. L. (2015). Plastic waste inputs from land into the ocean. Science, 347(6223), 768-771.

Purwaningrum, P. (2016). Upaya mengurangi timbulan sampah plastik di lingkungan. Indonesian Journal of Urban and Environmental Technology, 8(2), 141-147.

Purwanta, W. (2016). Penghitungan emisi gas rumah kaca (GRK) dari sektor sampah perkotaan di Indonesia. Jurnal Teknologi Lingkungan, 10(1), 1-8.

Penulis (Sumber: Dok. Pribadi)

*Aktivis Walhi Jatim dan Pegiat Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam FNKSDA).

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini